Materi Lokalita >> JAWA TENGAH >> KABUPATEN BREBES

PENYAKIT TANAMAN BAWANG MERAH

Sumber Gambar:

1. Bercak Ungu disebabkan oleh Altenaria porri
Pada daun terdapat bercak kecil, melekuk, berwarna putih atau kelabu. Jika membesar,becak tampak bercincin-cincin, dan warnanya agak keunguan. Tepinya agak kemerahan atau keunguan dan di kelilingi oleh zone berwarna kuning yang dapat meluas agak jauh di atas atau di bawah bercak.
Konidium dan konidiofor berwarna hitam atau coklat. Konidium berbentuk gada yang bersekat-sekat, pada salah satu ujungnya membesar dan tumpul, ujung lainya menyempit dan agak panjang. Konidium dapat disebarkan oleh angin menginfeksi tanaman melalui stomata atau luka-luka yang terjadi pada tanaman. Patogen dapat bertahan dari musim ke musim pada sisa-sisa tanaman dalam bentuk miselia. Keadaan cuaca yang lembab, suhu udara 30o-32o C, mendung, hujan rintik-rintik dapat mendorong perkembangan penyakit. Pemupukan dengan dosis N yang tinggi atau tidak berimbang, keadaan drainase tanah yang tidak baik, dan suhu antara 30-328 C merupakan perkembangan yang menguntungkan bagi patogen. Namun konidia tidak mampu bertahan hidup lebih lama jika jatuh di atas tanah. Oleh karena itu penyakit becak ungu adalah penyakit lahir (tular) udara dan lahir bibit (umbi)

2. Embun Buluk/Tepung Palsu (Downy mildew) disebabkan oleh Peronospora destructor

Pada tanaman mulai membentuk umbi lapis, di dekat ujung daun timbul bercak hijau pucat. Pada waktu cuaca lembab pada permukaan daun berkembang kapang (mould.) yang berwarna putih lembayung atau ungu. Daun segera menguning, layu dan menngering. Daun mati yang berwarna putih diliputi oleh kapang yang berwarna hitam.
Patogen dapat bertahan pada biji, umbi dan di dalam tanah dari musim ke musim. Pada cuaca lembab dan sejuk, patogen dapat berkembang dengan baik. Penyebaran spora melalui angin. Penyakit ini berkembang pada musim hujan, bila udara sangat lembab dan suhu malam hari rendah. Kelembaban tinggi, suhu sejuk sangat menguntungkan perkembangan patogen. Kesehatan benih/ umbi yang ditanam akan mempengarui serangan patogen di lapang. Penyakit ini bersifat tular udara (air born), tular bibit (seed born), maupun tular tanah khususnya jika lahan basah dan drainase buruk.

3. Antraknosa disebabkan oleh Colletotricum gleosporioides

Pada bagian daun terlihat adanya bercak cokelat, perkembangannya lebih lanjut dapat menyebabkan daun patah dan gugur. Gejalanya pada umbi terjadi bercak berwarna hijau tua atau hitam. Serangan pada umbi menyebabkan daun menjadi berkelok-kelok atau terpuntir (terpilin), sehingga daun tidak berkembang ke atas sepeti biasanya. Umbi yang terserang dapat membusuk.

4. Mati pucuk disebabkan oleh cendawan Phytoptora porri (Faister)
Ujung daun busuk kebasahan yang berkembang kebawah. Jika cuaca lembab jamur membentuk massa jamur seperti beledu. Bagian tanaman yang sakit menjadi mati, berwarna coklat, kemudian putih. Cendawan mempunyai miselium yang khas, hifa tidak seragam kadang berbentuk elips dan berdiameter sekitar 8 µm. Sporangiofora berbentuk hialin, bercabang tidak menentu, bentuknya mirip dengan hifa biasa. Klamidospora pada media memiliki diameter rata-rata 30 µm. Oogonia berdiameter sekitar 34 µm, berwarna kuning coklat terang dan berdinding lapis dengan jumlah antara 4-5 lapis.

5. Layu Fusarium
Fusarium oxysporum merupakan salah satu jamur tular tanah atau "soil-borne pathogen". Jamur ini menular melalui tanah atau bahan tanaman yang berasal dari tanaman sakit, dan menginfeksi tanaman melalui luka pada akar yang dapat menyebabkan penyakit layu pada tanaman bawang merah. Patogen ini dapat bertahan hidup dalam tanah berupa klamidospora dalam jangka waktu yang lama meskipun lahan tidak ditanami. Patogen ini juga dapat menyerang pada semua stadia. Tanaman muda yang terserang menjadi busuk pada bagian bawah batang, daun-daun layu mengerut dan akhirnya mati.
Patogen tular tanah dapat menimbulkan penyakit pada tanaman sebelum berkecambah, pada masa perkembangan, pada waktu tanaman masih muda atau menjelang berbunga dan berbuah.
Daur hidup Fusarium oxysporum mengalami fase patogenesis dan saprogenesis. Pada fase patogenesis, jamur hidup sebagai parasit pada tanaman inang. Apabila tidak ada tanaman inang, patogen hidup di dalam tanah sebagai saprofit pada sisa tanaman dan masuk fase saprogenesis, yang dapat menjadi sumber inokulum untuk menimbul-kan penyakit pada tanaman lain. Penyebaran propagul dapat terjadi melalui angin, air tanah, serta tanah terinfeksi dan terbawa oleh alat pertanian dan manusia.

Tanggal Artikel : 09-11-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait