Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

DETEKSI BIRAHI, KETEPATAN WAKTU IB DAN PENANGGULANGAN GANGGUAN REPRODUKSI UNTUKMENINGKATKAN KEBUNTINGAN PADA SAPI POTONG

Sumber Gambar: berita2bahasa.com

Kegiatan peningkatan populasi melalui deteksi birahi dan ketepatan waktu IB serta penanggulangan gangguan reproduksi menjadi salah satu kegiatan untuk menuju swasembada daging. IB dan penanggulangan gangguan refroduksi cukup memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kebuntingan yang berpotensi meningkatkan kelahiran.
1. Deteksi Birahi Pada Sapi
Birahi atau estrus atau heat, didefinisikan sebagai periode waktu dimana sapi betina menerima kehadiran sapi pejantan untuk kawin. Lamanya waktu siklus birahi dari seekor hewan dihitung dari mulai munculnya birahi, sampai munculnya birahi lagi pada periode berikutnya. Sapi yang normal mengalami birahi pertama antara umur 1,5 – 2 tahun, namun di lapangan banyak juga ditemukan sapi betina yang mengalami birahi pertama pada umur diatas 2 tahun.
Sapi betina yang sedang birahi akan menampakan perilaku yang aneh aneh seperti sering gelisah,selalu berteriak, selalu agresif ;suka menaiki dan dinaiki sesamanya;tetapi nafsu makan berkurang; 'pada alat reproduksi seperti vulva betina nampak bengkak, berwarna merah, bila diraba terasa hangat Selaput lendir merah dan keluar lendir yang bening , adanya pangkal ekor yang diangkat merupakan pertanda bahwa seekor ternak sapi dalam keadaan birahi.
Lambatnya terlihat gejala birahi dapat merugikan peternak dari segi waktu, tenaga dan materi untuk itu perlu diperhatikan hal seperti a).menandai setiap ekor ternak yang sedang birahi dengan nomor yang cukup besar sehingga terlihat dari jarak 3 meter atau lebih,;b). Mencatat semua tanggal birahi pada kalender, "breeding wheel" atau dalam program perkawinan/ breeding. Periksa catatan tersebut setiap hari untuk mengetahui tanda-tanda birahi pada hari tersebut, c).Melakukan pengamatan birahi selama 25 menit, 2-3 kali sehari Ingat bahwa mayoritas birahi (standing heat) terjadi antara jam 4.00-6.00 sore 5.00 -7.00 pagi;,
Gejala - gejala birahi ini memang harus diperhatikan minimal 2 kali sehari oleh pemilik ternak. Jika tanda-tanda birahi sudah muncul maka sesegera mungkin melaporan kepada petugas/Inseminator tidak boleh menunda.. Waktu terbaik untuk menginseminasi adalah jika betina dalam keadaan standing heat, yaitu sebelum terjadi ovulasi.
Ketepatan deteksi birahi, peternak berperanan penting terhadap ketepatan deteksi birahi dan kecepatannya didalam melaporkan kepada inseminator, sehingga diharapkan inseminator dapat melakukan IB pada waktu yang tepat. Untuk itu peternak perlu mendeteksi birahinya sehari dua kali
2. Inseminasi Buatan (IB)
Inseminasi Buatan (IB) atau dalam istilah ilmiahnya disebut Artificial Insemination (AI) merupakan sistem perkawinan pada ternak sapi secara buatan yakni suatu cara atau teknik memasukkan sperma atau semen kedalam kelamin sapi betina sehat dengan menggunakan alat inseminasi yang dilakukan oleh manusia (Inseminator) dengan tujuan agar sapi tersebut menjadi bunting.
Inseminator merupakan petugas yang telah dididik dan lulus dalam latihan ketrampilan khusus untuk melakukan inseminasi buatan atau kawin suntik serta memiliki Surat Izin Melakukan Inseminasi (SIMI). Selain inseminator dari pemerintah ada juga inseminator mandiri yang berasal dari khalayak peternak atau masyarakat yang telah memperoleh pelatihan ketrampilan khusus untuk melakukan inseminasi buatan atau kawin suntik.
Semen adalah mani yang berasal dari sapi pejantan unggul yang dipergunakan untuk kawin suntik atau inseminasi buatan (IB).
3. GANGGUAN REPRODUKSI
Gangguan reproduksi yang umum terjadi pada sapi diantaranya : 1) Distokia (kesulitan melahirkan); 2) Retensi plasenta (plasenta tidak keluar); 3) Abortus (keguguran); 4) Kelahiran premature (sebelum waktunya).
Gangguan reproduksi lainnya, umumnya disebabkan oleh beberapa faktor : 1) cacat anatomi saluran reproduksi (defekcongenital), cacat congenitalbawaan lahir dapat terjadi pada ovarium (Hipoplasia dan Agenesis Ovarium) dan pada saluran reproduksi pada kasus Freemartin, yang menyebabkan sapi menunjukkan gejala anestrus dan steril (majir); 2) Ganguan fungsional (organ reproduksi tidak berfungsi dengan baik) disebabkan oleh adanya abnormalitas hormonal seperti pada kasus : (a) Cista Ovarium;(b) Birahi tenang; (c) Anestrus; (d) Ovulasi tertunda.;3) Infeksi organ reproduksi berupa Infeksi Non Spesifik seperti Endometritis (radang uterus), Pyometra (radang uterus bernanah), Metritis, Cervicitis, Indurasi Servik (pengerasan servik), dan Veginitis. Sedangkan infeksi spesifik diantaranya penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, protozoa, jamur dan lain-lain seperti Penyakit Brucellosis, Leptospirosis, Vobriosis, Tuberkulosis, IBR,BVD, Trichomoniasis.;4) Kesalahan manajemen.
Gangguan reproduksi dapat diantisipasi dengan memperhatikan beberapa faktor diantaranya, 1) seleksi genetik, 2) manajemen pakan yang baik sehingga dapat mendukung kesuburan saluran reproduksi, 3) manajemen kesehatan yang baik meliputi kesehatan sapi (program vaksinasi dan kesehatan), kebersihan kandang dan lingkungan (sanitasi dan desinfeksi) sehingga dapat dicegah atau diminimalisasi berkembangnya agen pengganggu kesehatan sapi, serta 4) penanganan gangguan reproduksi secara serius sehingga mengurangi kejadian trauma fisik yang bisa menjadi faktor predisposisi gangguan reproduksi. (Suwarna-BPPSDMP)
Sumber bacaaan : dari berbagai hasil kajian dan tulisan.

Tanggal Artikel Diupload : 18-12-2017
Tanggal Cetak : 21-01-2018

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386