Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

Perawatan Gabah Basah

Sumber Gambar: www.google.com

Panen padi bisa saja terjadi pada musim hujan, sehingga gabah hasil panen menjadi basah. Agar gabah hasil panen tidak rusak dan kualitas beras tetap baik, maka gabah perlu ditangani secara baik. Akibat tidak munculnya sinar matahari, terbatasnya lanjai jemur, sulitnya mendapatkan mesin pengering, dan biaya pengeringan mahal mengakibatkan banyak petani mengalami kesulitan menyelamatkan gabah hasil panen, sehingga gabah yang dihasilkan menjadi rusak dan berkecambah. Oleh karena itu diperlukan teknologi perawatan gabah basah yang murah, sederhana, dan mudah diterapkan. Pada prinsipnya tujuan perwatan gabah adalah mengendalian percepatan transpirasi, oksidasi dan infeksi hama dan penyakit. Perawatan gabah dapat dilakukan antara lain dapat dilakukan dengan mengurangi kadar air sampai kadar air simpan atau menghambat kenaikan suhu dalam tumpukan gabah dengan menggunakan zat higroskopis.
Alat Pengering Gabah
1. Silo Pengering Sirkuler (SPS)
Adalah alat pengering gabah yang terbuat dari kerangka besi siku dan besi plat strip. Dinding luar SPS, dasar dan tutup silo, terbuat dari seng plat dengan tebal 2 mm. SPS mempunyai diameter 20 m, terdiri dari tiga ruangan berbentuk silindris untuk tempat gabah. Masing-masing ruangan dipisahkan untuk menyalurkan udara panas yang berjarak 10 cm. Jarak alas silo dari permukaan tanah 70 cm dengan tinggi silinder 150 cm. Tutup silo bebentuk kerucut setinggi 50 cm dilengkapi dengan cerobong berbentuk silinder berdiameter 27 cm dan tinggi 40 cm. Pada lubang cerobong dipasang blower exshaust untukmenghisap udara lembab dari dalam silo. Seluruh dinding silo terbuat dari kawat kasa sehingga aliran udara panas dapat menembus timbunan gabah. Sumber panas silo menggunakan kompor tekan smawar dengan diameter 12-13 cm, dengan kapasitas tangki minyak 20 liter. Kapasitas SPS adalah 1.000 kg gabah basah.
Pengisian gabah dilakukan dari atas dan diisi sampai penuh, kemudian ditutup dan kompor smawar dinyalakan. Selama pengeringan, suhu ruang di bagian bawah sekitar 40oC-41oC, sedangkan suhu di bagian atas 42oC-43oC. Agar kecepatan pengeringan merata, maka setiap tigam sekali dilakukan pembalikan dengan cara menurunkan separuh dari total gabah, kemudian dimasukkan lagi ke bagian atas. Pengisapan udara lembap dari dalam silo dilakukan setiap setengah jam sekali selama 10 menit dapat menurunkan kadar air gabah dari 26,5% menjadi 16,5% dalam waktu 6 jam, sedangkan kadar air 15% dapat dilakukan pengeringan selama 9 jam. Kebutuhan minyak adalah sebanyak 2 liter/jam. Secara keseluruhan pengeringan gabah dengan menggunakan silo membutuhkan minyak sebanyak 12 liter.
Beras yang dihasilkan dengan pengeringan cara ini cukup baik, dengan rendemen beras giling 66,3%-67,2%, kadar beras kepala 93,4-95,0%, beras pecah 2,5%-3,3%, beras rusak 1,0%-1,3%, dan tidak ada butir kuning.
2. Pengering Gabah ABC
Pengering gabah ABC dirancang untuk mengeringkan gabah dengan kapasitas menengah (5 ton gabah) dengan baiaya murah, sehingga dapat bersaing dengan cara penjemuran. Prinsip kerja pengering ABC sama dengan pengering flat bad dryer, yaitu udara panas dilewatkan melalui tumpukan gabah sehingga gabah menjadi kering. Pengering ABC menggunakan bahan bakar sekam dan pemanaan udaranya tidak langsung.
Gabah sebanyak 5 ton pada kadar 22,5% dimasukkan ke dalam bak pengering diratakan dengan ketebalan 50 cm, selanjutnya tungku dinyakalan dan blower dihidupkan. Pengeringan gabah dari kadar air 22,5% menjadi 17,9% memerlukan waktu 3 jam, sedangkan untuk mencapai kadar air gabah 14% diperlukan waktu pengeringan selama 6 jam. Proses pengeringan berlangsung pada suhu plenum 42,7oC dan kecepatan udara 6,5 m/menit dengan kebutuhan sekam sekitar 200 kg, dan beras yang dihasilkan bermutu baik.
3. Pengering Gabah bad dryer
Alat pengering gabah tersebut terdiri dari tiga bagian, yaitu mesin pemanas, ruang gabah, dan plenum. Sebelum bad dryer digunakan terlebih dulu bersihkan ruang gabah, kemudian masukkan gabah ke dalam ruang gabah, ratakan dengan ketebalan 50 cm. Setelah gabah diisi kemudian mesin pemanas dinyalakan dan ataur suhu plenum maksimal 42oC agar tekanan dan suhu panas dapat menyebar merata sehingga semua bagian lapisan gabah dapat hembusan angin panas. Untuk mengetahui udara bisa menembus gabah yaitu dengan meletakkan kertas di atas gabah, apa bila kertas terbut dapat bergerak-gerak menandakan bahwa udara panas bisa menembus lapisan gabah.
Untuk mengetahui kadar air gabah setiap saat diambil contoh dengan menggunakan alat sampel, sehinga setiap lapisan gabah terjamah oleh alat tersebut sehingga akan diketahui kadar air gabah rata-rata mencapai 14%, maka mesin pemanas dihentikan, namun blower tetap dhidupkan agar suhu gabah menjadi dingin dan siap dimasukkan dalam karung untuk disimpan.
Ruslia Atmaja
Sumber : Bbpadi-Badanlitbang Pertanian

Tanggal Artikel Diupload : 13-09-2017
Tanggal Cetak : 21-09-2017

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386