Materi Lokalita >> JAWA TIMUR >> KABUPATEN MAGETAN

PENGGUNAAN PESTISIDA SECARA TEPAT DAN BIJAKSANA

Sumber Gambar: DOK. GOOGLE

PENGGUNAAN PESTISIDA SECARA TEPAT DAN BIJAKSANA

Pestisida merupakan semua zat kimia atau bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan atau mencegah hama atau penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian; mengendalikan rerumputan dan mengatur atau merangsang pertumbuhan yang tidak diinginkan.
Penggunaan pestisida menjadi pilihan utama petani dikarenakan dampaknya langsung menekan serangan OPT.
Tanpa menggunakan pestisida kehilangan hasil pada tanaman pangan mencapai 34% dan akan menurun 35-42% ketika diaplikasikan pestisida, sehingga sangat wajar jika perkembangan penggunaan pestisida di tingkat dunia terus meningkat seiring peningkatan luas tanam. Penggunaan berbagai jenis pestisida di dunia meningkat setiap tahunnya. Bahkan, di Indonesia perkembangan penggunaan pestisida sangat pesat.
Pestisida dianggap sebagai pilihan utama oleh petani, karena pestisida memiliki beberapa keunggulan seperti:
1) Pestisida secara umum sangat efektif untuk mengendalikan OPT, ketika tidak ada permasalahan resistensi,
2) Perlakuan pestisida dapat dilaksanakan secara cepat ketika dibutuhkan, dengan senjang waktu yang minimal, dan mempunyai aktivitas penyembuhan yang cepat dalam mencegah kehilangan hasil lebih lanjut,
3) Perlakuan pestisida seringkali lebih murah dan memberikan keuntungan, terutama jika perlakuan alternatif lain memerlukan banyak tenaga kerja,
4) Sifat-sifat, penggunaan, dan cara aplikasinya mempunyai kisaran luas untuk menghadapi berbagai macam keadaan hama, termasuk untuk mengendalikan ledakan populasi OPT pada areal yang sangat luas.

Penggunaan pestisida yang tidak benar dan bijaksana, justru dapat berdampak pada rusaknya ekosistem. Azas penggunaan pestisida yakni benar dan bijaksana. Aplikasi yang benar menjadikan pestisida menjadi efektif, sedangkan aplikasi yang bijaksana dapat meminimalkan dampak negatif pestisida terhadap pengguna, konsumen dan lingkungan serta efisien dan ekonomis.

Pencampuran dua jenis pestisida atau lebih sebaiknya dihindarkan jika tidak mengetahui secara jelas kesesuaiannya. Namun, dengan alasan menghemat tenaga, waktu serta untuk meningkatkan efektifitasnya biasanya petani mencampur beberapa jenis pestisida dalam satu kali aplikasi. Cara mudah untuk mengetahui kesesuaian satu pestisida dengan lainnya selain berdasarkan label yang ada, juga bisa dilihat dari tercampur tidaknya kedua jenis pestisida tersebut jika dilarutkan. Jika tidak bercampur merata atau membentuk beberapa lapisan berarti pestisida tersebut tidak sesuai atau tidak bisa dicampur.
Penggunaan pestisida harus memperhatikan prinsip 5 (lima) tepat, yaitu:
1. Tepat Sasaran.
Tentukan jenis tanaman dan hama sasaran yang akan dikendalikan, misal ulat grayak pada daun kedelai, hama wereng pada padi.
2. Tepat Jenis.
Tentukan jenis pestisida apa yang harus digunakan, umumnya pestisida memiliki kekhususan terhadap jenis OPT yang dapat dikendalikan misalnya: bakterisida (pengendali penyakit yang disebabkan bakteri), fungisida (pengendali jamur), insektisida (pengendali serangga), akarisida (pengendali tungau), moluskisida (pengendali moluska seperti keongmas), rodentisida (pengendali tikus), dsb.
3. Tepat Waktu.
Waktu pengendalian ditentukan berdasarkan:
a) tahap rentan dari hama yang menyerang, misalnya ulat yang masih kecil,
b) banyaknya hama yang paling tepat untuk dikendalikan sesuai ambang ekonominya, misal jumlah ulat grayak 8 ekor/tanaman,
c) kondisi lingkungan, misalnya jangan melakukan aplikasi pestisida pada saat hujan, kecepatan angin tinggi, cuaca panas terik,
d) lakukan pengulangan sesuai dengan waktu yang dibutuhkan. Waktu aplikasi merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan efektifitas pestisida yang diaplikasikan.
Jika dikaitkan dengan tahap perkembangan hama, maka dikenal waktu aplikasi pestisida yakni:
1) Aplikasi Preventif, dilakukan sebelum ada serangan hama dengan tujuan untuk melindungi tanaman,
2) Aplikasi dengan Sistem Kalender (aplikasi berjadwal, tetap banyak dilakukan oleh petani, misalnya seminggu sekali atau bahkan seminggu dua kali),
3) Aplikasi Kuratif, aplikasi ini dilakukan sesudah ada serangan hama dengan maksud untuk menghentikan serangan atau menurunkan populasi OPT, dan
4) aplikasi berdasarkan ambang pengendalian atau ambang ekonomi hama.
4. Tepat Dosis/Konsentrasi
Supaya pestisida yang diaplikasikan efektif membasmi OPT sasaran, maka dosis/konsentrasi pestisida harus ditetapkan secara tepat. Dosis merupakan banyaknya pestisida yang dibutuhkan untuk setiap satuan luas, misalnya dosis pestisida A sebanyak 2 L/ha, pestisida B sebanyak 250 mL/pohon. Sedangkan konsentrasi adalah banyaknya pestisida yang dibutuhkan untuk setiap satuan aplikasi, misalnya 2 mL/L, 0,5 ml/L. Kurangnya perhatian petani terhadap dosis/konsentrasi pestisida ini sering menyebabkan aplikasi pestisida yang salah.
5. Tepat Cara, lakukan aplikasi pestisida dengan cara yang sesuai dengan formulasi pestisida dan anjuran yang ditetapkan. Cara penggunaan pestisida di antaranya cara penaburan, cara penyemprotan, cara penghembusan, cara pengumpanan, cara fumigasi, dan cara pengasapan.

Sebelum melakukan penyemprotan pestisida perlu adanya langkah-langkah persiapan, antara lain:
a. Menyiapkan bahan-bahan, seperti Pestisida yang akan digunakan (harus terdaftar), fisiknya memenuhi syarat (layak pakai), sesuai jenis dan keperluannya, dan peralatan yang sesuai dengan cara yang akan digunakan (volume tinggi atau volume rendah).
b. Menyiapkan perlengkapan keamanan atau pakaian pelindung, seperti sarung tangan, masker, topi, dan sepatu kebun.
c. Memeriksa alat aplikasi dan bagian-bagiannya, untuk mengetahui apakah ada kebocoran atau keadaan lain yang dapat mengganggu pelaksanaan aplikasi Pestisida. Jangan pernah menggunakan alat semprot yang bocor.
d. Waktu mencampur dan menggunakan Pestisida sebaiknya jangan langsung memasukkan pestisida ke dalam tangki. Siapkan ember dan isi air secukupnya terlebih dahulu, kemudian tuangkan Pestisida sesuai dengan takaran-takaran sesuai anjuran dan aduk hingga merata. Kemudian larutan tersebut dimasukkan ke dalam tangki dan tambahkan air secukupnya.

Selama penyemprotan di lapang, hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut:
a. Pada waktu menyemprot, operator pelaksana atau petani harus memakai perlengkapan keamanan seperti sarung tangan, baju lengan panjang, celana panjang, topi, sepatu kebun, dan masker/ sapu tangan bersih untuk menutup hidung dan mulut selama aplikasi.
b. Jangan berjalan berlawanan dengan arah datangnya angin dan tidak melalui area yang telah diaplikasi Pestisida.
c. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada waktu pagi hari atau sore hari.
d. Selama menyemprot, tidak diperbolehkan makan, minum, atau merokok.
e. Satu orang operator/petani hendaknya tidak melakukan aplikasi penyemprotan Pestisida terus-menerus lebih dari 4 (empat) jam dalam sehari.
f. Operator/petani yang melakukan aplikasi pestisida hendaknya telah berusia dewasa, sehat, tidak ada bagian yang luka, dan dalam keadaan tidak lapar.
g. Pada area yang telah disemprot dipasang tanda peringatan bahaya.
h. Bersihkan semua peralatan dan pakaian setelah menyemprot serta segera mandi.
i. Sisa campuran pestisida tidak dibiarkan/disimpan terus di dalam tangki, karena lama-kelamaan akan menyebabkan tangki berkarat atau rusak. Sebaiknya sisa tersebut disemprotkan kembali pada tanaman sampai habis dan jangan membuang sisa cairan semprot atau wadah kemasan pestisida di sembarang tempat, karena akan menyebabkan pencemaran lingkungan.

Prosedur Pertolongan Pertama saat Kejadian Pestisida
a. Segera bersihkan pestisida yang tertumpah.
b. Jika tertumpah sedikit, gunakan sarung tangan saat membersihkannya.
c. Jangan menyiram tumpahan pestisida karena bisa membahayakan organisme non target, gunakan bahan yang bisa menyerap tumpahan seperti serbuk kayu atau bahan lainnya yang bisa dengan mudah dibuang pada tempat yang aman.
d. Jika tumpahan pestisida mengenai tubuh, segera bersihkan dengan air dan sabun atau lihat petunjuk yang ada pada label pestisida.
e. Jika terkena pakaian segera lepaskan dang anti pakaian yang terkontaminasi.
f. Jika terkena mata, siramlah mata perlahan-lahan selama sekitar 10-15 menit.
g. Jika terhirup, segera cari tempat terbuka untuk mendapatkan udara segar.

Oleh :
SRI YANTINI, SP (BPP Kec. Parang)

 

Tanggal Artikel : 11-10-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait