Materi Lokalita >> JAWA BARAT >> KABUPATEN CIREBON >> BP3K Mundu

MITIGASI EFEKTIF GAS RUMAH KACA (GRK) PADI SAWAH

Sumber Gambar: Dok. Nur Duniati

Beras merupakan bahan makanan pokok separuh penduduk dunia dan ditanam di lebih dari 114 negara di atas total area sekitar 153 juta hektar yang merupakan 11% dari lahan subur di dunia (FAOSTAT, 2011) . Sedangkan di Indonesia luas areal pertanaman padi di Indonesia mencapai 11 juta hektar, dan lebih dari 10 juta hektar (90% luas pertanaman) adalah tanaman padi sawah sedangkan sisanya 1 juta hektar ditanam sebagai padi lading (Deptan, 2004). Menurut data FAO 2009, pada tahun 2030 produksi beras global harus meningkat sebesar 40% untuk mengimbangi populasi manusia. Sistem produksi beras global menghadapi dua tantangan yang saling bertentangan yaitu kebutuhan untuk meningkatkan produksi untuk mengakomodasi pertumbuhan jumlah penduduk sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) seperti metana (CH4) dan karbondioksida (CO2).
Gas rumah kaca merupakan kumpulan gas-gas yang ada di atmosfer bumi yang mampu menyerap radiasi matahari dan menahannya sehingga radiasi tersebut tidak dapat menembus atmosfer untuk menuju luar angkasa. Gas rumah kaca kemudian memantulkan kembali radiasi matahari tersebut ke permukaan bumi sehingga menjadi lebih hangat, fenonema ini serupa dengan yang terjadi pada rumah kaca. Meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca pada atmosfer yang akhirnya menyebabkan suhu di permukaan bumi dari tahun ke tahun semakin meningkat. Peningkatan suhu bumi membawa dampak perubahan iklim secara global mulai mencairnya es di kutub bumi, maupun perubahan ekstrem dan anomali cuaca di dunia. Dampak yang dirasakan oleh masyarakat dunia seperti gelombang panas, banjir, longsor, kemarau panjang, sampai hilangnya pulau-pulau kecil akibat dari naiknya permukaan air laut.
Pada budidaya padi sawah yang selalu tergenang, meningkatnya laju CO2 yang dihasilkan tanaman padi pada saat pengisian biji akan meningkatkan produksi emisi gas metana sebesar 58% sehingga total emisi gas metana yang dihasilkan oleh padi sawah merupakan hasil kesetimbangan antara produksi emisi gas metana oleh eksudasi akar padi ditambah transportasi gas metana melalui tanaman dikurangi oksidasi gas metana oleh aerenkhima perakaran padi sawah dengan dipegaruhi oleh kondisi laju karbon dioksida disekitar tanaman (cheng, et.al. 2003).
Di Indonesia sendiri berbagai upaya penelitian untuk menekan GRK dari usaha tani padi telah dilakukan baik oleh pemerintah seperti Balitbang, LIPI, akademisi ataupun pihak swasta. Penyuluh pertanian sebaiknya tidak hanya mengandalkan luas tambah tanam dan target peningkatan produktifitas padi saja tetapi perlu juga mengedepankan konsep low GRK dimana mitigasi adalah hal yang harus dilakukan. Berbagai upaya tersebut diantaranya mengganti cara pengairan sawah secara terus-menerus dengan pengairan berselang (intermittent) yang dapat menurunkan emisi CH4 sebesar 78%. Penggunaan varietas padi rendah emisi CH4 seperti Maros, Muncul, Way Apoburu, dan Fatmawati mampu menekan emisi CH4 hingga 66-10%. Pemakaian herbisida dengan bahan aktif paraquat dan glifosat menurunkan emisi CH4 sampai 60% dibanding tanpa herbisida (Setyanto, Balingtan 2008).
Daftar Pustaka :
? Faiz ul-Islam,et.al.2017. The effective mitigation of greenhouse gas emissions from rice paddies without compromising yield by early-season drainage. https://www.sciencedirect.com/science/journal/00489697
Ariani M,Hesti Yulianingrum dan Prihasto Setyanto.2017. Emisi Gas Rumah Kaca dan Hasil Padi dari Cara Olah Tanah
Dan Pemberian Herbisida Di Lahan Sawah MK#201
? Jurnal Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana UNDIP.Volume 15 :74-82

Ditulis Oleh : Nur Duniati,SPt. (Penyuluh Pertanian/Admin BP3K Mundu)

Tanggal Artikel : 17-04-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait