Materi Lokalita >> SUMATERA UTARA >> KABUPATEN LANGKAT >> BP3K Perdamean

TEKNOLOGI BUDIDAYA KEDELAI DI LAHAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT


TEKNOLOGI BUDIDAYA KEDELAI DI LAHAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Mutu dan Kualitas Benih
Benih bermutu adalah benih yang mempunyai tingkat kemurnian tinggi dan mampu berkecambanh dengan baik pada kondisi normal. Mutu benih dibedakan menjadi mutu fisik, mutu genetik dan mutu fisiologis. Mutu fisik adalah mutu benih yang berkaitan dengan kondisi fisik benih seperti keutuhan biji, keseragaman warna dan ukuran biji, serta kebersihan. Mutu genetik adalah mutu benih yang berkaitan dengan kebenaran jenis dan varietas yang dapat dinilai dari tingkat campuran dengan jenis atau varietas lain. Mutu fisiologis adalah mutu benih yang berkaitan dengan viabilitas dan daya kecambah benih.
Berdasarkan perudang-undangan sistem perbenihan nasional (No.39/Permentan/OT.140/8/2006), dikenal empat belas dalam benih bina yaitu: (i) benih penjenis (BS/Breeder Seed, BS), berlabel kuning, (ii) benih dasar (BD/Foundation Seed, FS), berlabel putih, (iii) benih pokok (BP/Stock Seed, SS), belabel ungu, dan (iv) benih sebar (BR/Extension Seed, ES), berlabel biru. Benih bina adalah benih dari varietas unggul yang produksi dan peredarannya diawasi dan telah dilepas oleh Menteri Pertanian.
Benih penjenis (BS) adalah benih yang diproduksi di bawah pengawasan pemulia yang bersangkutan dengan prosedur baku yang memenuhi sertifikasi sistem mutu sehingga tingkat kemurnian genetik varietas (true-to-type) terpelihara dengan sempurna.
Benih dasar (FS) hanya dapat diproduksi dari benih penjenis (BS) yang dipelihara sedemikian rupa sehingga identitas dan tingkat kemurnian varietas dapat terpelihara serta memenuhi standar mutu benih bina yang ditetapkan.
Benih pokok (SS) hanya dapat diproduksi dari benih dasar (FS) atau benih penjenis (BS) yang dipelihara sedemikian rupa sehingga identitas dan tingkat kemurnian varietas dapat terpelihara serta memenuhi standar mutu benih bina yang ditetapkan.
Benih sebar (ES) dapat diproduksi dari benih pokok (SS), benih dasar (SS) atau benih Penjenis (BS) yang identitas dan tingkat kemurniannya memenuhi standar mutu benih bina. Produksi benih tahapan penting dalam menyiapkan bina dapat dilakukan oleh perorangan, badan hukum, atau instansi pemerintah, baik dengan memiliki ijin produksi ataupun tanda daftar. Perorangan, badan hukum, atau instansi pemerintah yang memproduksi benih bina bertanggung jawab atas mutu benih yang diproduksi.
Salah satu tahapan dalam menyiapkan benih yang bermutu adalah pengawasan pelaksanaan proses produksi di lapang, salah satunya adalah kegiatan roguing. Rogue (tipe simpang) adalah semua tanaman atau benih yang menyimpang dari sifat-sifat suatu varietas sampai di luar batas kisaran yang telah ditetapkan. Rogue bisa berasal dari campuran fisik benih varietas lain, tanaman lain, atau gulma. Tanaman terserang penyakit sebaiknya juga dibuang (Sebayang dan Winarto, 2014).

5.2 Varietas Unggul
Komponen atau rakitan teknologi produksi kedelai melalui pendekatan PTT pada lahan kering masam podsolik meliputi varietas unggul dan teknologi budi daya spesifik lokasi. Penerapan teknologi ini dapat meningkatkan produktivitas kedelai sekitar 2 t/ha pada lahan terbuka. Teknologi PTT dapat dikembangkan pada perkebunan kelapa sawit dengan konsekuensi produktivitasnya akan menurun karena berkurangnya area efektif bagi tanaman kedelai, bergantung pada jarak tanam dan umur tanaman kelapa sawit (Marwoto et al, 2012).
Potensi hasil biji di lapangan masih dipengaruhi oleh interaksi antara faktor genetik varietas dengan pengelolaan kondisi lingkungan tumbuh. Varietas memegang peranan penting dalam perkembangan penanaman kedelai karena untuk mencapai produktivitas yang tinggi sangat ditentukan oleh potensi daya hasil dari varietas unggul yang ditanaman. Bila pengelolaan lingkungan tumbuh tidak dilakukan dengan baik, potensi daya hasil biji yang tinggi dari varietas unggul tersebut tidak dapat tercapai. Tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas kedelai yang tidak dapat dipecahkan melalui pendekatan agronomis. Ada beberapa aspek yang dapat dicapai melalui pembentukan varietas unggul ini, antara lain:
1. Meningkatkan potensi daya hasil biji
2. Memperpendek umur masak atau panen.
3. Memperbaiki sifat ketahanan terhadap serangan penyaakit utama kedelai, yaitu karat daun dan virus.
4. Menambah sifat ketahanan terhadap hama utama, yaitu lalat kacang (Agromyza), ulat pemakan daun (Lamprosema litura), wereng kedelai (Phaedonia inclusa),penghisap polong (Riptotus linearis), penggerek polong(Etiellazinekenella),
5. Tolerensi terhadap abiotik, meliputi tanah asam, kahat unsur hara, tanah basa, tanah jenuh airdan pengaruh naungan.
Untuk menjamin bahwa benih berkualitas tinggi maka benih harus diberi label sesuai dengan kelas benih. Benih yang berlabel putih (kelas SS) dengan tujuan untuk memperoleh benih keturunannya lagi, sehingga hasil panennya dapat di gunakan sebagai benih keturunannya. Benih kelas SS yang ditanam oleh peteni dianjurkan sebelum di tanam melapor ke BPSB setempat agar kegiatannya dapat diikuti oleh BPSB tersebut sehingga hasil panennya dapat di label, sesuai dengan kelas benih yang di tanam (Sebayang dan Winarto, 2014).

 

5.3 Jenis Varietas
Varietas yang mempunyai potensi hasil yang tinggi dan adaptif di daerah Sumatera Utara khusunya di Kabupaten Langkat merupakan varietas Unggul Baru di Kabupaten Langkat yang di sajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Keragaan tinggi tanaman, jumlah cabang utama, jumlah polong/pohon, dan bobot biji 100 butir dan produktivitas per Ha.

 

 


Sumber : Sebayang dan Winarto. Hasil Panen Ubinan Tahun 2012

 

 

 

 

 


5.4 Persiapan Lahan
Perkebunan kelapa sawit di Indonesia umumnya terdapat pada lahan kering dan kering masam dengan tanah podsolik. Hambatan utama yang dihadapi pada lahan kering masam adalah tanah bereaksi masam (pH 4,0–5,5), kandungan aluminium (Al) tinggi dengan kejenuhan Al > 25%, kandungan bahan organik tanah rendah (< 3%), dan ketersediaan hara rendah. Terdapat tiga faktor kunci untuk memecahkan masalah tersebut, yaitu: 1) menggunakan varietas unggul adaptif lahan masam, 2) ameliorasi lahan, dan 3) pemupukan P optimal. Varietas unggul kedelai toleran tanah masam adalah Tanggamus, Ratai, dan Seulawah dengan hasil masing-masing 1,47 t, 1,53 t, dan 1,52 t/ha (Darman 2004).
Menurut Sebayang dan Winarto (2014) perlu dilakukan pengolahan tanah yang intensif, yaitu tanah dibajak 2 kali sedalam 30 cm, dibersihkan dari gulma, kemudian tanah diolah dengan hand traktor rotari. Kemudian dibuat saluran drainase setiap 2 gang tanaman kelapa sawit, sedalam 20-25 cm, lebar 20 cm, Pembuatan saluran drainase dimaksudkan untuk mencegah terjadinya penggenangan air, karena tanaman kedelai tidak tahan terhadap genangan air.
Jika keadaan tanah masam, perlu diberi kapur dolimit bersamaan dengan pengolahan tanah kedua atau paling lambat seminggu sebelum tanam. Pengapuran dilakukan dengan cara menyebar rata dengan dosis 1.5 ton/ha. Jika ditambah pupuk kandang 2,5 ton/ha maka kapur dapat dikurangi menjadi 500 kg/ha (Sebayang dan Winarto, 2014).
Pemberian ameliorasi lahan kering masam juga dapat diaplikasikan selain dengan dolomit adalah dengan zeolit yang Menurut Sudaryono (2007) mampu meningkatkan hasil kedelai pada lahan kering masam masing-masing 11,29% dan 14,29% dibanding tanpa amelioran. Lahan kering Ultisol dengan kandungan kalium (K) rendah, sedang, dan tinggi memerlukan pupuk K berturut-turut 195, 143, dan 124 kg KCl/ha.

5.5 Penanaman
Pilih waktu yang tepat untuk menanam, sehingga tidak mengalami kebanjiran atau kekeringan. Penanaman dilakukan dengan tugal , dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm atau 40 cm x 15 cm, dua biji per lubang. Populasi tanaman kedelai berkisar 350.000 – 500.000 /ha (tanaman mono kultur). Semakin subur tanah jarak tanam semakin lebar. Jarak dari tanam kedelai dengan pohon kelapa sawit umur (0-1tahun ) 0,5 sampai 1 m, bila tanaman kelapa sawit berumur (1,5-2 tahun) maka jarak tanaman kedelai dengan tanaman kelapa sawit 1,5m sampai dengan 2 m, setelah tanaman sawit berumur 2,5 tahun sudah tidak dapat di tanami kedelai, karena pelepah daun sawit sudah menutup (menaungi) permukaan tanah, sehingga tanaman kedelai akan terlindung. Populasi tanaman kedelai pada sela tanaman kelapa sawit antara 280.000. – 400.000 /ha (Sebayang dan Winarto, 2014).
5.6 Pemupukan
Untuk lahan kering masam di sela-sela tanaman kelapa sawit, dosis pupuk yang diberikan 50 kg Urea + 100 kg SP-36 + 100 KCl + 100 kg NPK + 1.500 kg Dolomit/ha. Dolomitdiberikan bersamaan pengolahan tanah yang kedua, ditabur secara merata kemudian di traktor atau di cangkul. Pupuk Urea, SP-36, dan KCl di berikan pada tanaman berumur 10 hari setelah tanam, paling lambat 14 hari setelah tanam.Pupuk diberikan dengan cara di tugal atau tabur pada larikan 5-7 cm dari tanaman. Dosis pupuk Urea diberikan dalam jumlah yang rendah di karena tanaman kacang kedelai dapat menangkap unsur N dari udara. Disamping itu tanaman kedelai mempunyai bintil akar yang dapat membantu kesuburan tanah (Sebayang dan Winarto, 2014).
Tanah dengan status hara rendah memerlukan pupuk K yang lebih banyak dibandingkan tanah dengan status hara sedang atau tinggi. Pengurangan pupuk N (dari pupuk lengkap N, P, K) menurunkan hasil kedelai 12,2%, pengurangan pupuk P menurunkan hasil kedelai 7,5%, dan pengurangan pupuk K menurunkan hasil kedelai 10,5% dibanding pemupukan N, P, K lengkap. Dengan demikian, pupuk N, P, K lengkap harus diberikan pada lahan kering Ultisol masam selain amelioran zeolit atau dolomit (Sudaryono 2007).
Pengembangan kedelai di area perkebunan kelapa sawit, selain menggunakan perlu varietas kedelai toleran naungan, juga harus disertai dengan perbaikan kesuburan tanah melalui ameliorasi dengan kapur (dolomit atau kalsit) dan/atau bahan organik serta pemupukan N, P, dan K. Varietas Wilis mampu berproduksi 1,2−1,5 t/ha pada tingkat naungan 50% sehingga berpeluang untuk dikembangkan pada area kelapa sawit. Varietas Tanggamus adalah salah satu varietas unggul kedelai adaptif lahan kering masam yang mampu berproduksi tinggi pada lahan kering masam di Sumatera. Pemberian pupuk dolomit 750 kg/ha meningkatkan hasil kedelai 24,5% dibanding tanpa pupuk (Taufiq et al. 2011).

5.7 Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman kedelai di lahan kelapa sawit meliputi penyiangan dilakukan pra maupun pasca tumbuh dengan cara pemantauan baik secara mekanik/konvensional atau manual maupun secara kimia dengan menggunakan herbisida. Penyiangan dilakukan pada umur 15 dan 30 hari. Bila rumput masih banyak, maka penyiangan dilakukan lagi pada umur 55 hari, yang dilakukan secara manual karena tanaman sudah tinggi.

5.8 Pengendalian OPT Kedelai
Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kedelai berlandaskan strategi penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT adalah suatu cara pendekatan atau cara pengendalian hama dan penyakit yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan ekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Strategi PHT adalah mensinergikan secara kompatibel beberapa teknik atau metode pengendalian hama dan penyakit didasarkan pada azas ekologi dan ekonomi.
Tanaman kedelai pada musim tanam kedua, umumnya banyak diserang hama, apalagi kalau lokasi tersebut sebelumnya juga ditanami kedelai atau kacang-kacangan lain. Hama yang sering menyerang adalah Lalat Bibit Kacang (Ophiomya phaseoli), Lalat Batang (Melanagromyza sojae), Lalat Pucuk (Melanagromyza dolicostigma), Aphis (Aphis glycines), Kutu Bemisia (Bemisia tabaci), Tungau Merah (Tetranychus cinnabarius), Kumbang Kedelai (Phaedonia inclusa), Ulat Grayak (Spodoptera litura), Ulat Jengkal (Chrysodeixis chalsites), Ulat Penggulung Daun (Lamprosema indicate), Penggerek Polong (Etiella spp), Kepik Hijau (Nezara viridula).
Pengendalian hama-hama tersebut dilakukan secara terpadu (PHT) dengan komponen pengendalian sebagai berikut :
? Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan kedelai atau bukan kacang-kacangan. Pergiliran kedelai dengan padi, jagung, atau ubi jalar, merupakan salah satu cara dalam pengendalian hama kedelai.
? Tanam seawal mungkin dan serempak dengan beda waktu tanam kurang dari 10 hari dalam satu hamparan/wilayah.
? Penggunaan varietas berumur genja agar tanaman tidak terlalu lama menjadi sasaran hama.
? Penanaman secara tumpangsari atau strip cropping dengan tanaman bukan kedelai atau bukan kacang-kacangan.
? Menghindari penanaman tanaman inang diluar musim tanam, seperti kacang panjang, kacang gude dan kacang hijau.
? Penanaman varietas tahan hama, seperti varietas Kerinci dan Tidar.
? Penggunaan mulsa jerami untuk mengurangi serangan hama lalat kacang.
? Pengumpulan dan pemusnahan kelompok telur, ulat dan serangga hama dewasa secara mekanis/fisik.
Penggunaan insektisida secara bijaksana, apabila populasi hama telah mencapai ambang kendali. Kalau kemampuan mengamati hama terbatas, aplikasi insektisida dapat berpedoman pada kondisi tanaman dalam periode kritis, yaitu ketika tanaman berumur 5-7 hari untuk lalat kacang, 16-24 hari untuk hama daun, umur 40-50 hari untuk hama daun dan polong, dan umur 60-70 hari untuk hama polong. Hal yang perlu mendapat perhatian dalam penggunaan insektisida adalah ketepatan waktu, takaran, dan cara penyemprotan.

5.9 Panen dan Pasca Panen
5.9.1 Panen
Cara dan alat panen yang digunakan dalampemanenan dapat mempengaruhi jumlah dan mutu hasil kedelai. Bila di panen terlalu awal akan banyak biji muda dan perontokan biji relatif sulit dilakukan. Sebaliknya, kalau terlambat panen menyebabkan tercecernya (hilangnya hasil) biji di lapangan. Untuk itu dianjurkan beberapa hal sebagai berikut :
? Panen dilakukan apabila semua daun tanaman telah rontok, polong berwarna kuning/coklat dan mengering.
? Panen di mulai sekitar pukul 09.00 pagi. Pada saat ini air embun sudah hilang. Pangkal batang tanaman dipotong menggunakan sabit bergerigi atau sabit tajam.
? Hindari pemanenan dengan cara mencabut tanaman agar tanah/kotoran tidak terbawa.
5.9.2 Pasca Panen
Brangkasan tanaman (hasil panenan) di kumpulkan ditempat yang kering dan diberi alas terpal/ plastik. Penanganan pasca panen yang terdiri dari penjemuran brangkasan tanaman, pembijian, pengeringan, pembersihan, dan penyimpanan biji perlu mendapat perhatian yang cukup. Sebab, kegiatan ini mempengaruhi kualitas biji atau benih yang dihasilkan. Kedelai sebagai bahan konsumsi dipetik pada umur 75-100 hari, Penjemuran yang terbaik adalah penjemuran brangkasan kedelai di beri alas terpal.

 

 

 

Lampiran :

Tanggal Artikel : 11-01-2019

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait