Materi Lokalita >> SUMATERA UTARA >> KABUPATEN LANGKAT >> BP3K Perdamean

TEKNOLOGI BUDIDAYA JAMBU MADU DI KELOMPOK TANI JAMBU MADU SEJATI KELURAHAN SIDOMULYO KECAMATAN STABAT

Sumber Gambar: koleksi pribadi

TEKNOLOGI BUDIDAYA JAMBU MADU DI KELOMPOK TANI JAMBU MADU SEJATI KELURAHAN SIDOMULYO KECAMATAN STABAT

Jambu air deli hijau merupakan salah satu komoditi unggulan terbaru yang mulai banyak dikembangkan oleh petani hortikultura di daerah kota Binjai. Jambu ini berasal dari kelurahan Paya Roba, Kecamatan Binjai Barat, Kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara. Jambu ini memiliki ciri – ciri buahnya berbentuk seperti lonceng, dengan warna kulit buah hijau semburat merah. Buah memiliki rasa yang manis seperti madu. Setiap pohon mampu menghasilkan 200 – 360 buah/pohon/tahun (30 – 45 kg/pohon/tahun).
Dalam budidaya jambu air terdapat satu kegiatan yang rutin dilakukan yaitu pemangkasan cabang serta pengurangan jumlah daun agar sinar matahari dapat masuk kedalam kanopi pohon. Menurut Rebin (2013) setiap kali pemangkasan dapat dihasilkan brangkasan basah yang terdiri atas cabang sekunder, tersier, serta daun yang jumlahnya cukup banyak. Untuk pohon jambu air yang berumur sekitar 10 tahun dapat dihasilkan brangkasan basah seberat kurang lebih 90 kg/pohon. Dari brangkasan tersebut dapat dihasilkan cabang yang terdiri dari cabang sekunder dan tersier (dengan panjang setek 25 cm) sebanyak kurang lebih 450 setek/pohon yang dapat digunakan sebagai setek cabang.
Perbanyakan secara vegetatif dengan menggunakan setek batang atau cabang memiliki kelemahan diantaranya akar yang terbentuk pada setek ini jumlahnya sedikit dan tidak terlalu panjang. Akar yang pendek akan menyebabkan penyerapan air, unsur hara dan volume kontak dengan akar lebih rendah dan rentan terhadap pengaruh lingkungan (Fanesa, 2011).
Banyak usaha yang dilakukan untuk merangsang, mendorong dan mempercepat pembentukan akar serta meningkatkan jumlah akar dan mutu akar. Diantaranya dilakukan dengan pemberian zat pengatur tumbuh seperti Indole Acetic Acid (IAA), Indole Butyric Acid (lBA), Naphthalene Acetic Acid (NAA), dan sebagainya (Suprapto, 2004).
Tanaman jambu air madu deli apabila dilihat dari segi ekonomi memiliki prospek yang cukup cerah untuk dikembangkan secara intensif (monokultur). Selain karena sangat disukai oleh banyak masyarakat, harga jual ditingkat petani dapat mencapai Rp. 25.000 s/d Rp.30.000, per kg, sedangkan dipasar swalayan atau supermarket dapat mencapai kisaran harga Rp.35.000 sd Rp.40.000 per kg (Simatupang, dkk, 2012).
Peluang pasar dalam budidaya jambu air madu deli masih terbuka lebar dalam bidang hortikultura, namun dalam budidaya tersebut petani masih banyak mengalami hambatan terutama dalam penyediaan bibit yang berkualitas, pengetahuan, teknologi serta biaya permodalan yang masih kurang (Haryanto, 2000).
Dalam budidaya tanaman jambu air madu deli, petani sangat membutuhkan keterampilan dan pengetahuan terhadap kondisi lingkungan tempat tumbuh tanaman, dalam hal ini berkaitan dengan ketersediaan air, kesesuaian tanah, ketersediaan unsur hara dan sebagainya. Tanaman ini pada umumnya menyukai media tanam yang subur, banyak mengandung bahan organik, sistem drainase dan aerase didalam tanah yang baik serta gembur (Hartawan, 2008).
Untuk mendapatkan kondisi tanah yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman, maka pada media tanam dapat kita gunakan arang kayu sebagai bahan campuran sehingga membantu proses terjadinya aerasi dan draenase di dalam tanah, hal ini disebabkan arang kayu memiliki ruang pori yang cukup (Hartus, 2002).
Peranan air juga sangat penting dalam proses pertumbuhan tanaman jambu air madu deli, karena tanaman ini sangat mutlak membutuhkan air secara teratur dan cukup terlebih pada saat musim kemarau (Kramer, 1997).
Pada saat musim kemarau tanaman jambu air ini sangat memerlukan air agar tanah tetap lembab. Waktu penyiraman yang sesuai yaitu pada pagi atau sore hari agar penguapan tidak terlalu tinggi. Penyiraman dapat dilakukan sesuai dengan kondisi tanaman (Sri, 2002).
Begitu banyaknya teknik budidaya jambu madu yang harus dipahami dengan seksama, dikarenakan jambu madu merupakan tanaman indegenous atau tanaman khas, untuk itulah penulis akan mencoba membahas dan menguraikan beberapa teknik budidaya jambu madu ini.

Teknik Pembibitan Jambu Madu
Media Pembibitan
Bibit tanaman jambu air umumya menghendaki media tumbuh dengan keadaan tanah yang banyak mengandung bahan organik serta memiliki sirkulasi udara yang baik sehingga tanaman jambu air ini mudah memperoleh oksigen dari dalam tanah. Selain itu media tumbuh juga harus kaya akan bahan organik serta permukaan kadar air tanahnya yang agak dalam (Tim Penulis Kanisius, 1994).
Tujuan utama dari pembibitan adalah untuk mempersiapkan bibit yang baik dengan kriteria sehat, kuat, dan kokoh. Hal tersebut merupakan salah satu faktor penentu bagi keberhasilan dalam mmbudidayakan tanaman untuk mendapatkan pertumbuhan dan produksi yang optimal (Hartawan, 2008).
Beberapa media yang dapat digunakan sebagai media pembibitan adalah tanah topsoil, gambut ataupun campuran tanah topsoil dengan kompos. Tanah yang digunakan sebagai media pembibitan harus memiliki tingkat kesuburan yang baik yaitu tidak berkerikil, dan tidak berbatu, memiliki aerasi yang baik serta tidak terlalu banyak mengandung liat. Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan dalam mempersiapkan media pembibitan adalah sifat fisik medianya. Media yang digunakan harus memiliki sifat fisik yang baik memiliki struktur tanah remah, serta daya serap dan daya simpan air yang baik (Nyakpa, dkk, 1991).
Dalam suatu media tanam, sifat fisik tanah adalah sifat yang berperan penting dalam peredaran udara, suhu tanah, air dan zat terlarut lainya. Media yang memiliki sifat fisik baik merupakan media yang baik untuk perkembangan akar hal ini dikarenakan tanah memiliki kemampuan untuk menambat air dan menahan laju evapotranspirasi dari tanah dan tumbuhan. Struktur tanah juga diperlukan untuk mempertahankan kemantapan agregat tanah terhadap perubahan kelengasan tanah yang suatu saat dapat berubah dan tingkat curah hujan yang tinggi (Sanchez, 1992).
Manfaat Air pada Pertumbuhan Jambu Madu
Air didalam tanah berperan bagi kelangsungan kimia dan mikrobiologi tanah. Air diserap tanaman melalui akar bersama-sama dengan unsur hara yang terlarut didalamnya, kemudian unsure hara tersebut diangkut kedaun melalui pembuluh xylem. Pembuluh xylem pada akar, batang, dan daun merupakan system yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya (Lakitan, 1993).
Tanaman yang mengalami cekaman air secara umum mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh normal. Dalam hal ini pengaruh dari cekaman air mempengaruhi proses fisiologi dan biokimia tanaman serta menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu (Islami, 1997)
Pengaruh cekaman air berhubungan dengan tekanan turgor sel. Tekanan turgor sangat berperan dalam proses pembentukan ukuran tanaman. Tekanan turgor sangat berpengaruh terhadap proses pembesaran dan perbanyakan sel tanaman, proses membuka dan menutupnya stomata, proses perkembangan daun, serta proses pembentukan dan perkembangan bunga (Michelina dan Boyer, 1982)
Selain itu air juga sangat berpengaruh dalam proses keberlangsungan hidup suatu tanaman. Kondisi air yang kurang tersedia, mengakibatkan tergangunya proses fisiologi suatu tanaman atau dapat menyebabkan tanaman menjadi stress dan apabila berlangsung dalam waktu yang lama, tanaman akan mengalami kelayuan bahkan tanaman dapat mengalami kematian (Fitter dan Hay 1991).
Manfaat Arang Sebagai Campuran Media
Media tanam berfungsi sebagai tempat akar tanaman menyerap larutan nutrisi yang diberikan. Beberapa persyaratan yang digunakan untuk media tanam antara lain bersifat steril atau bebas dari senyawa kimia yang dapat menggangu pertumbuhan tanaman, memiliki ruang pori tanah yang baik, mudah didapat dan murah. Salah satu bahan yang memenuhi semua persyaratan itu adalah arang (arang kayu ataupun arang limbah industri). Arang memiliki ruang pori yang cukup sehingga membantu terjadinya proses aerasi di dalam tanah (Hartus, 2002).
Penggunaan arang baik yang berasal dari limbah eksploitasi maupun yang berasal industri pengolahan kayu merupakan salah satu alternatif atau pemanfaatan arang selain sebagai sumber energi. Secara fisik arang berpengaruh terhadap struktur dan tekstur tanah, oleh karena itu semakin banyak penggunaan arang ke dalam tanah maka akan mengurangi kepadatan tanah (bulk density).
Dengan adanya penambahan arang kedalam tanah maka akan semakin banyak ruang pori yang terdapat di dalam tanah sehingga akar tanaman dapat tumbuh lebih baik. Selain itu pemberian arang juga dapat menekan tingginya kehilangan unsur hara di dalam tanah yang disebabkan oleh tingkat curah hujan yang tinggi sehingga unsur hara tersebut dapat dioptimalkan untuk pembentukan jaringan baru. Penambahan arang pada media pembibitan juga dapat meningkatkan: kelembaban, daya serap air, serta sirkulasi udara sehingga mempercepat pertumbuhan akar halus bibit tanaman (Gusmailina dkk, 2002).

 

 

 

 

Gambar 1. Foto Bibit Jambu Madu Milik Petani Jambu Madu di Desa Sidomulyo Kecamatan Stabat
Sumber : Foto Pribadi, 28 April 2017

 

Perawatan Jambu Madu

1. Pemberian Pupuk yang Rutin
Menanam jambu madu deli hijau di polybag dilakukan untuk mempermudah pengaturan nutrisi dan penyiraman serta mengurangi kompetisi nutrisi dengan tanaman lainnya. Berbeda dengan polybag, dinding palybag berpori sehingga mengoptimalkan sirkulasi udara di perakaran. Di tanah, pertumbuhan akar tidak terkontrol dan akan terus mencari nutrisi, akibatnya pembentukan buah malah terhambat.
Untuk mempermudah dalam penyiraman, gunakan penyiram otomatis dengan pompa berpengatur waktu otomatis. Air mengalir dari pompa ke kantong tanam melalui pipa sebanyak 2 kali sehari. Pemberian pupuk berbeda antara masa vegetatif dan saat berbuah. Pada masa vegetatif, berikan 1 sampai 2 sendok teh NPK 16:16:16 setiap 10 sampai 14 hari untuk pertumbuhan tanaman.
Selain itu juga tambahkan pupuk hayati sebulan sekali. Pupuk hayati tersebut mengandung hara makro dan hara mikro, enzim pertumbuhan auksin, enzim giberelin, dan enzim sitokinin, serta mikrob protagonis yang dibutuhkan tanaman. Nutrisi, enzim, dan mikrob membantu pertumbuhan akar, batang, dan buah sehingga dapat meningkatkan kualitas dan hasil panen. Pupuk hayati itu juga mampu menetralkan residu berbahaya dari pupuk kimia.
Memasuki masa generatif, biasanya pada umur 7 smapi 8 bulan, gganti pupuk dengan monokalium fosfat (MKP) 28% yang diberikan 10 hari sekali. Pupuk hayati cair juga tetap diaplikasikan sebulan sekali. Pupuk tersebut hemat dikarenakan hanya memerlukan konsentrasi rendah. Satu tutup botol 30 ml dilarutkan kedalam 15 L air yang digunakan untuk menyiram 7 sampai 9 pohon.
Saat berbunga, mulai lakukan penyeleksian bakal buah (pentil buah). Rompes pentil yang mengarah ke atas atau muncul di ujung ranting. Buah di bagian itu akan rontok sebelum membesar karena tangkai tidak mampu menahan bobot buah, oleh karena itu buah dihilangkan sejak dini untuk mengurangi persaingan nutrisi. Dalam 1 tangkai biasanya muncul 3 bakal buah.
2. Penyeleksian Buah
Pemangkasan pohon setelah pemanenan untuk mengurangi cabang tidak produktif dan mengurangi kerapatan tajuk. Untuk memaksimalkan hasil, hanya sisakan 1 sampai 2 bakal buah, tergantung kerapatan dompolan dan kemudahan pembungkusan. Dalam dompolan berisi 9 sampai 12 bakal buah, hanya menyisakan 3 sampai 5 buah agar ukuran buah dapat optimsal. Setelah masa berbunga selesai yaitu ditandai dengan gugurnya benang sari, segera bungkus buah tersebut.
Pemanenan biasanya dilakukan 3 bulan sejak bunga terbentuk. Dengan hara yang cukup, pohon akan berbuah terus-menerus. Dalam setahun, pohon mampu berbuah minimal 3 kali. Pohon yang sudah berumur 3 tahun dapat memproduksi 7 kg buah dengan kwalitas prima setiap kali panen. Setelah panen, segera pangkas pohon untuk mengurangi percabangan yang tidak produktif. Pemangkasan juga mengurangi kerapatan tajuk sehingga fotosintesis lebih optimal dan untuk mempertahankan ketinggian tanaman sehingga memudahkan dalam panen selanjutnya.

 

 

 

 


Gambar 2. Peyeleksian dan Pemangkasan Bunga

Untuk menghasilkan buah dengan kandungan air dan rasa manis yang pas, petani jambu madu di Kecamatan Stabat melakukan pemangkasan terhadap bakal buah. Satu pohon maksimal memiliki 30 bakal buah (bunga) agar unsur hara dan air yang terserap dari dalam tanah cukup untuk digunakan oleh masing-masing bakal buah sehingga kandungan rasa yang tercipta sangat manis. Berbeda dengan petani jambu madu lainnya, yang kurang memperhatikan kualitas dari buah, rata-rata petani jambu madu pada umumnya membiarkan bakal buah (bunga) hingga mencapai 50 dalam satu pohon. Hal ini yang menyebabkan rasa menjadi tidak manis, dan kegurihan dari buah berkurang (tidak renyah).

 

 

 


Gambar 3. Foto Petani Jambu Madu di Kelurahan Sidomulyo Kecamatan Stabat
Sumber : Foto Pribadi, 30 Maret 2017

 

 

 

 

 

Lampiran :

Tanggal Artikel : 11-01-2019

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait