Materi Lokalita >> KALIMANTAN SELATAN >> KABUPATEN TABALONG

HAMA YANG SELALU MENGINTAI PADI : Q DAN A HAMA WERENG BAGIAN III (SELESAI)

Sumber Gambar: browser google (diakses 2018)

Rabu, 14 Maret 2018


(Question) : Apa yang menyebabkan munculnya serangan hama wereng ?

(Answer) : Ledakan wereng cokelat dipicu oleh (Baehaki SE. dan I Made Jana Mejaya, 2014) :
1. perubahan iklim global yang mempengaruhi sikap hama terhadap tanaman padi. La Nina dengan curah hujan yang tinggi menimbulkan kelembaban yang tinggi pada musim kemarau dapat mengaktifkan sifat ontogeni wereng cokelat untuk berkembang dengan populasi yang tinggi.
2. Tanam tidak serempak merupakan pemicu kedua ledakan wereng cokelat. Petani bertanam padi saling mendahului karena air selalu mengalir dan harga gabah cukup tinggi,
3. Menanam varietas rentan wereng, bahkan pada saat terjadi ledakan wereng cokelat banyak petani yang menanam varietas rentan seperti IR42, Muncul, hibrida, dan ketan Derti.
4. Ledakan hama wereng cokelat juga dipicu oleh penggunaan insektisida yang tidak akurat oleh lebih 90% petani menjadi penyebab tidak turunnya populasi wereng cokelat, ditambah lagi dengan71% dari jumlah petani tersebut masih menggunakan insektisida bukan anjuran. Data lain menunjukkan 60% petani SLPHT dan 65% petani non-SLPHT menggunakan insektisida, baik yang dianjurkan maupun yang tidak dianjurkan, secara keliru. Hal tersebut disebabkan melemahnya disiplin monitoring hama wereng cokelat oleh petani yang menambah kerusakan tanaman padi.

Begitu pentingnya hama wereng cokelat menyebabkan dikeluarkannya beberapa kebijakan pemerintah untuk mengatasi hama ini. Pada tahun 1986 dikeluarkan Inpress No. 3 yang melarang penggunaan 57 formulasi insektisida untuk mengendalikan wereng cokelat, karena dampak penggunaan berbagai pestisida menimbulkan gejala resurgensi.

Q : Lalu bagaimana cara pengendalian hama wereng?

A : Menurut Baehaki SE. dan I Made Jana Mejaya (2014) Pengendalian dengan triangle strategies (sosial, teknologi, dan kebijakan pemerintah) perlu diterapkan, beberapa strategi yang dapat kita terapkan dengaan cara bersinergi antara penyuluh, POPT, kelompoktani, petani dan pemerintah daerah yaitu :

1. Rekayasa ekologi dengan pupuk organik sebagai pengkayaan predator
2. Rekayasa ekologi dengan bunga untukpengkayaan parasitoid
3. Lampu perangkap hama (light traps) sebagai pendeteksi wereng makroptera betina/jantan imigran yang pertama kali datang di pesemaian atau pertanaman. Alat ini penting untuk mengetahui kehadiran wereng imigran dan dapat menangkap wereng dalam jumlah besar.
4. Monitoring penuntasan pengendalian wereng Cokelat Generasi 1
Seorang pengamat hama perlu menentukan puncak populasi imigrasi awal sebagai generasi nol (G0); pada 25-30 hari kemudian migran I akan menjadi imago wereng cokelat generasi ke-1, pada 25-30 hari kemudian akan menjadi imago wereng cokelat generasi ke-2, pada 25-30 hari kemudian akan menjadi imago wereng cokelat generasi ke-3. Setelah generasi ke-3 hama wereng cokelat menyerang secara berat tanaman padi dan populasinya akan menurun karena persediaan makanan telah rusak.
5. Pengamatan wereng cokelat di pertanaman dan pengendalian berdasar musuh alami
Pengamatan atau monitoring wereng cokelat dilakukan setiap 1-2 minggu sekali untuk memantau jumlah wereng cokelat, musuh alami laba-laba, Paederus, Ophionea, Coccinella dan Cyrtorhinus pada minggu ke-i. Tindakan pengendalian wereng cokelat ditentukan oleh kepada keberadaan musuh alami dan taksiran harga gabah saat panen. Pengendalian wereng cokelat secara rinci telah dijelaskan pada Strategi Fundamental Pengendalian Hama Wereng Batang Cokelat dalam Pengamanan Produksi Padi Nasional (Baehaki 2011c

6. Tanam serempak
Teknologi pengendalian wereng cokelat sudah berkembang, namun penerapan di lapangan, banyak yang tidak berhasil, karena melupakan sosial kemasyarakatan,di antaranya tidak ada kesepakatan waktu tanam

7. Pengendalian wereng cokelat dapat dilakukan berdasarkan tangkapan lampu perangkap atau berdasarkan monitoring di pertanaman.
Penggunaan insektisida harus diimplementasikan pada saat populasi wereng cokelat mencapai ambang ekonomi terbaru, dan harga gabah saat panen.

Untuk penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa, BPTP Jawa Barat (2010) menyebutkan tentang cara pengendaliannya dengan cara memutus hubungan antara wereng coklat dengan virus kerdil hampa dan virus kerdil rumput dan tanaman padi. Yaitu nelakukan Eradikasi tanaman padi atau ratun yang tertular virus, dan tidak menanam padi untuk beberapa saat (1-2 bulan) adalah cara-cara paling penting untuk mengendalikan penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput. Namun sayangnya hingga saat ini belum ada varietas padi yang tahan terhadap kedua penyakit tersebut.

Q : Jadi penggunaan pestisida hanya diakukan saat populasi hama wereng berada pada ambang ekonomi ? Apa itu ambang ekonomi?
A :

AE adalah Populasi hama maksimum yang dapat ditoleransi pada waktu dan tempat tertentu, tanpa menghilangkan nilai ekonomi hasil panen, yakni kondisi saat kepadatan populasi di mana tindakan pengendalian harus dilakukan untuk mencegah hama peningkatan populasi hama mencapai ambang luka ekonomi.

Menurut Balai Pengkajian Teknologi (BPTP) Jawa Barat tahun 2010 Gagal panen (puso) dapat terjadi bila jumlah serangga lebih dari 20 ekor/rumpun. Oleh karena itu, upaya pengendalian perlu segera dilakukan jika wereng coklat telah mencapai ambang ekonomi (4 ekor/rumpun pada fase vegetatif dan 7 ekor/rumpun pad a fase generatif ).

Di dalam http://www.agrotani.com/siklus-hama-wereng-coklat-pada-tanaman-padi-2/ (diakss 26 Februari 2018) menjelaskan bahwa kerusakan akibat wereng yang terjadi pada tanaman padi tergantung pada Populasi awal pada saat migrasi dan Umur tanaman saat terjadinya migrasi, Varietas Padi, Keadaan iklim, Pemupukan yang tidak seimbang dan Penggunaan pestisida yang tidak benar.
A = Hopper barn terjadi pada tanaman padi muda umur sekitar 30 hst, bila padat populasi migran dipesemaian adalah 50 ekor betina makroptera per 25 kali ayunan. Hopperburn awal dapat terjadi bila waktu tanam tidak serempak karena perpindahan serangga makroptera dalam jumlah besar dan sawah yang sedang dipanen ke areal yang sedang ditanami.
B = Bila kepadatan imigran 2 5 betina pervrumpun pada umur 20 30 hst, hopperbum disebabkan oleh keturunannya terjadi pada umur 50 60hst
C = Bila pertumbuhan populasi dimulai oleh migran 0,2 0,5 betina per rumpun pada umur 20 30 hst atau kepadatan brakhiptera betina pada umur 50 60 hst yaitu 2 5 ekor per rumpun, hopper burn biasanya terjadi setelah pembentukan bunga.
PengendLIn wereng yang telah mencapai AE menurut BPTP Jawa Barat dianjurkan untuk menggunakan insektisida dengan bahan aktif yang sesuai seperti bupofresin, fipronil, amidakloprid, karbofuran, atau teametoksan.

Dihimpun dari berbagai sumber oleh : Eka Rismawina, SP (Admin cyber extention Kabupaten Tabalong dan Penyuluh Pertanian Pertama pada Balai Penyuluhan Pertanian Kelua)


Materi penyuluhan ini juga disampaikan pada siaran Radio Suara Tabalong gelombang 95,4 FM dengan topik Hama Wereng di Musim tanam padi 2017-2018, hari Senin tanggal 05 Maret 2018

Tanggal Artikel : 14-03-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait