Materi Lokalita >> SUMATERA UTARA >> KABUPATEN BATU BARA

Peningkatan Populasi Melalui Sistem Tanam Jarwo 2:1

Sumber Gambar: Dokumentasi Kelompoktani Sekata Desa Tanjung Kubah Kecamatan Air Putih Kabupaten Batu Bara

Lahan sawah merupakan media utama produksi padi dengan produktivitas yang relatif lebih baik dari pada lahan marjinal, seperti lahan kering dan lahan rawa. Saat ini produktivitas padi sawah Indonesia menduduki peringkat ke-10 dari 30 negara utama penghasil beras dunia dan peringkat ke-3 di Asia setelah China dan Vietnam.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah menghasilkan berbagai teknologi guna mewujudkan ketahanan pangan, khususnya program peningkatan produksi padi nasional. Teknologi tersebut antara lain varietas unggul baru, sistem tanam Jajar Legowo, biodekomposer yang mampu mempercepat pengomposan jerami, pupuk hayati dan pemupukan berimbang, pestisida hayati dan alat mesin pertanian
Sistem tanam jajar legowo kerapatan tanam merupakan salah satu komponen penting dalam teknologi budidaya untuk memanipulasi tanaman dan mengoptimalkan hasil. Sistem tanam jajar legowo 2:1 merupakan sistem tanam pindah antara dua barisan tanaman terdapat lorong kosong memanjang sejajar dengan barisan tanaman dan dalam barisan menjadi setengah jarak tanam antar baris. Sistem tanam jajar legowo bertujuan untuk peningkatan populasi tanaman per satuan luas, perluasan pengaruh tanaman pinggir dan mempermudah pemeliharaan tanaman.
Penerapan sistem tanam jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam 25 cm x 12,5 cm x 50 cm meningkatkan populasi tanaman menjadi 213.333 rumpun/ha atau meningkat 33,3%, dibandingkan sistem tegel 25 cm x 25 cm dengan populasi 160.000 rumpun per ha. Bila dalam luasan yang lebih kecil populasi tanaman dalam 1,5 m x 1,0 m = 4 rumpun x 8 rumpun atau 1,5 m2 = 32 rumpun atau 1 ha = 10.000/1,5 m2 x 32 rumpun = 213.333 rumpun. Berbeda bila system tanam jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam 20 cm x 10 cm x 40 cm jumlah populasi tanaman menjadi 333.333 rumpun/ha, meningkat 33,3% dibandingkan dengan system tegal 20 cm x 20 cm dengan populasi 250.000 rumpun. Bila dikonversi dalam luasan yang lebih kecil populasi tanaman dalam 1,2 m x 1 m = 4 rumpun x 10 rumpun atau 1,2 m2 = 40 rumpun atau 1 ha = 10.000/1,2 m2 x 40 rumpun = 333.333 rumpun.
Penanaman dapat menggunakan mesin tanam Indojarwo transplanter atau secara manual. Kondisi air pada saat tanam macak-macak untuk menghindari selip roda dan memudahkan pelepasan bibit dari alat tanam. Jika diperlukan, populasi tanaman dapat disesuaikan dengan cara mengatur jarak tanam dalam barisan danjarak antar legowo.
Penanaman secara manual dilakukan dengan bantuan caplak. Pencaplakan dilakukan untuk membuat "tanda" jarak tanam yang seragam dan teratur. Ukuran caplak menentukan jarak tanam dan populasi tanaman per satuan luas. Jarak antar baris dibuat 25 cm, kemudian antar dua barisan dikosongkan 50 cm. Jarak tanam dalam barisan dibuat sama dengan setengah jarak tanam antar baris (12,5 cm).Tanam dengan cara manual menggunakan bibit muda (umur 15-18 hari setelah sebar), ditanam 2-3 batang per rumpun.
Dalam teknologi Jajar Legowo , dianjurkan menggunakan bibit yang sehat dan bibit muda untuk menghindari terjadinya stagnasi bibit yang terlalu lama sehingga waktu tanam pindah resiko kematian tanaman semakin rendah dan keseragaman tanaman tinggi. Kualitas bibit sangat dipengaruhi kegiatan persemaian yang dilakukan. Persemaian dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu system dapok atau system persemaian biasa.

Persemaian dengan sistem dapog diawali dengan pemeraman benih selama dua hari kemudian ditiriskan, lalu dicampur dengan pupuk hayati dengan takaran 500 gram/25 kg benih, atau setara untuk 1 ha lahan. Benih disebar pada kotak dapog berukuran 18 cm x 56 cm dengan jumlah benih sekitar 100-125 gram/kotak. Kemudian benih disebar merata pada persemaian dapog. Dapog juga dapat dibuat secara insitu menggunakan plastik lembaran dengan media tanam yang terdiri atas campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 3:2. Pada saat berumur 14-17 hari setelah semai (HSS), atau tanaman sudah tumbuh dengan tinggi 10-15 cm dan memiliki 2-3 helai daun, bibit dari persemaian dapog ditanam ke sawah menggunakan alat mesin Indojarwo transplanter. Kebutuhan bibit antara 200-230 dapog untuk setiap hektar lahan.

Bila menggunakan persemaian biasa, benih diperam dua hari kemudian ditiriskan dan setelah dicampurdengan pupuk hayati langsung disebar merata di persemaian. Bibit ditanam saat berumur 15-18 hari setelah sebar

Sumber: Buku Petunjuk Teknis Budidaya Padi Jajar Legowo Super Badan Penelitian dan pengembangan Pertanian Kementrian Pertanian Tahun 2016

PENULIS : kENNEDI,s.st

 

Tanggal Artikel : 14-02-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait