Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

Perluasan Areal Tanam Baru Kedelai melalui Budidaya Jenuh Air

Sumber Gambar: http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id

Kebutuhan akan komoditi kedelai meningkat setiap tahunnya sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, berkembangnya industri pangan dan pakan. Produksi yang dihasilkan belum bisa memenuhi untuk kebutuhan tersebut. Untuk itu produksi kedelai perlu ditingkatkan setiap tahunnya melalui program pengelolaan produksi tanaman aneka kacang.
Kedelai merupakan salah satu komoditas strategis di Indonesia. Kedelai komoditas palawija yang kaya akan protein nabati memiliki kegunaan beraneka ragam antara lain sebagai bahan industri dan pakan ternak. Produksi kedelai saat ini mencapai 2,5 juta ton, Sementara produksi dalam negeri mampu mencukupi 38-40%, sehingga kekurangannya dicukupi dari import. Peningkatan produksi kedelai di Indonesia masih cukup besar baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan tanam. Peluang Peningkatan Produktivitas dicapai melalui penerapan teknologi specific lokalita serta tersedianya benih bermutu kedelai sebanyak 50-75 kg/ha dengan hasil 1,8-4,2 ton/ha. Perluasan areal yang dimaksudkan untuk menambah areal kedelai dapat juga dilakukan melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) pada lahan sawah, lahan kering, lahan pasang surut dan lahan bukaan baru.
Mendongkrak Produktivitas Melalui Teknologi Budidaya Jenuh Air (BJA) di Pasang surut
Budidaya jenuh air adalah penanaman dengan memberikan irigasi terus menerus sampai panen dan membuat tinggi tetap, sehingga lapisan di bawah jenuh air. Penerapan BJA kedelai dapat dilakukan baik pada lahan rawa baik rawa lebak maupun pasang surut. Potensi lahan pasang surut di sekitar 20,1 juta ha, dimana 95,3 juta ha dijadikan lahan pertanian dan 2 juta ha untuk kedelai. Berdasarkan hasil penelitian IPB, Produktivitas kedelai melalui penerapan teknologi BJA bisa mencapai 4 ton/ha, sedangkan pada skala luas produktivitas kedelai minimal dapat mencapai 2,5 ton/ha.
Hal yang harus disiapkan dalam penerapan teknologi adalah tata air, sehingga pemilihan lokasi dengan jaringan irigasi yang mewadahi sangat penting. Penerapan teknologi BJA sebagai berikut: a. Lahan disiapkan dengan system surjan sedangkan lahan untuk pertanaman kedelai di bedeng dengan lebar 2-8 m dengan kedalaman saluran drainase 25 cm dengan lebar 30 cm. jarak antar saluran 4 m. b.Pengaturan tinggi muka air di saluran drainase dianjurkan 10-20 cm dari permukaan tanah, dilakukan olah tanah ringan serta pemberian kapur pertanian yang berfungsi untuk menurunkan kadar pirit (FeS2) dan meningkatkan pH tanah pada saat teroksidasi.c. Tanam di tunggal sedalam 5 cm dengan lebar 3 cm dengan jarak tanam 40x15 cm antar baris, 2 biji /lubang. d.Varietas kedelai yang sesuai lahan pasang surut antara lain Tanggamus, Anjasmoro , Slamet, Ijen dan Wilis. Perlakuan benih dengan pupuk hayati rhizobium diberikan pada lahan yang belum pernah ditanami kedelai.e.Pupuk anjuran pada teknologi BJA meliputi NPK 100kg/ha, SP-36 150 kg/ha, urea 30 kg/ha , KCl 30 kg/ha, atau Jenis dan takaran pupuk disesuaikan dengan kondisi atau kesuburan tanah berdasarkan analisis tanah.f.Pengendalian gulma dengan penyiangan intensif sedangkan untuk pengendalian hama /penyakit dilakukan sesuai kebutuhan. g.Perlakuan benih dengan pupuk hayati rhizobium diberikan pada lahan yang belum pernah ditanami kedelai 20 gram/kg benih.
Budidaya kedelai Jenuh air pernah dicoba oleh Profesor Doktor Ir. Munif Ghulamahdi, MS, hasilnya menunjukkan jumlah polong kedelai jenuh air meningkat 8 kali lipat dibandingkan tanpa perairan. Per tanaman terkadang diproleh 400 polong. Padahal umumnya setiap tanaman hanya menghasilkan 33-64 polong. Ternyata suhu juga menentukan untuk meningkatkan jumlah polong kedelai. Suhu optimum berkisar 27,7-34,40C . Selain dapat menghasilkan kedelai dalam jumlah banyak, ternyata kelebihan lain budidaya jenuh air di lahan pasang surut dapat mengatasi masalah pirit.
Dalam pengolahan lahan , mula-mula membalik tanah sedalam 5 cm dengan bajak atau cangkul. Dua minggu sebelum tanam, ditabur pupuk dasar berupa 2 ton dolomit, 2,5 ton pupuk kandang, 400 kg SP dan 100 kg KCl di sehektar lahan. Sebelum menanam dilakukan perlakuan pra tanam terhadap benih kedelai dengan mencampurkan 5 gram inoculant Rhizobium dan insektisida kontak bernhan karbonat sebanyak 15 gram per kg benih kedelai. Kebutuhan benih 50 kg per hektar . Setelah 2 dan 4 minggu pasca tanam, dilakukan penyemprotan 7,5 garam urea per liter air . Permukaan air di parit diupayakan tetap stabil setinggi 20 cm sejak tanaman berumur 14 hari sampai polong berwarna coklat atau sekitar 70 hst (hari setelah tanam).
10 hari sebelum panen lahan dikeringkan, dengan tujuan untuk memudahkan panen. Panen dilakukan pada umur 90 hst dan hasilnya 1,72-4,63 ton kedelai per hektarnya.
Seperti disampaikan Prof Munif, bahwa kualitas kedelai local Indonesia jauh lebih bagus dari kedelai impor. Kedelai local memiliki jenis non transgenick atau masih alami karena hanya sekali persilangan.
Demikian teknologi budidaya kedelai jenuh air yang sudah diterapkan dan hasilnyapun cukup memuaskan. Semoga dapat diterapkan di seluruh wilayah yang kondisinya sama.Yulia Tri S
Email: yuliatrisedyowati@gmail.com
Sumber:
1. Direktorat Budidaya Aneka kabang dan Umbi, 2015
2. Buku saku Peningkatan Produksi Kedelai melalui Teknologi Budidaya Jenuh Air
3. http://www.jitunews.com/read/8987/teknik-jitu-menanam-kedelai-dengan-inovasi-baru-budidaya-jenuh-air

Tanggal Artikel Diupload : 10-07-2018
Tanggal Cetak : 19-09-2018

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386