Materi Lokalita >> JAMBI

SEKOLAH LAPANG DI POKTAN SUKO MAJU DESA BAJUBANG LAUT KEC. Ma. BULIAN KAB. BATANG HARI SEBAGAI SUATU MEDIA PENYULUHAN

Sumber Gambar: dok.pribadi

Keberadaan Kelompok Tani Suko Maju sebagai salah satu kelompok peserta kegiatan Sekolah Lapang (SL) dan Rembug Tani komoditi cabe merah untuk Tahun 2017 mempunyai anggota sebanyak 25 orang berlokasi di Desa Bajubang Laut, Kecamatan Muara Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi. Desa Bajubang Laut sebagai salah satu Desa Sentra Sayuran untuk memenuhi kebutuhan pasar Muara Bulian dan sekitarnya , yang salah satunya adalah komoditi cabe merah. Dalam melaksanakan pembinaan tentang tekhnologi budidaya cabe merah Sekolah Lapang (SL) merupakan media penyuluhan yang tepat, karena Sekolah Lapang (SL) dipandang sebagai salah satu metode dalam proses belajar mengajar yang cukup efektif karena sangat cocok sebagai metode pembelajaran bagi orang dewasa yang mempunyai sifat tidak formal. Proses belajar dilaksanakan di lapangan dimana tersedia objeknya tanam berupa tanaman cabe merah yang dijadikan materi pembelajaran. Sekolah lapang adalah proses pembelajaran non formal bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam mengenali potensi, menyusun Rencana Usaha ,Identifikasi dan mengatasi permasalahan , mengambil keputusan dan menerapkan tekhnologi yang sesuai dengan sumberdaya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan sehingga usahatani lebih efisien , berproduktifitas tinggi dan berkelanjutan.
Untuk menjamin proses belajar mengajar yang efisien ,terarah, kegiatan Sekolah Lapang (SL) ditetapkan dengan berpedoman pada beberapa hal sebagai berikut : Peserta Sekolah Lapang (SL) adalah anggota kelompoktani Sukomaju; Tujuan kegiatan dilakukan budidaya cabe merah dengan mengamati perkembangan tanaman; Sekolah Lapang (SL) dilaksanakan 3 (tiga) kali selama kegiatan; Materi pembelajaran terdiri dari pengamatan, diskusi, dan tukar menukar informasi dan penjelasan materi betul –betul hambatan petani dan disepakati bersama petani; Proses pembelajaran dipandu oleh fasilitator yang berfungsi mengamankan proses belajar sebagai penengah dalam melaksanakan diskusi; Petani selaku peserta belajar memiliki hubungan yang sama untuk berbicara dan mengeluarkan pendapat dan merupakan tugas fasilitator untuk menciptakan suasana harmonis dan berimbang dalam proses belajar dan Pada setiap akhir proses belajar diaharapkan adanya kesepakatan tindak lanjut diantaranya kesiapan untuk menerapkan tekhnologi yang sudah dipelajari oleh peserta , pemecahan masalah ( bagaimana, kapan ) prioritas materi pada pertemuan selanjutnya. (Admin Batanghari cq. Lily Rokmadiani, S.TP/Darmawansyah Siata ... admin_jambi)
Penulis : Zakaria, SP/Penyuluh Pertanian Madya (Kabupaten Batanghari)

Tanggal Artikel : 09-03-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait