Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

Kunci Sukses Budidaya Kacang Tanah

Sumber Gambar: pastiguna.com

Kacang tanah merupakan tanaman leguminosa biji (grain legume) yang adaptasinya lebih dominan pada wilayah bersuhu tinggi di negara-negara tropis. Kesesuaian tumbuh tanaman pada suhu dengan kisaran sangat sempit, antara 25o -30o C, menjadi pembatas penyebaran kacang tanah .Walaupun kacang tanah telah beradaptasi lama pada sistem
usahatani di Indonesia, namun komoditas ini belum pernah menjadi tanaman pokok yang diproduksi dalam skala luas. Produksi kacang tanah di Indonesia masih tergolong rendah. produksi kacang tanah di Indonesia
berkisar antara 1 – 1,3 ton/ha . Jika kita bandingkan dengan produksi Negara-negara tetangga seperti Filipina yang mampu memproduksi kacang tanah 3,05 ton/ha, Vietnam mampu 1,8 ton/ha, sedangkan kita hanya 1,3 ton/ha , namun kita masuk lebih tinggi dari pada Thailand yaitu 1,2 ton/ha.
Jika kita tidak memperbaiki system budidaya kita maka kita akan jauh ketinggalan dengan Negara tetangga bahkan kita menjadi target pasar Negara-negara tetangga. Negara Indonesia harusnya berbangga dengan luas wilayah yang begitu besar disbanding Negara-negara ASEAN lainnya akan tetapi kita masih terkendala serapan teknologi bagi petani masih rendah, sehingga informasi teknologi yang mempu meningkatkan produktivitas pertanian kita sulit tercapai, ditambah lagi dengan adanya politisasi bahan pangan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.
Usaha produksi kacang tanah di Indonesia terkait erat dengan usahatani skala kecil yang bersifat subsisten. Tidak pernah dijumpai petani menanam kacang tanah mencapai luasan 5 ha atau lebih, yang terbanyak pada skala 0,2 hingga 1,0 ha per petani. Kacang tanah hanya berstatus sebagai tanaman penyelang atau tanaman tumpang sari. Dibandingkan dengan tanaman komersial lainnya, budi daya kacang tanah termasuk paling lambat mengadopsi penggunaan alat mesin pertanian. Sempitnya skala usaha dan status kacang tanah sebagai tanaman penyelang, serta tidak terdapatnya tapak lahan khusus untuk kacang tanah, nampaknya menjadi hambatan pengadopsian teknologi maju. Teknik budi daya kacang tanah petani dalam 50 tahun terakhir belum banyak mengalami perubahan, hanya dalam aspek varietas yang kini tersedia lebih banyak pilihan. Akan tetapi, tersedianya teknologi berupa komponen varietas unggul, tanpa pengelolaan tanaman yang lebih baik, produktivitas tidak relatif berbeda dibandingkan dengan varietas lokal atau varietas unggul lama. Hal-hal tersebut nampaknya menjadi penyebab tetap rendahnya produktivitas kacang tanah di Indonesia. Oleh sebab itu maka dalam bercocok tanam kacang tanah harus memperhatikan hal-hal sebahgai berikut:
Pemilihan lahan:Lempung berpasir, Gembur atau agak gembur, pH 5,0-6,5, tanah latosol, andosol, regusol atau alluvial. Kemiringan datar dan atau10%. Iklim (CH optimum 100-200 mm per bulan, temperature 25o-30oC, tinggi tempat 0-500 m dpl. Pemilihan varietas: gunakan varietas unggul, sehat dan jelas asal usulnya dan itu disesuaikan lingkungan ketahanan terhadap hama dan penyakit dan kebutuhan pasar.Pola tanam kalau dilahan sawah irigasi setengah teknis : setelah padi, padi. Atau padi kacang tanah kemudian padi. Kalau lahan tegalan padi+jagung+kacang tanah kemudian kacang tanah+jagung. Bisa juga setelah jagung+ubikayu baru kacang tanah +ubi kayu. Atau bisa juga jagung +kedelai kemudian kacang tanah.
Penyiapan lahan, yang perlu diperhatikan tanah dibajak 2x sedalam 15-20 cm, lalu digaru dan diratakan, dibersihkan dari sisa tanaman dan gulma dan dibuat bedengan selebar 3-4 m. Antar bedengan dibuat saluran drainase dengan kedalaman 30 Cm dan lebar 20 cm yang berfungsi sebagai saluran drainase pada saat becek, dan yang berfungsi sebagai saluran irigasi pada saat kering. Jika tanah sudah gembur, tidak perlu diolah sempurna, cukup dilakukan penyemprotan herbisida untuk membersihkan gulma kemudian dilakukan pengolahan tanah minimal.
Penanaman, dilakukan dengan jarak tanam 40x15 cm, 40x10cm satu biji per lubang sehingga populasi tanaman sekitar 250.000 tanaman. Penanaman dengan cara di tugal 3-5 cm, kemudian lubang tanam ditutup dengan tanah.
Pemupukan, dilakukan dengan menggunakan urea 50kg, SP-36 50 kg, KCl 50 kg, serta pupuk bio(rhisonut 125 gr serta pupuk organik sesuai keperluan. Waktu pemberian pupuk terdiri atas pupuk dasar : semua pupuk bio (rhisonut) saat tanam dan ½ bagian urea, seluruh SP-36 dan KCl satu hari sebelum dan saat tanam. Pupuk susulan ½ bagian urea pada saat umur 21-24 HST. Cara pemupukan, pupuk bio dicampur dengan benih dan disemprot dengan air sebelum ditanam , pupuk dasar disebar merata saat pengolahan tanah akhit, pupuk susulan ditugal kiri kanan barisan tanaman sedalam 5-7 cm atau dengan system garit. Tanah yang bersifat masam atau pH tanah nya rendah, diberikan dolomit sebanyak 300-500 kg/ha dengan cara ditaburkan merata pada saat pengolahan tanah akhir.
Pemeliharaan, meliputi penyulahan, penyiangan , penyiraman dan pengendalian hama dan penyakit. Baiklah masing-masing dijelaskan sebagai berikut:
Penyulaman dilakukan bila ada benih yang mati atau tidak tumbuh dalam Waktu 3-7hari setelah tanam.
Penyiangan dilakukan dengan cara dicabut langsung gulmanya. Menurut hasil penelitian Wafit Dinarto dan Dian Astriani, ternyata hasil tertinggi pada penyiangan umur 14 dan 28 HST bisa menghasilkan 2,56 ton/ha.
Penyiraman dilakukan setiap dua hari sekali dengan cara menyiram air sedikit demi sedikit agar tidak mengganggu pertumbuhan kacang tanah. Yang perlu diperhatikan terkait penyiraman yaitu saat pertumbuhan generating sebab Di antara banyak penyebab rendahnya produktivitas kacang tanah, faktor yang dominan adalah cekaman kekeringan pada fase generatif dan penularan penyakit bercak daun dan karat daun. Cekaman kekeringan menambah tingkat keparahan penyakit tersebut. Cekaman kekeringan pada fase generatif dapat diatasi dengan cara menyesuaikan waktu tanam kacang tanah sehingga selama masa pertumbuhannya memperoleh curah hujan sekitar 300 mm secara merata, terutama pada fase generatif. Apabila memungkinkan, penambahan pengairan tiga-empat kali sejak masa berbunga hingga menjelang panen mampu menyediakan kelembaban tanah yang cukup untuk memperoleh produktivitas optimal.
Pengendalian hama penyakit, dilakukan secara bijaksana. Pilih varitas yang tahan hama penyakit di daerah setempat. Apabila hama tetap menyerang, dilakukan pencegahan secara mekanis dengan memungut hama secara menual atau bila serangannya di atas ambang ekonomi dilakukan penyemprotan dengan pestisida.
Panen dan Pasca panen, agar dilakukan tepat waktu, sebelum dicabut tanah lebih baik diari supaya muda dicabut. Perontohan polong bisa secara manual atau menggunakan mesin pemipil. Pengeringan harus sampai kadar air bisa mencapai 10-12%, kemudian disimpan secara baik.
Penyunting: Yulia Tri S
Email: yuliatrisedyowati@gmail.com
Sumber;
1. Direktorat Aneka kacang dan Umbi, 2015
2. Dinarto, W. Dan Dian A. 2012. Produktivitas Kacang Tanah di Lahan Kering Pada Berbagai Intensitas Penyiangan. AgriSains Vol. 3 No. 4 : (33-43)

Tanggal Artikel Diupload : 10-07-2018
Tanggal Cetak : 14-11-2018

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386