Materi Lokalita >> SUMATERA UTARA >> KABUPATEN BATU BARA

Teknologi Jajar Legowo 2:1

Sumber Gambar: Desa Tanah Tinggi

Cara Tanam Sistem Legowo
Tanam jajar legowo adalah suatu rekayasa teknik tanam yang merupakan perubahan dari jarak tanam sistem tegel, dengan mengatur jarak tanam antar rumpun dan antar barisan, sehingga terjadi pemadatan rumpun padi. Dengan menerapkan sistem tanam jajar legowo 2:1 tersebut populasi tanaman persatuan luas meningkat dibanding dengan sistem tegel. Jarak antar kelompok barisan (lorong) bisa 40 cm, 50 cm. Sedangkan jarak dalam barisan sejajar legowo bisa 12.5 cm, 13.5 cm, atau 15 cm.
Prinsip dasar tanam padi sistem legowo yaitu, menjadikan semua barisan maupun tanaman berada pada bagian pinggir, dengan kata lain seolah-olah tanaman berada pada pinggir galengan, sehingga semua tanaman mendapat efek samping atau manfaatnya sama. Sama disini maksudnya sama dalan kuantitas cahaya matahari dan dalam pemberian pupuk karena petani sudah lebih leluasa mengamati dan memberi perlakuan.
Keuntungan sistem Legowo dibandingkan dengan sistem Tegel
1. Populasi tanaman persatuan luas meningkat
Teknologi tanaman padi sistem legowo merupakan rekayasa teknologi pengaturan jarak tanam untuk mendapatkan nilai lebih dari sistem tegel, yang sudah biasa dilakukan oleh petani. Untuk memdapatkan populasi tanaman lebih besar atau sama dengan 160.000 rumpun per ha dapat diatur dengan teknik cara tanm legowo. Populasi tanaman per ha pada cara tanam legowo ditentukan oleh
a. lebar legowo,
b. jarak tanam dalam dan antar barisan ,
c. jumlah barisan tanaman dintara dua baris legowo
Jarak tanam yang digunakan dalam SL adalah legowo 50 x 25 x 12.5 cm
JR = (50 + 25) x 12.5
2
= 468.75
= 10000
468.75
= 21.333
Maka populasi tanaman per hektar adalah : 10000 x 21.333 = 213.330 rumpun
2. Pertumbuhan padi lebih merata
Ruang terbuka (ruang kosong) mempunyai arti penting dalam usahatani padi, terutama pada lahan luas dan sawah berpengairan terus menerus. Dengan adanya ruang terbuka diantara dua barisan legowo, tanaman padi mempunyai kesempatan yang sama dalam mendapatkan sinar matahari, kerena semua berada pada barisan pinggir atau seolah-olah dekat galengan.
3. Memudahkan pemeliharaan
Pada sistem legowo, pupuk diberikan pada jalur barisan tanaman diantara dua legowo, sedangkan pada lorong yang kosong (jalur legowo) tidak diberi pupuk. Dengan demikian gulma yang berada pada lorong yang kosong pertumbuhannya terhambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan padi. Pengendalian gulma dengan menggunakan landakan hanya dilakukan satu arah sepanjang barisan legowo, tanpa harus memotong seperti halnya pada sistem tegel.
Dengan adanya lorong yang kosong , maka sinar matahari dapat langsung sampai pada bagian pangkal tanaman. Dalam keafaan seperti ini, hama dan penyakit lebih kecil dibandingkan dengan sistem tegel. Aktivitas pengendalian OPT dengan penyemprotan insektisida lebih mudah dan lebih merata pada seluruh bagian tanaman.
4. Pemupukan lebih efektif dan efisien
Pada sistem legowo terdapat dua barisan tanaman diantara dua legowo. Pemberian pupuk hanya dilakukan pada jalur/lorong antara dua barisan tersebut. sedangkan pada lorong yang lebih lebar (legowo) tidak perlu diberi pupuk . Dengan demikian pemberian pupuk lebih efektif dan efisien, kerena pupuk ditempatkan tepat di tengah atau diantara barisan tanaman. Disamping itu dengan adanya lorong terbuka, pelaksanaan pemupukan menjadi lebih mudah.

penulis : Tiurma Junita P,SP


Sumber : BAKORLUH Oleh Ir Darwin Girsang, Medan

Tanggal Artikel : 14-02-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait