Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

Mengupayakan Tetap Ekspor Jagung

Sumber Gambar: mediagaruda.co.id

Jagung selain ditanam di persawahan bisa juga ditanam dilahan kering, dan pasang surut.oleh karena itu guna mengupayakan agar negara kita tetap ekspor selalu, maka sudah tentu lahan kering maupun pasang surut harus kita optimalkan pemanfaatannya diantaranya untuk penanaman jagung. Penanaman jagung dilahan kering, pemenuhan kebutuhan airnya sepenuhnya tergantung curah hujan. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, dibutuhkan penanganan yang lebih, dalam hal : pemilihan varietas, pengaturan pola tanam, penyiapan lahan, penanaman, pemupukan, penyulaman, penjarangan, penyiangan, pembubunan, pengairan dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Untuk lebih jelasnya diurai sebagai berikut:
1. Pemilihan Varietas
Jagung yang ditanam di lahan kering, lahan persawahan maupun dilahan pasang surut dapat menggunakan varietas unggul bersari bebas atau varitas unggul hibrida. Beberapa varitas bersari bebas yang dapat dipakai adalah Rama, Wisanggeni, Bisma, Wiyasa, Arjuna dan Kalingga. Sementara Varietas Hibrida yang dianjurkan seperti Nakula Sadewa 29 atau kalau belum banyak dipasaran bisa Pioneer-3, pioneer-4, pioneer-5, bisi-1, bisi-2. Atau bisa juga yang diproduksi oleh swasta ada yang berpotensi sampai 15 ton/ha.
Selain varietas tentunya yang harus diperhatikan persiapan benih. Benih yang baik ciri-cirinya adalah bebas hama dan penyakit, daya tumbuh di atas 80%, biji sehat (berisi, tidak keriput dan mengkilap), tidak ada campuran varietas lain dan penampilan seragam.
2. Pengaturan Pola Tanam
Pola tanam jagung dapat dengan sistem tanam tunggal, ganda atau tumpang sari dengan tanaman lain. Pola tanam tentunya berdasarkan kondisi iklim lokasi penanaman. Untuk lahan kering beriklim basah dianjurkan menggunakan tumpang sari dengan padi gogo genjah atau ubi kayu-kacang tanah/kedelai-kacang hijau. Untuk lahan kering beriklim kering dapat diterapkan tumpang sari dengan kacang tanah/kedelai-kacang hijau atau kacang tunggak-bera.
3. Penyiapan lahan
Jagung yang ditanam dilahan persawahan perlu dilakukan pengolahan lahan. Penanaman dilahan irigasi dilakukan saat musim kemarau dengan sistim tugal atau persemaian apabila kondisi tanah berdrainase jelek. Benih jagung ditanam tiap satu lubang satu benih.Umumnya dengan bedengan lebar 1m berisi dua baris tanaman.
Jagung yang ditanam dilahan pasang surut merupakan cara yang potensial karena di-Indonesia banyak lahan yang belum dimanfaatkan. Penanaman dilakukan dengan meningkatkan kesuburan tanah dan menaikkan PH tanah yang umumnya rendah ( 3-5 ) melalui pemberian kapur dan fosfat. Pengapuran dengan dolomite dilakukan pada lahan yang bersifat sulfat masam dan lahan gambut sebanyak 1 ton / hektar. Proses pengapuran dilaksanakan bersamaan dengan saat pengolaha tanah.
Penanaman yang baik adalah dilahan yang tidak terluapi air pasang dan kedalaman air tanah kurang dari 50 cm.
Jagung yang akan ditanam dilahan pasang surut perlu dibuatkan guludan pada lahan dengan tinggi kurang lebih 30 cm dari permukaan air pasang tertinggi.
Dalam persiapan lahan ini tentunya tidak lepas dari kegiatan pengolah tanah. Pengolahan tanah ada beberapa cara antara lain
a. Pengolahan tanah sempurna dilakukan paling lambat seminggu sebelum tanam. Caranya, tanah dicangkul lalu digaru sampai rata
b. Untuk tanah yang sangat peka terhadap erosi dan dilakukan seminggu atau kurang dari seminggu sebelum tanam jagung. Caranya, buat barisan untuk persiapan tanam selebar 60 cm dan kedalaman 15-20 cm dengan menggunakan cangkul sebanyak dua kali. Lahan yang telah diolah kemudial ditugal dan benih langsung ditanam. Pengairan dilakukan saat tanaman berumur 25 hari.
c. Untuk lahan yang bertekstur ringan dan lahan yang airnya minim. Caranya, tanah dicangkul untuk lubang tanam, lalu diberi mulsa untuk mengatasi erosi dan menekan gulma. Untuk mencegah kekurangan air, lahan penanaman dapat diberi mulsa dari jerami atau limbah lainnya. Diperlukan saluran air agar lahan tidak tergenang air. Tujuannya diberi mulsa untuk menghindari penguapan berlebihan.
4. Waktu dan cara penanaman
Penanam jagung sebaiknya dilakukan September-November dan Februari-April. Cara menanam jagung yaitu dengan cara penugalan dengan kedalaman tergantung kondisi tanah. Tanah lembab sedalam 2-3 cm, tanah kering sedalam 5-7 cm. Benih jagung per lubang 1-2 biji untuk jagung hibrida, sedangkan inbrida 2-3 biji/lubang.
5. Pemupukan
Pemupukan tanaman dilahan persawahan tidak jauh berbeda dengan pemupukan dilahan kering. Menggunakan pupuk berimbang (anorganik dan organik) dengan spesifik lokasi. Untuk pupuk organik diberikan sebanyak 2-3 ton/ha.
Jagung yang ditanam dilahan pasang surut dipupuk kandang kurang lebih 10 ton / hektar yang dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah setiap musim. Pemupukan dilakukan dengan cara larikan.
6. Penyulaman
Kegiatan penyulaman dilakukan setelah tanaman berumur 7-10 hari. Hal tersebut dilakukan jika ada tanaman yang tidak tumbuh ataupun mati atau kena serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
7. Penjarangan
Kebalikannya dari penyulaman adalah kegiatan penjarangan. Kegiatan ini dilakukan untuk mengurangi tanaman jika dalam 1 lubang tumbuh lebih dari 1-2 tanaman
8. Penyiangan
Penyiangan perlu dilakukan untuk mengendalikan gulma yang tumbuh diarea penanaman, dan itu dilakukan apabila pertumbuhan gulma dirasa mengganggu. Penyiangan dilakukan 2 kali, penyiangan pertama pada umur 10-15 hari setelah tanam (hst) dan penyiangan kedua pada umur 20-30 hst.
9. Pembubunan
Pembumbunan dilakukan setelah penyulaman, tujuannya supaya pertumbuhan tanaman dapat tegak dan kokoh, atau setelah penyiangan kedua.
10. Pengairan
Jagung membutuhkan banyak air pada saat pertumbuhan vegetatif hingga periode pengisian biji, dan akan berkurang kebutuhannya hingga periode pemasakan tongkol kebutuhan air berkurang. Sehingga saluran air harus difungsikan secara benar. Pada musim kemarau, diairi minimum seminggu sekali atau sebelum tanam layu. Jumlah air yang diberikan untuk setiap pemberian sebanyak 60 mm tinggi air.
11. Pengendalian OPT
Jagung juga tidak terlepas dari hama dan penyakit pada waktu pertumbuhannya. Terdapat banyak jenis hama yang menyerang jagung diantaranya adalah ulat tanah, lalat bibit, ulat grayak, penggerek jagung, penggerek batang, penggerek tongkol merah jambu, belalang, kutu daun, nematode dan lain-lain sementara penyakit yang menyerang jagung dapat disebabkan oleh jamur, bakteri, penyakit hawar daun, busuk pelepah, karat, bercak daun, busuk tongkol dan busuk batang. Cara pengendaliannya dengan penanaman varietas tahan hama dan penyakit, pemusnahan tanaman jagung yang sakit, pangaturan pola tanam dan penggunaan fungisida, sangat dianjurkan menggunakan pestisida hayati, agen hayati ataupun musuh alami yang penting utamakan ramah lingkungan.
12. Panen dan Pasca Panen
Jagung dipanen berdasarkan kebutuhannya. Untuk mendapatkan hasil panen yang optimal maka pemanenan harus dilakukan tepat waktu. Jagung dapat dipanen pada tingkat kemasakan yang berbeda. Apabila dipetik terlalu muda akan menghasilkan jagung yang memiliki kualitas dan daya simpan yang rendah sementara jagung yang dipanen terlalu tua akan menghasilkan jagung berkualitas rendah pula. Jagung siap dipanen jika telah terbentuk lapisan hitam di ujung biji (black layer) dan kulit tongkol sudah mengering. Untuk penyimpanan agar tidak mudah busuk dan tahan 3-4 bulan harus dikeringkan sampai kadar airnya 14-15%.
Jagung hasil panen apabila akan disimpan, terlebih dahulu dilakukan sortasi untuk memisahkan tongkol yang besar dan kecil yang dilanjutkan dengan pemipilan. Pemipilan bertujuan melepaskan biji dari tongkol, memisahkan kotoran, menghindarkan kerusakan dan memudahkan pengangkutan. Setelah dipipil butiran-butiran jagung dikeringkan. Jagung dikeringkan dengan tiga macam cara yaitu melalui bantuan sinar matahari, dengan bantuan alat mekanis dan diasap. Tujuan pengeringan adalah mencegah kerusakan, meningkatkan daya simpan dan mempertahankan vitalitas benih. Setelah kadar kekeringan mencapai 14%, jagung dimasukkan plastik kedap udara rapat dan disimpan di dalam gudang yang kering dengan alas papan.

Penyunting : Yulia TS
Email: yuliatrisedyowati@gmail.com
Sumber:
1. Mawardi, E., T. Sudaryono, M. Ali, dan Imran. 2007. Penelitian Pengembangan Agribisnis Jagung dan Kedelai di Pasaman Barat. Laporan Hasil Penelitian, Kerjasama BPTP Sumbar dan Bappeda Pasaman Barat.
2. Puslitbangtan. 1992. Jagung. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Bogor
3. Berbagai sumber

Tanggal Artikel Diupload : 10-07-2018
Tanggal Cetak : 16-07-2018

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386