Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

Mengupayakan Swasembada Kedelai dengan Pemanfaatan Lahan Hutan

Sumber Gambar: http://kabar-agro.blogspot.com

Hutan merupakan salah satu target pemerintah untuk memperluas areal pertanaman kedelai untuk budidaya di bawah tanaman hutan. Petani tentunya harus mengetahui caranya tentunya.
Kedelai kalau ditanam di hutan, namanya ditumpang-sarikan. Tumpang sari tersebut biasanya dilakukan pada pertanaman tunggal (monokultur) suatu sewaktu tanaman pokok hutan masih kecil atau belum produktif. Dalam kehutanan, kombinasi pertanaman antara tanaman semusim dengan pohon hutan dikenal sebagai wana tani. Pola penanaman tumpang sari dapat memaksimalkan lahan dibandingkan pola monokultur karena: a. Hasil panen pada lahan tidak luas bisa beberapa kali dengan usia panen dan jenis tanaman berbeda, b.petani mendapat hasil jual yang saling menguntungkan atau menggantikan dari tiap jenis tanaman berbeda dan, c. risiko kerugian dapat ditekan karena terbagi pada setiap tanaman. Keuntungan pengembangan kedelai di lahan kawasan hutan juga antara lain a. mampu memasok nitrogen alami bagi tanaman kedelai dan jati muda, sehingga produktivitas lahannya meningkat, b. mencegah erosi tanah dan air limpasan (run off), c. memberikan tambahan pendapatan bagi petani sebelum jati ditebang, dan d. mampu menunjang program Jalur Benih Antar Lapangan dan Musim (Jabalsim) untuk kedelai, sehingga dalam penyediaan benih dapat dilakukan dengan baik untuk memenuhi kebutuhan benih antar wilayah penanaman secara berkelanjutan antara lahan sawah dan lahan lahan kering.
Disamping itu penggunaan pupuk majemuk dalam tumpang sari lebih menguntungkan karena: lebih murah dibandingkan dengan pupuk tunggal dan, b. pemakaiannya sekali.
Namun sistem teknologi model tersebut masih sedikit orang yang melaksanakannya. Oleh karena itu maka perlu untuk dijelaskan kepada petani. Adapun langkah-langkah nya sebagai berikut: a. Penyiapan Lahan, tanah diolah 1-2 kali (tergantung kondisi tanah).Jika curah hujan cukup tinggi dan berpotensi tergenang, maka perlu dibuat saluran drainase setiap 3-4 meter, sedalam 20-25 cm, sepanjang petakan. Pada lahan yang baru pertama kali ditanami kedelai, benih perlu dicampur dengan rhizobium. Apabila tidak tersedia inokulan rhizobium (seperti Rhizoplus atau Legin), dapat digunakan tanah bekas pertanaman kedelai yang ditaburkan pada barisan tanaman kedelai. b. Pemberian Kapur,kapur atau dolomit perlu diberikan untuk tanah-tanah yang masam. Dolomit selain meningkatkan pH, juga menambah kandungan Ca dan Mg. Takaran yang dianjurkan adalah setengah dari Al-dd (Aluminium yang dapat dipertukarkan); disebar rata bersamaan dengan pengolahan tanah atau paling lambat 2-7 hari sebelum tanam. Di berbagai daerah lahan masam takaran dolomit yang diperlukan umumnya 1-1,5 ton/ha. Jika diaplikasikan dengan cara disebar sepanjang alur baris tanaman, maka takaran dolomit dapat dikurangi menjadi hanya 1/3 dari takaran semula. Jika dibarengi dengan pemberian pupuk kandang 2,5 ton/ha, takaran pengapuran cukup 1/4 dari Al-dd (500-750 kg dolomit/ha). c. Penanaman,lubang tanam dibuat dengan cara tugal kedalaman 2-3 cm. Jarak tanam 40 cm x 15 cm. Benih kedelai ditanam dua biji per lubang, ditutup dengan tanah ringan atau abu. d. Benih, benih yang digunakan Varietas unggul kedelai yang berumur genjah 78 hari yaitu Grobogan dan Argomulyo. Selain itu juga varietas kedelai berumur sedang 85 hari yaitu Anjasmoro, Kaba, Wilis. e. Pemupukan, pupuk tunggal diberikan dengan takaran 75 kg Urea, 100 kg SP36 dan 100 kg KCI per hektar, atau dapat juga diberikan 150-200 kg phonska/ha + 100 kg SP36/ha. Semua pupuk tersebut paling lambat diberikan pada saat tanaman umur 14 hari. Pemberiannya dengan cara disebar dalam larikan. f. Pengendalian hama dan penyakit, disesuaikan dengan hama/penyakit yang menyerang. g. Pengendalian gulma, penyiangan perlu dilakukan dua kali pada umur 15 dan 45 hari. Pengendalian gulma secara kimia dengan herbisida dapat dilakukan sebelum pengolahan tanah. Herbisida dapat pula disemprotkan segera setelah tanam dengan syarat benih ditutup dengan tanah pada saat tanam dan herbisida yang digunakan adalah jenis kontak. h.Pembumbunan, dilakukan bersamaan penyiangan pertama. i. Panen, kedelai panen tergantung varietas yang ditanam, dengan ditandai daun dan polong mulai menguning dan kering. Sedangkan penanganan pasca panen, brangkasan kedelai dijemur dan bila sudah kering dilakukan perontokan. Biji dijemur hingga kadar kekeringannya mencapai sekitar 14-15 %, kemudian dikemas dan disimpan.
Berdasarkan hasil percobaan Balitkabi, kedelai yang ditanam bersama pohon jati bisa menghasilkan 2 ton/ha. Jadi ditanam di lahan hutan, ternyata juga memberikan hasil yang cukup baik. Yulia Tri S
Email: yuliatrisedyowati@gmail.com
Sumber:
1. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia melalui Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi).
2. Direktorat Budidaya Aneka kabang dan Umbi, 2015
3. http://bertanibeternak.blogspot.com/2012/01/budidaya-kedelai-di-hutan-jati.html

Tanggal Artikel Diupload : 10-07-2018
Tanggal Cetak : 19-09-2018

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386