Materi Lokalita >> JAWA TIMUR >> KABUPATEN PASURUAN

JARAK TANAM PADI SRI-LEGOWO

Sumber Gambar: bpp kec. sukorejo

JARAK TANAM PADI SRI-LEGOWO

System of rice intensification (SRI) merupakan salah satu pendekatan dalam praktek budidaya padi yang menekankan pada manajemen pengelolaan tanah, tanaman dan air dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan. Gagasan SRI pada mulanya dikembangkan di Madagaskar awal tahun 1980. Sistem ini memiliki keunggulan:
1. Menghemat penggunaan bibit 8 -15 kg / Ha ( 1-3 per tancapan )
2. Penggunaan umur bibit muda 7 – 15 Hss ( Hari Setelah sebar )
3. Tanam dangkal membuat huruf "L"
4. Mengutamakan penggunaaan pupuk organic/ bokasi, MOL, Bio Pestisida/ pestisida nabati yang ramah lingkungan
5. Pengelolaan tanah dan air yang baik ( penggunaan parit keliling dan system pengarian berselang )
6. Menggunakan jarak tanam yang lebar 23 – 30 cm
7. Pertumbuhan anakan semakin maksimal 20 – 50 per rumpun
Sedangkan Jajar legowo pada dasarnya berasal dari kata jajar bercampur lego (lega), dan dowo (panjang), yang keduanya berasal dari bahasa Jawa. Cara ini sudah diperkenalkan tahun 1996 oleh seorang pejabat dinas pertanian Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.Pada prinsipnya penerapan sistem tanam jajar legowo adalah memanipulasi lahan yang ada dengan cara mengatur jarak tanam agar mampu menampung populasi tanaman lebih banyak dengan tanaman efek pinggir yang lebih banyak. Dengan kata lain sistem jajar legowo adalah cara menanam padi dengan pola beberapa barisan tanaman yang diselingi satu barisan kosong. Tanaman yang seharusnya ditanam pada barisan yang kosong dipindahkan sebagai tanaman sisipan di dalam barisan.

Manfaat dan Keuntungan Penerapan Sistem Jajar Legowo
1. Jumlah Populsi Tanaman Meningkat
Dengan sistem tanam jajar legowo jumlah populasi tanaman padi bisa ditingkatkan dan diharapkan jumlah produksi gabah juga akan meningkat.
2. Memudahkan Perawatan & Pemeliharaan
Pertanaman padi dengan sistem jajar legowo memiliki banyak baris kosong sehingga dapat mempermudah dalam melakukan perawatan dan pemeliharaan tanaman. Pemupukan, pengontrolan dan penyemprotan bisa dilakukan memalui barisan kosong tersebut sehingga tanaman tidak terganggu.
3. Menekan Serangan Hama dan Penyakit
Dengan adanya barisan kosong pada lahan pertanaman, lingkungan relatif lebih terbuka sehingga beberapa hama terutama tikus tidak menyukai tempat tersebut. Sistem jajar legowo juga dapat mengurangi kelembaban sehingga perkembangan penyakit bisa ditekan.
4. Hemat Biaya Pemupukan
Penerapan sistem jajar legowo diharapkan dapat menekan serta menghemat penggunaan pupuk, karena pemupukan lebih terkonsentrasi pada tanaman dalam barisan.
5. Meningkatkan Produksi dan Kualitas Gabah
Penerapan sistem jajar legowo memiliki jumlah tanaman pinggir yang lebih banyak. Seperti kita ketahui bahwa tanaman pinggir memiliki kualitas pertumbuhan dan jumlah produksi yang lebih baik. Tanaman yang berada pada barisan pinggir memiliki ruang tumbuh lebih leluasa serta mendapatkan intensitas sinar matahari lebih banyak, intensitas sinar matahari mempengaruhi kualitas dan kuantitas produksi

Ada beberapa jenis atau tipe sistem tanam jajar legowo yang biasa digunakan oleh petani padi, antara lain : legowo 2 : 1, legowo 3 : 1, legowo 4 : 1, legowo 5 : 1, legowo 6 : 1 dan legowo 7 : 1.

Berdasarkan uji coba yang dilakukan oleh beberapa petani maju di kecamatan Sukorejo kombinasi jarak tanam jajar legowo yang paling bagus hasilnya adalah kombinasi SRI dengan jajar legowo, cara tanam SRI sedangkan Jarak tanam menggunakan Legowo 2 : 1. Jarak tanam jajar legowo yang digunakan adalah adalah 20 cm x 20 cm x 40 cm (jarak antar barisan, jarak antar tanaman/barisan pinggir, jarak barisan kosong). Pada jarak legowo 2:1 jarak ke belakang asli adalah 10 cm, sedangkan untuk kombinasi SRI dipilih 20cm kareana jumlah anakan pada tanam SRI bisa mencapai 35 lebih anakan, sehingga membutuhkan ruang/jarak yang lebih lebar.
Model SRI Legowo 2:1 (20x20x40) ini maka memiliki keunggulan:
1. Menghemat benih (tanam 1 per rumpun/SRI)
2. Setelah pindah tanam tidak mudah stress dan cepat pertumbuhannya (umur pindah tanam muda < 12 HST)
3. Pemeliharaan semakin mudah, terutama daerah yang gulmanya banyak karena bisa di osrok 2 kali ( malang dan mujur )
4. Memudahkan pemupukan karena yang di pupuk bagian yang ada padi nya yang rapat (20cmx20cm) sehingga gulma tidak ikut mendapatkan makanan
5. Memudahkan pengendalian OPT
6. Meningkatkan jumlah anakan produktif ( 20 – 35 ) dan malai menjadi panjang 150 – 280 bulir, bulir padi juga cukup besar karena tanaman mempunyai ruang yang cukup untuk mendapatkan sinar matahari dan udara
7. Mengurangi tingkat keasaman tanah karena menggunakan pengairan berselang
8. Meningkatkan produksi gabah

Hasil ubinan rata – rata menggunakan model ini ± 5,4 – 7,1 Kg. dengan perkiraan panen riil = 7 – 10 ton per Ha.

By: Tim BPP Sukorejo

Tanggal Artikel : 17-07-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait