Materi Lokalita >> SUMATERA UTARA >> KABUPATEN LANGKAT >> BP3K Panai Tengah

TUMBUHAN HIJAU BERACUN BAGI TERNAK DAN DIAGNOSIS KERACUNAN TANAMAN PADA TERNAK

Sumber Gambar:

TUMBUHAN HIJAU BERACUN BAGI TERNAK
DAN
DIAGNOSIS KERACUNAN TANAMAN PADA TERNAK

I. PENDAHULUAN

Tumbuhan hijau beracun bagi ternak dan bagi manusia yang ada di alam sangat banyak jenisnya dan banyak pula terdapat didaerah sekitar kita yaitu sebagai : rumah tanaman, bunga tanaman garden, nabati garden tanaman, tanaman hias, pohon dan semak, tanaman didaerah berhutan, dan tanaman dibidang. Sebab ada 700-an species poisonous plants diluar sana yang berbahaya bagi manusia dan hewan tentunya.
Pengetahuan tentang ilmu tumbuhan hijau beracun dan pengenalan terhadap macam tanaman dilingkungan peternakan sangat berguna.Tanaman yang sering menimbulkan keracunan di Indonesia adalah jenis paku (Prendium squilinum), bunga mentega (Oleander/Nerrium oleander sp), Orok – orok (Crotalaria spp), pohon kecubung (Datura sp), dan jarak (Ricinus communis). Ada 200-an tanaman diluar sana yang berbahaya bagi manusia dan hewan. Dalam hal ini bukan hanya beracun , tetapi ada juga tanaman penyengat.
Secara alami ternak dapat mendeteksi tanaman hijauan beracun. Namun karena beberapa sebab keracunan tanaman dapat juga terjadi yaitu : karena ternak dalam keadaan kelaparan, kekurangan rumput, hujan atau embun terus menerus sehingga tanaman beracun lebih palatabel dan ternak kekuranngan minum sehingga setelah minum ternak tampak lebih rakus memakan hijauan apa saja yang dilihatnya.
Dari berbagai jenis tumbuhan tersebut ada sebagian besar yang bermanfaat bagi manusia.Namun ada beberapa yang jarang dimanfaatkan oleh manuasia karena bebahaya terutama bagi kesehatan manusia, karena mengandung zat – zat tertentu yang bersifat toksit atau racun.
Keracunanan yang ditimbulkan oleh tanaman – tanaman ini, umumnya belum ada penawarnya.Maka diusahakan jangan sampai tertelan oleh manusia, jika tertelan sebaiknya secepatnya memberi arang aktif kemudian dibawa ke PUSKESMAS terdekat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.Jika mengenai kulit atau mata secepat mungkin mencuci dengan air, sebaiknya pencucian dengan air yang mengalir.

II. JENIS HIJAUAN TUMBUHAN BERACUN BAGI TERNAK
Jenis paku (Prendium squilinum), bunga mentega (Oleander/Nerrium oleander sp), Orok – orok (Crotalaria spp), pohon kecubung (Datura sp), dan jarak (Ricinus communis).
1. Bracken Fern (PAKIS), (braken fern, eagle fern), Prendium Squilinum.
Keterangan tentang tanaman : Pakis dengan batang bawah berwarna hitam termasuk tumbuhan hijau, yang berdaun lebar dan berbentuk segitiga, batang dapat tumbuh 2 sampai dengan 4 kaki tinggi.
Daerah/tempat tumbuh tanaman : Belukar dan bukit di seluruh Amerika Serikat.
Species yangkena dampak : Sapi, Kuda, Domba (pada tingkatan umur tertentu).
Kondisi dimana umumnya terjadi keracunan : Penggembalaan dipenuhi pakis, wilayah dimana kemarau, akhir musim panas , ketika makanan berair lain langka, atau saat rumput kering.

Gejala keracunan :Ruminansia : demam tinggi, kehilangan nafsu makan, depresi, sulit bernafas, pendarahan berlebihan ; air liur, hidung dan dubur, pendarahan selaput lender. Kuda : kehilangan berat badan dan kondisi kurang progresif, mengalami depresi ditandai sikap berjokok, otot punggung melengkung berkedut, deyut nadi melemah, rasa tidak mampu berdiri atau kejang-kejang.

Pengobatan : Ternak Ruminansia : beberapa sembuh. Kuda :injeksi intravena hydrochloride miamin.
Pencegahan : menyediakan hijauan pakan alternative atau suplemen yang cocok untuk mengurangi asupan . pembasmian tanaman mungkin tidak praktis.
Keterangan : ini adalah racun kumulatif mengkonsumsi babi, batang bawah tanpa cedera. Tunas muda di masak kadang-kadang digunakan untuk konsumsi manusia.
2. Buttercup, wolfbane, Ronuculus sp
Keterangan tentanng tanaman : Tumbuhan hijau dengan tinggi 16 sampai 32 cm bunga berwarna kuning.
Daerah/tempat tumbuh tanaman : Tersebar luas di padang rumput dan padang rumput yang basah.
Species yang terkena dampak : Semua Hewan ternak rentan, tetapi yang paling sering keracunan sapi.
Kondisi dimana umumnya terjadi keracunan : Hewan diperbolehkan untuk memakan bunga buttercup atau mengkonsumsi tanaman hijauan bersama dengan pakan berair lainnya.


Gejala kercunan : Seekor sapi yang keracunan biasa memberikan susu yang pahit atau warna kemerahan keracunan parah menyebabkan diare, berkedut teliga, dan bibir, sulit bernapas dan akhirnya kekajang-kejang.
Pengobatan : Panggil dokter hewan segera.
Pencegahan : Tidak megijikan hewan merumput, merumput bunga buttercup ketika pakan lainnya sedikit dan kering, memotong bunga buttercup setiap tahun sehingga menggurangi menyebarkan bunga buttercup.
Keterangan : Buttercup yang paling beracun sebelum berbunga.


3. Indian Hemp (hemp dog bane), Apacynum Cannabinum.
Keterangan tantang tanaman : percabangan batang tumbuh hijau, tinggi 1,5 sampai 5 kaki, mengandung jus susu, daun lonjong berlawan bentuk, dengan menghasilkan bunga putih kehijauan ditanggung dalam kelompok diujung batang dan cabang buah polong yang berisi biji ramping, panjang, banyak menanggung semua jumbai seperti benang.


Daerah/tempat tumbuh tanaman : didistribusikan secara luas diseluruh Amerika Serikat dan Kanada ditempat-tempat terbuka sering ditanah kasar dan sepanjang sungai.
Spesies yang terkena dampak : sapi, domba dan kuda.
Kondisi dimana umumnya terjadi keracunan : hewan menemukan ganja India tidak menyenangkan maka hanya hewan yang sangat lapar akan memakannya.
Gejala keracunan : peningkatan suhu tubuh, muntah dan denyut nadi setengah cepat, pupil melebar, lapisan biru dari mulut dan lubang hidung, dengan melemahnya progresif kiprah tidak teratur ditandai dengan sesak nafas, kejang, koma.
Pengobatan : membasahi dengan minyak mineral, dan pembekuan air dari stimulant jantung.
Pencegahan : hindari penggembalaan, memberantas tanaman.
Keterangan : -
III. DIAGNOSIS KERACUNAN
Diagnosis keracunan tanaman harus dilakukan dengan bukti yang jelas bahwa penyebab kematian adalah keracunan tanaman.Pengujian pascamati karena keracunan tanaman harus dilakukan dengan teliti.Seluruh isi alat pencernakan harus diteliti termasuk sisa-sisa potongan tanaman untuk memastikan bahwa hewan tersebut benar-benar keracunan tanaman.
Terjadinya gastroenteritis akut bersamaan dengan dijumpainya tanaman beracun adakalanya dapat dipakai sebagai pegangan kesimpulan bila kemungkinan yang lain dapat diabaikan. Kematian hewan yang baru datang dari lokasi dimana terdapat tanaman beracun dapat dipakai sebagai landasan kecurigaan.
Kematian secara sporadis di setiap tahun pada musim tertentu yang kemudian terjadi pertumbuhan tanaman dengan baik atau tanaman sedang berbuah dapat dipakai sebagai penguat kecurigaan.
Apabila gejala dan temuan perubahan pascamati mengindikasikan adanya racun sianogenetik glikosida, maka hal ini mungkin berkaitan dengan kondisi musim.
Pemeriksaan situasi tumbuhan di padang penggembalaan adakalanya perlu dilakukan penelitian yang cermat untuk melacak adanya tanaman beracun.
Apabila pengetahuan tentang racun tanaman yang sangat terbatas, maka dapat dilakukan percobaan dengan memberikan makanan tanaman yang dicurigai beracun kepada ternak dengan spesies yang sama dengan hewan yang diduga keracunan.Penggunaan hewan kecil sebagai percobaan misalnya dengan menggunakan marmut sering menimbulkan salah arah interpretasi. Spesies tertentu mungkin lebih tahan dibandingkan dengan spesies yang lain.

Pengetahuan tentang ilmu tumbuhan dan pengenalan terhadap macam tanaman di lingkungan peternakan sangat berguna untuk menentukan diagnosis keracunan tanaman secara lebih cepat. Sebagai bahan uji labortorium dapat dikirimkan tanaman yang dicurigai beracun termasuk buahnya, umbinya, dan bunganya dalam keadaan segar. Ternak yang mati dan dicurigai karena keracunan tanaman dapat dilakukan dengan bedah bangkai. Bahan muntahan, isi rumen, hati, ginjal, dan paru harus segera dikirimkan dalam keadaan segar dingin untuk uji laboratorium. Wadah yang dipakai hendaknya tertutup rapat dan bebas dari bekas bahan kimia atau obat.

IV. PENUTUP

Pengetahuan tentang ilmu tumbuhan hijau beracun dan pengenalan terhadap macam tanaman dilingkungan peternakan sangat berguna.Tanaman yang sering menimbulkan keracunan di Indonesia adalah jenis paku (Prendium squilinum), bunga mentega (Oleander/Nerrium oleander sp), Orok – orok (Crotalaria spp), pohon kecubung (Datura sp), dan jarak (Ricinus communis). Ada 200-an tanaman diluar sana yang berbahaya bagi manusia dan hewan. Dalam hal ini bukan hanya beracun , tetapi ada juga tanaman penyengat.
Untuk menhindari terjadinya keracunan hijauan pakan ternak makam harus menyediakan asupan hijauan pakan alternative atau suplemen yang cocok untuk mengurangi asupan tumbuhan hijau beracun.
Diagnosis keracunan tanaman harus dilakukan dengan bukti yang jelas bahwa penyebab kematian adalah keracunan tanaman.Pengujian pascamati karena keracunan tanaman harus dilakukan dengan teliti.Seluruh isi alat pencernakan harus diteliti termasuk sisa-sisa potongan tanaman untuk memastikan bahwa hewan tersebut benar-benar keracunan tanaman.

BAHAN BACAAN
Akosa, Budi Tri dkk 1991.Manual untuk Paramedis Kesehatan Hewan.OMAP-CIDA Deseases Investigation IV Project – FAO (PT Tiara Wacana), Jogya.
Direktorat Kesehatan Hewan – Ditjen Peternakan, 1991. Pedoman Penyakit Hewan Menular. Ditkeswan – Dirjen Peternakan. Jakarta.

 

PENYUSUN
SRI PUJIATY, SP
NIP. 19640414 198803 2 006

Tanggal Artikel : 11-01-2019

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait