Materi Lokalita >> NUSA TENGGARA TIMUR >> KABUPATEN SUMBA BARAT

Materi Demplot Padi Sawah tentang Manajemen Agribisnis Tanaman Padi oleh Alex Bobo Tanggu.

Sejarah Singkat
Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam.
Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban manusia. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia. Hasil dari pengolahan padi dinamakan beras.
Klasifikasi botani tanaman padi adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monotyledonae
Keluarga : Gramineae (Poaceae)
Genus : Oryza
Spesies : Oryza spp.
SUBSISTEM USAHA TANI : PERKEMBANGAN LUAS AREAL, PERKEMBANGAN PRODUKSI, PENYEBARAN PRODUKSI DI INDONESIA, JENIS-JENIS BIBIT UNGGUL, POTENSI PRODUKTIVITAS, SYARAT-SYARAT UTAMA PERTUMBUHAN TANAMAN.


Perkembangan Luas Areal

Pusat penanaman padi di Indonesia adalah Pulau Jawa (Karawang, Cianjur), Bali, Madura, Sulawesi, dan akhir-akhir ini Kalimantan. Pada tahun 1992 luas panen padi mencapai 10.869.000 ha dengan rata-rata hasil 4,35 ton/ha/tahun. Produksi padi nasional adalah 47.293.000 ton. Pada tahun itu hampir 22,5 % produksi padi nasional dipasok dari Jawa Barat. Dengan adanya krisis ekonomi, sentra padi Jawa Barat seperti Karawang dan Cianjur mengalami penurunan produksi yang berarti.
Departemen Pertanian (Deptan) menyediakan lebih dari 220 ribu ton benih padi untuk musim tanam (MT) 2008/2009 atau periode Oktober 2008-Maret 2009. Dari benih padi sebanyak 220.373,52 ton itu, terdiri benih bersertifikat 121.667,06 ton dan benih non-sertifikat yang disediakan sendiri oleh petani sebanyak 98.706,46 ribu ton."Benih bersertifikat disediakan melalui bantuan pemerintah dan pasar bebas baik yang bersubsidi maupun tidak bersubsidi," ujar Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Alimoeso di Jakarta kemarin.
Dijelaskan, dengan sasaran tanam padi seluas 7,79 hektar, maka pada periode Oktober 2008-Maret 2009 kebutuhan benih potensial mencapai 194.823,23 ton. Dengan demikian, penyediaan benih padi pada periode tersebut terdapat surplus 25.594,77 ton atau 13,11% dari kebutuhan.
Dikatakan, selama Masa Tanam 2008/2009 sasaran luas tanam terbesar pada Desember 2008 yakni 2,20 juta hektar dengan kebutuhan benih potensial 55.080,88 ton. Sedangkan jumlah penyediaan benih mencapai 61.139,77 ton. Kemudian Januari 2009 mencapai 1,55 juta hektar dengan kebutuhan benih potensial 38.795,68 ton dan penyediaan 43.839,11 ton. November 2008 diperkirakan kebutuhan benih potensial mencapai 33.650,60 ton untuk sasaran tanam 1,34 juta hektar dengan jumlah penyediaan sekitar 37.688,67 ton.
Sementara Maret 2009 kebutuhan benih potensial mencapai 35.886,98 ton untuk sasaran tanam 1,03 juta hektar dengan jumlah penyediaan 31.064,37 ton. Sisanya yakni untuk Oktober 2008 dan Februari 2009 dengan sasaran tanam masing-masing di bawah 1 juta hektar. "Varietas-varietas yang tersedia yakni Ciherang, IR 64, Cigeulis, Ciliwung, Cobogo dan lain- lain.

Perkembangan Produksi

Revolusi Hijau dan revolusi bibit-bibitan mulai di¬perkenalkan sekitar tahun 1960-an di berbagai negara berkembang. Tahun 1962 misalnya, di Indonesia diperkenalkan jenis padi baru produk dari Lemba¬ga Penelitian Padi Internasional (IRRI: International Rice Re¬search Institute) di Philipina. Padi jenis baru yang dikenal dengan nama PB 8 ini adalah hasil persilangan generasi ke-8 dari 38 persilangan antara jenis padi sedang dan jenis padi unggul PETA asal Indonesia.
Keunggulan jenis baru ini dapat hidup di berbagai ketinggian karena tidak sensitif terhadap fotosintesis, juga tidak mengenal musim. Batang dan pelepahnya kuat, tumbuhnya kokoh pada nitrogen tinggi, maka kuat menopang untaian bulir-bulir. Satu hektar sawah dapat menghasilkan 10 ton gabah, bandingkan dengan pertanian tradisional yang "cuma" menghasilkan 5 @ 6 ton gabah per hektar.
Kemudian diperkenalkan jenis-jenis padi unggul lainnya. Penyebaran bibit-bibit unggul begitu pesatnya, di tahun 1974 sekitar 54% sawah basah di seluruh Indonesia sudah di-"Revolusi Hijau"-kan. Sepuluh tahun kemudian menjadi 67% dan pada tahun 1975 varietas unggul telah memenuhi lebih dari 74% lahan sawah basah di Indonesia. Penanaman padi tradisional tersingkir ke pinggir. Bahwasanya padi tradisional masih bisa eksis, itu hanya berkat kemampuan varietas tradisional ini untuk tumbuh di tanah-tanah yang tinggi (pegunungan), di areal rawa-rawa berair dalam dan lahan-lahan yang kurang sesuai untuk padi teknologi baru.
Teknologi Revolusi Hijau paling cocok pada sawah dataran rendah, karenanya di areal ini varietas tradisonal tidak punya hidup lagi. Persilangan-persilangan jenis padi tidak hanya terjadi di Phlipina, juga di Indonesia sendiri terjadi penyilangan padi. Padi-padi silang yang dihasilkan di Indonesia diberi nama-nama sungai atau nama-nama gunung seperti Cisedane, Cimandiri, Citarum, Semeru, Sadang, Krueng Aceh.
Tiga jenis padi silang yang membawa Indonesia ke tingkat swasembada beras adalah padi IR 36, Cisedane dan Krueng Aceh. Panen 3 jenis padi ini berhasil meningkatkan produksi lebih dari 49% di tahun 1979 sampai 1985. Malangnya kemudian terjadi lagi wabah wereng coklat yang menyerang sekitar 100.000 hektar sawah yang ditanami jenis-jenis padi unggul tersebut. Di belakang hari masih ditemukan bibit unggul baru yang dikenal dengan padi IR 64. Namun bersamaan dengan munculnya padi jenis-jenis baru, muncul pula jenis hama-hama baru. Maka manusiapun menciptakan jenis pestisida baru untuk membunuh hama-hama baru tersebut. Itulah mata rantai yang terjadi akibat Revolusi Hijau.
Penanaman bibit-bibit unggul jenis baru, jelas menuntut perubahan praktek bertani. Sistem pertanian tradision¬al tidak cocok lagi untuk menanam bibit-bibit unggul. Hanya dalam kurun waktu 20 tahun saja, sistem pertanian tradisional telah digantikan oleh model baru yang meningkatkan kerawanan-kerawanan. Tetapi dapat menyebabkan rusaknya keseimbangan ekosistem, rusaknya tanah, pencemaran makanan, juga munculnya hama-hama tanaman jenis baru. Akibat hama wereng kerugian mencapai 500 juta US $ atau setara dengan panen seki¬tar 3 juta ton. Situasi itu memunculkan penemuan IRRI jenis baru IR 36 dan IR 38 yang tahan hama wereng coklat, sehingga di tahun 1977 hasil panen nasional dapat dikembalikan ke tingkat semula (Sugeng, 2001).

Penyebaran Produksi di Indonesia

Pusat penanaman padi di Indonesia adalah Pulau Jawa (Karawang, Cianjur), Bali, Madura, Sulawesi, dan akhir-akhir ini Kalimantan. Pada tahun 1992 luas panen padi mencapai 10.869.000 ha dengan rata-rata hasil 4,35 ton/ha/tahun. Produksi padi nasional adalah 47.293.000 ton. Pada tahun itu hampir 22,5 % produksi padi nasional dipasok dari Jawa Barat. Dengan adanya krisis ekonomi, sentra padi Jawa Barat seperti Karawang dan Cianjur mengalami penurunan produksi yang berarti.
Produksi padi nasional sampai Desember 1997 adalah 46.591.874 ton yang meliputi areal panen 9.881.764 ha. Karena pemeliharaan yang kurang intensif, hasil padi gogo hanya 1-3 ton/ha, sedangkan dengan kultur teknis yang baik hasil padi sawah mencapai 6 – 7 ton/ha.
Tabel Penyebaran Produksi Padi di Indonesia
No. Daerah Luas Panen Padi Sawah
(x 1.000 ha) Luas Panen Padi Ladang (x 1.000 ha)
1. Jawa 3.786 403
2. Sumatera 1.168 708
3. Kalimantan 448 270
4. Bali – Nusatenggara 335 132
5. Maluku – Irian Jaya - 5

(Sumber : BPP Teknologi dan MiG-6 Plus / Teguh Rahayu).

Jenis – Jenis Bibit Unggul
Balai Penyelidikan Padi di Bogor telah menemukan berbagai padi jenis unggul baru, antara lain dengan nama C4, sebagai hasil penelitian Dr. H. Siregar. Demikian juga kita mengenal jenis padi lain seperti Begawan, Peta, Remaja, Sigadis dan lainnya. Padi PB 5 dan PB 8 adalah padi jenis unggul hasil penelitian " Internasional Rice Research Institute " di Filipina. Nama padi itu sebenarnya IR 5 dan IR 8 kemudian di Indonesia diubah menjadi PB 5 dan PB 8. Huruf – huruf PB berasal dari singkatan Peta Baru.
Internasional Rice Research Institute (IRRI) telah menghasilkan lagi padi jenis baru yaitu IR 24. Sifat IR 24 itu lebih disenangi oleh masyarakat Indonesiadan Filipina, nasinya lunak dan lembab. Selain itu sifat lainnya dapat dituai pada umur 120 hari dan lebih tahan terhadap hama dan penyakit.
Dalam penelitian selanjutnya dihasilkan penyilangan – penyilangan baru dengan nama IR 26, IR 30, IR 32, IR 36. Demikian pula balai penyelidikan padi di bogor juga menyebarkan padi – padi jenis baru antara lain VUTW atau varietas Unggul Tahan Wereng dan Cisadane. Lembaga lain yang ikut berpartisipasi dalam usaha menyilangkan untuk mendapatkan varietas padi jenis baru adalah LIPI.
Produksi Beberapa Padi Jenis Unggul
No. Varietas Umur Hari Hasil Gabah kw/ha
1. Syntha 148 35
2. Dewi Tara 148 34
3. PB 5 135 60
4. PB 8 125 61
5. C4 125 – 150 -
6. IR 8 - 65
7. IR 20 - 55
8. IR 22 - 63
9. IR 24 - 68

(Sugeng, 2001).


Potensi Produktivitas

Dengan menggunakan bibit unggul, ujarnya para petani tidak perlu menunggu lama untuk memanen padi mereka. Hanya membutuhkan waktu 105 hari saja petani sudah bisa panen padi. Padi yang dihasilkan dari bibit unggul juga mempunyai harga jual tinggi dan cukup digemari di pasaran karena rasanya enak. Ketahanan benih ini maksimal enam bulan. Dia mengungkapkan jenis bibit unggul padi yang banyak diminati petani yaitu jenis padi Ciherang.
Dia mengungkapkan penyaluran bibit unggul di Kalbar telah mencapai 160 ton. Direncanakan pada 2007, dinas pertanian Kalbar akan membantu mensubsidi benih. Dimaksudkan untuk membantu para petani akan harga bibit unggul yang lebih tinggi dari bibit lokal dengan kualitas rendah. Bibit tersebut akan disalurkan melalui sentra-sentra bibit yang ada di daerah termasuk sentra bibit di Singbebas yaitu Singkawang, Bengkayang, dan Sambas. (http://arsip.pontianakpost.com, 2009).

Syarat – Syarat Utama Pertumbuhan Tanaman

Iklim


a. Tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 45 derajat LU sampai 45 derajat LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan.
b. Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun. Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim kemarau produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah prduksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif.
c. Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0-650 m dpl dengan temperature 22-27 derajat C sedangkan di dataran tinggi 650-1.500 m dpl dengan temperature 19-23 derajat C.
d. Tanaman padi memerlukan penyinaram matahari penuh tanpa naungan.
e. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu kencang akan merobohkan tanaman.


Media Tanam

1) Padi gogo
a. Padi gogo harus ditanam di lahan yang berhumus, struktur remah dan cukup mengandung air dan udara.
b. Memerlukan ketebalan tanah 25 cm, tanah yang cocok bervariasi mulai dari yang berliat, berdebu halus, berlempung halus sampai tanah kasar dan air yang tersedia diperlukan cukup banyak. Sebaiknya tanah tidak berbatu, jika ada harus < 50%.
c. Keasaman tanah bervariasi dari 4,0 sampai 8,0.

2) Padi sawah
a. Padi sawah ditanam di tanah berlempung yang berat atau tanah yang memiliki lapisan keras 30 cm di bawah permukaan tanah.
b. Menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm.
c. Keasaman tanah antara pH 4,0-7,0. Pada padi sawah, penggenangan akan mengubah pH tanam menjadi netral (7,0). Pada prinsipnya tanah berkapur dengan pH 8,1-8,2 tidak merusak tanaman padi. Karena mengalami penggenangan, tanah sawah memiliki lapisan reduksi yang tidak mengandung oksigen dan pH tanah sawah biasanya mendekati netral. Untuk mendapatkan tanah sawah yang memenuhi syarat diperlukan pengolahan tanah yang khusus.

Ketinggian Tempat

Tanaman dapat tumbuh pada derah mulai dari daratan rendah sampai daratan tinggi.

( Sumber : BPP Teknologi dan MiG-6 Plus / Teguh Rahayu ).


SUBSISTEM SARANA PRODUKSI : JENIS-JENIS DAN KEBUTUHAN SARANA PRODUKSI (BIBIT, PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK, PESTISIDA, HERBISIDA, KIMIA PERTANIAN, ALAT-ALAT DAN MESIN PERTANIAN, SUMBER-SUMBER PRODUKSI DAN PEMASARAN SARANA PRODUKSI


Bibit

Jenis – jenis bibit padi yang tersedia di pasaran dan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat adalah :
- Aek Sibundong
- Air Tenggulang
- Bibit Padi Angke
- Bibit Padi Bahbutong Bah Butong
- Bibit Padi Banyuasin Banyu Asin
- Bibit Padi Barito
- Bibit Padi Barumun
- Bibit Padi Batang Gadis
- Bibit Padi Batang Piaman
- Bibit Padi Batang hari
- Bibit Padi Bondojudo
- Bibit Padi Celebes
- Bibit padi Ciapus
- Bibit Padi Cibogo
- Bibit Padi Cigeulis
- Bibit Padi Ciherang
- Bibit Padi Cikapundung
- Bibit padi Cilamaya Muncul
- Bibit Padi Ciliwung
- Bibit Padi Cilosari
Pupuk Organik dan Pupuk Anorganik

Pupuk organik yang digunakan sebagai pupuk dasar berupa pupuk kandang atau kompos matang sebanyak 5 ton / ha. Pupuk kandang tersebut diberikan bersamaan dengan pembajakan kedua. Cara pemberiannya dengan disebarkan secara merata ke selurauh permukaan tanah. Setelah disebarkan, pupuk tersebut dibiarkan selama 4 hari. Selanjutnya tanah sawah di garu sehingga pupuk kandang dapat menyatu dengan tanah. Terkadang untuk memperoleh pupuk kandang atau kompos matang sebanyak 5 ton agak sulit. Sebagai gantinya dapat digunakan pupuk fermentasi atau bokashi ini lebih hemat dibandingkan dengan pupuk kandang atau kompos, cukup 1,5 – 2 ton / ha.
Pupuk anorganik yang digunakan dalam penanaman tanaman padi adalah pupuk yang mengandung bahan kimia antara lain: Pupuk anorganik yang dianjurkan Urea=200 kg/ha, TSP=50-75 kg/ha dan KCl=100 kg/ha. Pupuk Urea diberikan 2 kali, yaitu pada 3-4 minggu, 6-8 minggu setelah tanam. Urea disebarkan dan diinjak agar terbenam. Pupuk TSP diberikan satu hari sebelum tanam dengan cara disebarkan dan dibenamkan. Pupuk KCl diberikan 2 kali yaitu pada saat tanam dan saatc menjelang keluar malai (untuk hasil 9 ton/ha dibutuhkan N : 171 kg atau setara dengan urea 400 kg, P : 54 kg atau setara dengan 154 TSP. K : 180 kg atau setara dengan 200 KCL sedangkan dengan MiG-6 Plus 6 liter / ha dapat menghasilkan N : 90kg, P: 50kg dan K:50kg, catatan: 1 ton membutuhkan 19 kg N, 6 kg P dan 19,4 kg K).
(http://www.merauke.asia, 2009).

Pestisida

Masalah besar yang dihadapi petani terutama sejak dimulainya revolusi hijau adalah serangan hama yang dapat menghancurkan tanaman. Dalam pertanian tradisional, masalah hama yang dihadapi petani tersebut tidaklah terlalu dipusingkan karena pertani tidak merasa dirugikan. Seiring dengan perjalanan waktu, lambat laun masalah hama ini menjadi perhatian yang utama. Untuk menghadapi masalah tersebut petani mengembangkan suatu bahan untuk mengendalikannya yaitu, dengan pestisida. Pestisida yang merupakan insektisida atau racun pembasmi serangga ini sangat ampuh. Keampuan DDT sebagai racun pembasmi serangga ternyata diakui hampir seluruh orang. Namun Pestisida memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan juga manusia. (BPP Teknologi dan MiG-6 Plus, 2009).

Herbisida

Herbisida juga digunakan dalam manajemen agribisnis padi. Herbisida adalah racun yang digunakan untuk membunuh gulma atau tanaman penggangu yang ada di sekitar padi yang bersifat merugikan atau menganggu tanaman padi sehingga pada akhirnya juga akan menurunkan produktivitas tanaman padi tersebut.

Kimia Pertanian

Untuk pertumbuhan optimal, tanaman memerlukan hara atau zat makanan yang memadai di dalam tanah. Secara alami hara tersebut terpenuhi dari serasah dedaunan dan bermacam organisme lain yang mengalami proses penguraian yang akhirnya menjadi makanan bagi tanaman. Namun untuk memacu pertumbuhannya, tanaman perlu diberi zat makanan yang kemudian dikenal sebagai pupuk.
Penggunaan pupuk kimia kemudian diketahui mempunyai efek merusak tanah. Struktur tanah yang secara alami rendah, setelah mendapat perlakuan dengan penggunaan pupuk kimia secara simultan terus – menerus akhirnya menjadi bantat (sangat keras) (Andoko, 2002).

Alat – alat dan Mesin Pertanian

Sabit
Sabit juga merupakan satu jenis alat tradisional yang digunakan dalam bidang pertanian. Sabit adalah pisau yang melengkung dengan mata yang licin atau bergerigi.

Bagian dalam dari lengkungan berbentuk tajam, bentuk lengkung ini memudahkan dalam proses memotong dengan cara mengiris bagian bawah tanaman yang dipotong dengan cara mengayunkan seperti gerakan memarang dengan satu tangan, atau ketika untuk mengumpulkan rumput atau memanen tanaman padi tangan yang lain biasanyah memegang pokok tanaman. Ia mempunyai pemegang/ hulu yang diperbuat daripada kayu. Kegunaan alat ini yang paling utama adalah untuk memotong padi, rumput dan mengait buah seperti kelapa dan kelapa sawit. Namun begitu, penggunaannya yang paling meluas adalah untuk menuai padi di mana ia menggantikan penggunaan ani-ani yang merupakan alat utama penuai padi pada era 1960-an. Penggembala lembu dan kambing di kampung-kampung menggunakan sabit tangan untuk menyabit rumput sebagai makanan ternakan tersebut.
Alat Perontok
Power Thresher ini dapat dipakai untuk merontokkan biji-bijian (padi, jagung dan kedelai) dan dilengkapi dengan pengayak sehingga biji-bijian yang dihasilkan relatif bersih.
Mesin Sabit
Sabit biasa ataupun sabit bergerigi disebut juga sebagai alat pertanian. Namun teknologi panen padi yang berupa mesin sabit (Mower) dapat disebut sebagai mesin pertanian, karena tenaga penggeraknya adalan enjin (engine) 2 taks2 HP 6000 rpm dan berbahan bakar bensin campur. Bila menggunakan bahan bakar bensin murni, enjin akan mengalami kerusakan yang serius.
Penyemprot Hama
Pestisida yang dipakai dalam budidaya tanaman umumnya berbentuk cairan dan ada pula yang berbentuk tepung, digunakan untuk mengendalikan gulma, hama dan penyakit tanaman. Untuk mengaplikasikannya pestisida cair digunakan alat penyemprot yang disebut sprayer, sedangkan untuk pestisida berbentuk tepung digunakan alat yang disebut duster. Dalam penggunaannya sehari-hari petani sering menemukan masalah seperti teknik pemakaian, serta perbaikan dan pemeliharaannya. Hal seperti ini pada akhirnya akan menentukan tingkat efisisnsi dan efektivitas dalam penggunaannya. penyemprot dibedakan menjadi: alat penyemprot dengan tenaga tangan (handsprayer), dan alat penyemprot dengan pompa tekanan tinggi.
Mesin Perontok Padi Tipe Sisir
Salah satu masalah dalam usaha tani padi adalah makin langkanya tenaga kerja manusia baik untuk kegiatan prapanen maupun panen. Untuk mengatasi masalah tersebut, kini banyak diperkenalkan alat mesin pertanian salah satunya adalah mesin perontok (thresher). Jenis dan tipe alat perontok padi cukup bannyak, namun yanng populer di kalangan petani adalah gebot (manual) dan thresher (mekanis).
Perontokan gabah secara manual dengan menggunakan gebot cukup melelahkan, apalagi bila gabah sulit rontok seperti Varietas Fatmawati. Untuk varietas yang gabahnya sulit rontok, perontokan dengan thresher juga akan menurunkan kapasitas perontokan. Berdasarkan hasil penelitian Direktorat Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil tahun 1999, kehilangan hasil akibat perontokan dengan system gebot mencapai 7,5%.
Bajak
Bajak merupakan sebuah alat di bidang pertanian yang dipergunakan untuk menggemburkan tanah sebelum melakukan penanaman dan penaburan benih, juga merupakan salah satu alat paling sederhana dan berguna dalam sejarah.
Tujuan utama dari membajak adalah untuk membawa tanah bagian dalam yang subur ke permukaan. Bajak biasanya ditarik oleh seekor sapi. Walau demikian, di beberapa daerah, bajak ditarik oleh kuda. Sedangkan, di negara-negara maju, dipergunakan tenaga uap.
Salah satu jenis bajak adalah bajak singkal. Bajak singkal merupakan peralatan pertanian untuk pengolahan tanah yang digandengkan dengan sumber tenaga penggerak/penarik seperti tenaga penarik sapi, kerbau atau traktor pertanian. Bajak singkal berfungsi untuk memotong, membalikkan, pemecahan tanah serta pembenaman sisa-sisa tanaman kedalam tanah, dan digunakan untuk tahapan kegiatan pengolahan tanah pertama. Bajak singkal dirancang dalam beberapa bentuk untuk tujuan agar diperoleh kesesuaian antara kondisi tanah dengan tujuan pembajakan. Aneka ragam rancangan yang dijumpai selain pada bentuk mata bajak, juga di bagian perlengkapannya.


Sumber – Sumber Produksi dan sarana pemasaran produksi

Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Alimoeso mengemukakan kepada pers, sekitar 100.000 hektar areal persawahan musim tanam 2007-2008 yang berlangsung selama periode Oktober-Maret mengalami puso dan gagal panen. Pernyataan ini mengejutkan mengingat pengaruhnya tidak kecil terhadap produksi beras nasional. Dengan perkiraan tiap hektar menghasilkan lima ton gabah kering giling (GKG), maka kehilangan akibat puso dan gagal panen mencapai 500.000 ton, atau setara 325.000 ton beras.
Kehilangan akibat gagal panen masih akan terjadi mengingat selama ini kita mengenal dua musim tanam. Selain musim tanam (MT) 2007-2008 yang biasa juga disebut tanaman padi rendeng, sistem pertanian di sebagian besar wilayah Indonesia berlangsung tanaman padi gadu. Tanaman padi rendeng berlangsung pada musim hujan dan tanaman padi gadu berlangsung pada musim kemarau. Kedua musim tanam itu mengandung implikasi berbeda.
Selama ini kita bukan hanya tidak berhasil mengendalikan penjarahan hutan, tetapi penghijauan yang dilakukan selama ini belum memperlihatkan hasilnya. Di Pulau Jawa setidaknya terdapat tujuh daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi sumber pengairan dan irigasi, seperti DAS Ciliwung, Citarum, Cimanuk, Citanduy, Bengawan Solo, dan DAS Brantas termasuk dalam kondisi kritis.


SUBSISTEM PENGOLAHAN : HASIL-HASIL PENGOLAHAN SAMPAI INDUSTRI HILIR (POHON PRODUKSI HASIL PENGOLAHAN), CARA PENGOLAHAN SINGKAT, RENDEMEN


Agribisnis hulu mencakup semua kegiatan bisnis/usaha untuk memproduksi dan menyalurkan input-input pertanian. Kegiatan-kegiatan ini meliputi antara lain: membuat dan menjual keperluan pertanian (pupuk organik, pestisida organik, pakan ternak, dan lain-lain), pengadaan dan menjual bibit unggul, dan lain-lain.
Sedangkan agribisnis hilir sering disebut agroindustri adalah kegiatan industri atau pengolahan bahan makanan atau makanan yang menggunakan bahan baku hasil-hasil pertanian. Di samping itu juga kegiatan-kegiatan pengangkutan dan penyimpanan hasil-hasil pertanian.
Pengolahan hasil pertanian adalah melakukan proses pembuatan bahan makanan atau makanan dengan bahan baku hasil tanaman atau ternak. Bahan makanan dapat dimakan harus diolah lagi, tetapi makanan dapat langsung dimakan. Contoh hasil pertanian diolah menjadi bahan makanan adalah: singkong menjadi tepung (tapioka, kasava, lainnya), kelapa menjadi minyak, buah marquisa menjadi sirup, ketan/beras menjadi tepung, daging menjadi dendeng, dan lain-lain. Sedangkan contoh hasil pertanian diolah menjadi makanan adalah singkong diolah menjadi kripik/tape/lemet/singkong goreng/lainnya, ketan menjadi uli/tape/lemper/lainnya, sagu menjadi bagea, daging menjadi abon, dan lain-lain.
Dalam proses produksi (baik biologis atau teknis) senantiasa disertai oleh produksi limbah dan hasil samping karena terjadi transformasi input menjadi output (bahan baku ke produk). Proses transformasi dalam semua sistem tidak terjadi secara sempurna tetapi dengan tingkat efisiensi tertentu. Dalam produksi pertanian, efisiensi berkisar pada rentang 5-40 persen. Hal ini terjadi pada indutri pengolahan padi, selain menghasilkan beras juga limbah (sekam dan dedak) dan hasil samping (menir).
Industri pengolahan padi (sederhana, kecil, menengah dan besar) menghadapi permasalahan penanganan limbah. Hampir semua penggilingan padi menumpuk sekam di sekitar bangunan. Semakin hari jumlahnya bertambah. Pembuangan sulit dilakukan karena keterbatasan tempat dan biaya yang besar. Penggunaan untuk bahan bakar (bata, pengering) masih sangat terbatas. Akibatnya, muncul berbagai persoalan lingkungan seperti estetika, bau dan sumber penyakit.
Pendekatan terpadu dalam pengolahan padi, yakni menggunakan semua bagian bahan baku untuk menghasilkan berbagai produk dalam satu lini, dapat mengurangi persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi. Makalah ini membahas berbagai konsepsi dan dampak lingkungan, teknologi pengolahan padi, dan pemanfaatan hasil samping sebagai satu industri terpadu

Cara pengolahan Singkat

Pengolahan padi menjadi beras, secara prinsip, melibatkan tahapan yang sederhana yakni:
(i) pemisahan kotoran,
(ii) pengeringan dan penyimpanan padi
(iii) pengupasan kulit (husking)
(iv) penggilingan (milling), dan
(v) pengemasan dan distribusi
Pemisahan kotoran dari padi hasil panen di sawah dilakukan karena masih banyak terbawa kotoran lain seperti jerami, daun, batang bahkan benda lain yang tidak lazim seperti batu dan pasir. Kotoran ini akan mengganggu proses pengeringan terutama penyerapan kalori dan penghambatan proses pergerakan padi pada tahapan berikutnya.
Kadar air padi hasil panen sangat bervariasi antara 18–25%, bahkan dalam beberapa kasus dapat lebih besar. Pengeringan dilakukan untuk mengurangi kadar air sampai sekitar 14% sehingga memudahkan dan mengurangi kerusakan dalam penyosohan dan proses selanjutnya. Kadar air yang terlalu tinggi menyulitkan pengupasan kulit dan menyebabkan kerusakan (pecah atau hancur) karena tekstur yang lunak.
Penyosohan adalah pengupasan kulit padi yang merupakan tahapan paling penting dari keseluruhan proses. Penglupasan kulit adalah transformasi padi menjadi beras yang secara prinsip sudah dapat dimasak untuk dimakan. Proses selanjutnya hanyalah penyempurnaan dari penyosohan dan untuk meningkatkan kebersihan. Gabungan dari sosoh serta kebersihan dan keutuhan biji adalah ukuran mutu beras putih.
Tahapan penggilingan adalah proses penyempurnaan penyosohan dan pelepasan lapisan penutup butir beras. Teknologi penggilingan sudah sangat berkembang untuk menghasilkan beras putih yang baik. Proses ini dibagi lagi menjadi penyosohan, pemutihan (whitening) dan pengkilapan (shining). Walaupun demikian, inti proses ini adalah untuk memisahkan lapisan penutup semaksimal mungkin.
Selain proses utama tersebut ada beberapa tambahan yakni operasi pemisahan yang dimaksudkan untuk mendapatkan beras putih utuh dan murni. Oleh karena itu, proses pemisahan terdiri dari pemisahan kotoran atau bahan asing (seperti batu, daun dan benda asing lainnya) dan pemisahan beras yang kurang baik (muda, busuk, berjamur, berwarna dan rusak/pecah). Perkembangan permintaan beras tanpa kerusakan yang meningkat mendorong perkembangan teknologi yang semakin canggih. Dalam konteks inilah berkembang teknologi pemisah batu, pemisah beras berdasarkan warna (color sorter), pemisah biji pecah (rotary shifter) dan pemisah biji menurut panjang (lenght grader).
Tahap akhir dari proses pengolahan adalah pengemasan yang ditujukan untuk memudahkan pengangkutan dan distribusi. Perkembangan terkini di bidang pengemasan menambah atribut maksud yakni estetika, dayatarik, informasi produk dan perbaikan daya simpan. Sebagai proses tambahan, dahulu kala pengemasan tidak berkembang karena selain volume pengolahan yang sangat kecil juga atribut mutu (sebagai perwujudan dari permintaan pembeli) masih sangat sedikit. Dewasa ini, teknologi pengemasan beras sudah sangat canggih yang meliputi keragaman bentuk, rupa, ukuran dan cara/metoda.

Pengolahan Padi Terpadu Berwawasan Lingkungan

Pengolahan padi terpadu bukanlah sesuatu yang sulit pada tingkat praktek. Residu yang diahasilkan dalam jumlah yang besar hanyalah sekam dan dedak. Residu yang lain dalam bentuk daun kering, tangkai atau bahan lain jumlahnya relatif kecil dan dapat ditangani dengan mudah (dibakar atau dikomposkan). Dua residu ini harus ditangani lebih lanjut melalui pengolahan (pemanfaatan ulang) atau dibuang dengan cara yang memenuhi persyaratan pembuangan limbah. Pembuangan sebagai limbah menghadapi berbagai kesulitan yaitu keterbatasan tempat dan persoalan lingkungan. Dedak yang dibuang ke lingkungan akan menimbulkan bau dan mengotori tempat pembuangan. Dedak, karena mengandung unsur hara, juga menjadi media pertumbuhan mikroba baik yang menguntungkan maupun yang berbahaya bagi kesehatan.
Sekam
Volume sekam yang dihasilkan adalah 17% dari Gabah kering giling (GKG). Untuk penggilingan padi yang berkapasitas 5 ton/jam beras putih atau sekitar 7 ton GKG/jam akan dihasilkan sekam sekitar 0.85 ton/jam atau sekitar 8.5 ton/hari. Berat ini setara dengan sekitar 25 m3/hari atau 7500 m3/tahun. Volume yang besar ini akan menjadi masalah serius dalam jangka panjang apabila tidak ditangani dengan baik.
Sekam tersusun dari palea dan lemma (bagian yang lebih lebar) yang terikat dengan struktur pengikat yang menyerupai kait. Sel-sel sekam yang telah masak mengandung lignin dan silica dalam konsentrasi tinggi. Kandungan silica diperkirakan berada dalam lapisan luar (De Datta, 1981) sehingga permukaannya keras dan sulit menyerap air, mempertahankan kelembaban, serta memerlukan waktu yang lama untuk mendekomposisinya (Houston, 1972). Silica sekam dalam bentuk tridymite dan crytabolalite yang mempunyai potensi sebagai bahan pemucat minyak nabati (Proctor dan Palaniappan, 1989). Komposisi sekam dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Komposisi Sekam
Kandungan Persentase
C-organik
N-total
P-total
K-total
Mg-total
SiO3 45.06
0.31
0.07
0.28
0.16
33.01

Sumber: Hidayati (1993)
Dari komposisi kimia sekam (Tabel 2) dapat diketahui potensi penggunaannya terbatas sebagai sumber C-organik tanah dan media tumbuh (dari kandungan karbon organik yang tinggi) serta bahan pemurnian dan bahan bangunan (dari kandungan silica yang tinggi). Karbon yang tinggi juga mengindikasikan banyaknya kandungan kalori sekam. Proses yang diperlukan untuk pemanfaatan tersebut adalah:


Pengarangan (Carbonizing)
Pengarangan adalah proses pembakaran dengan oksigen terbatas. Arang padi mempunyai beberapa kegunaan, antara lain:
a. Mempertahankan kelembaban: apabila arang ditambahkan ke dalam tanah akan dapat mengikat air dan melepaskannya jika tanah menjadi kering,
b. Mendorong pertumbuhan (proliferation) mikroorganisme yang berguna bagi tanah dan tanaman,
c. Penggembur tanah: menghindari pengerasan tanah karena sifatnya yang ringan,
d. Pengatur pH: arang dapat mengatur pH dalam situasi tertentu,
e. Menyuburkan tanah: kandungan mineral arang adalah hara tanaman,
f. Membantu melelehkan salju karena arang yang disebarkan di atas salju akan menyerap panas yang dapat mencairkan salju, dan
g. Menyerap kotoran sebagai bahan pemurnian dalam pengolahan air, minyak, sirup dan sari buah.

Pembakaran
Kandungan karbon yang tinggi juga mengindikasikan bahwa sekam mempunyai kalori yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai sumber enerji panas. Banyak penggilingan padi menengah dan besar munggunakannya sebagai bahan bakar pengering padi. Penggunaan yang sama juga dapat dijumpai pada pembakaran batu bata.
Abu sisa pembakaran mengandung SiO2 sekitar 85% sehingga baik digunakan untuk pembuatan bahan bangunan (seperti papan semen) dan bahan pemurnian minyak (kelapa). Abu sekam memperbaiki daya serap air, kerapatan, perubahan panjang dan konduktifitas panas papan semen pulp. Penggunaan abu dalam pemucatan minyak kelapa dapat memperbaiki kejernihan.
Dedak
Persentase dedak mencapai 10% dari GKG. Penggilingan dengan kapasitas beras putih sebesar 5 ton/jam akan menghasilkan dedak sebanyak 0.7 ton/jam atau sekitar 7 ton/hari. Jumlah ini terlau besar untuk diabaikan. Volume dedak sekitar 600 liter/ton, maka akan dihasilkan sekitar 12 m3 dedak setiap harinya.
Dedak adalah bagian padi yang mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi seperti minyak, vitamin, protein dan mineral. Pada kadar air 14%, dedak mengandung pati sebesar 13.8%, serat 23.7-28,6%, pentosan 7.0-8.3%, hemiselulosa 9.5-16.9%, selulosa 5.9-9.0%, asam poliuronat 1.2%, gula bebas 5.5-6.9% dan lignin 2.8-3.0% (Juliano dan Bechtel, 1985). Dari kandungan ini maka dedak telah banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti sumber minyak, pakan ternak dan bahan makanan.
Berbasis pada kandungan bahannya, maka dedak dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan. Minyaknya dapat diambil dengan ekstraksi menggunakan pelarut, protein dan vitaminnya berguna sebagai nutrisi makanan. Namun demikian, upaya pemanfaatan tersebut secara ekonomi belum menguntungkan. Ekstraksi minyak melibatkan investasi yang besar dan hanya layak pada skala yang besar pula. Ini berarti pengolahan terintegrasi pada penggilingan tidak dapat dilakukan.
Sejauh ini, dedak bukan lagi sebagai limbah tetapi telah menjadi hasil samping yang mempunyai pasar tersendiri. Pemanfaat utama adalah industri pakan ternak. Pemanfaatan lain yang telah berkembang dan peralatannya sudah dijual secara komersial adalah mengolahnya menjadi pellet. Kandungan hara yang tinggi menjadikan pellet dedak dapat digunakan untuk makan ternak terutama unggas dan pupuk organic. Bahkan dalam kondisi aplikasi awal, pellet dedak dapat menghambat pertumbuhan gulma apabila disebarkan pada permukaan tanah.

Metode Pengolahan Padi Terintegrasi

Pengolahan padi yang telah berkembang hanya beraslah produk yang harus dihasilkan. Selebihnya dipandang sebagai limbah. Pola berpikir seperti inilah yang menyebabkan industri penggilingan padi menghadapi banyak persoalan lingkungan. Pendekatan terpadu memandang semua bagian bahan baku adalah bahan yang harus dimafaatkan untuk menghasilkan produk yang bernilai (ekonomi dan lingkungan).
Dengan pendekatan terpadu maka produk yang dapat dihasilkan dalam pengolahan terpadu dapat bermacam-macam. Beberapa model dapat dikembangkan:
a. Model terpadu yang menghasilkan pellet dedak dan sekam lunak,
b. Model tepadu menghasilkan pellet dedak, arang sekam dan wood vinegar,
c. Model terpadu yang menghasilkan produk turunan dedak, arang sekam atau sekam lunak,
d. Model terpadu yang mengembangkan kombinasi berbagai produk berbasis sekam dan dedak, dan
e. Model terpadu menghasilkan berbagai produk berbasis dedak dan pemakaian sekam sebagai sumber enerji panas.
Semua proses ini dapat diintegrasikan dalam proses pengolahan padi beskala menengah dan besar (minimum 1 ton beras putih/jam). Pengolahan terpadu mempunyai beberapa keuntungan antara lain tidak mencemari lingkungan, mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku dan memperoleh manfaat ekonomi total (baik langsung maupun tidak).

SUBSISTEM PEMASARAN HASIL : SALURAN PEMASARAN DN DAN EKSPOR, PERKEMBANGAN JUMLAH EKSPOR DAN KONSUMSI DN, PERKEMBANGAN HARGA DN DAN EKSPOR, NEGARA-NEGARA TUJUAN EKSPOR

 

Sistem pemasaran hasil pertanian adalah suatu kompleks sistem dalam berbagai subsistem yang berinteraksi satu sama lain dan dengan berbagai lingkungan pemasaran. Dengan demikian lima subsistem yaitu sektor produksi, saluran pemasaran, sektor konsumsi, aliran (flow), dan fungsional berinteraksi satu sama lain dalam subsistem keenam, yaitu lingkungan.
Pemasaran hasil pertanian dihadapkan pada permasalahan spesifik, antara lain berkaitan dengan karakteristik hasil pertanian, jumlah produsen, karakteristik konsumen, perbedaan tempat, dan efisiensi pemasaran. Terdapat enam macam pendekatan yang biasa digunakan untuk menganalisis permasalahan yang dihadapi dalam pemasaran hasil-hasil pertanian, yaitu pendekatan komoditi (commodity approach), pendekatan kelembagaan (institutional approach), pendekatan analitis atau efisiensi pemasaran (analytical approach), pendekatan struktur tingkah laku dan penampilan pasar (SCP approach), dan pendekatan manajemen pemasaran (marketing management approach). Masing-masing pendekatan tersebut tidak dapat berdiri sendiri sehingga memerlukan pendekatan lainnya agar dapat memberikan manfaat yang lebihmenyeluruh.

Fungsi-fungsi Pemasaran

Fungsi pemasaran adalah kegiatan utama yang khusus dilaksanakan untuk menyelesaikan proses pemasaran. Secara umum, fungsi pemasaran diklasifikasikan menjadi 3 yaitu fungsi pertukaran, fungsi fisik dan facilitating function. Masing-masing fungsi ini masih dapat dirinci lagi menjadi fungsi-fungsi yang lebih spesifik. Beberapa fungsi penting dalam pemasaran hasil pertanian antara lain fungsi penyimpanan, transportasi, grading dan standardisasi, serta periklanan.
Fungsi penyimpanan dimaksudkan untuk menyeimbangkan periode panen dan periode paceklik. Ada empat alasan pentingnya penyimpanan untuk produk- produk pertanian, yaitu:
a) produk bersifat musiman,
b) adanya permintaan akan produk pertanian yang berbeda sepanjang tahun,
c) perlunya waktu untuk menyalurkan produk dari produsen ke konsumen,
d) perlunya stok persediaan untuk musim berikutnya.
Fungsi transportasi dimaksudkan untuk menjadikan suatu produk berguna dengan memindahkannya dari produsen ke konsumen. Biaya transportasi ditentukan oleh:
a) lokasi produksi,
b) area pasar yang dilayani,
c) bentuk produk yang dipasarkan,
d) ukuran dan kualitas produk yang dipasarkan.
Fungsi standardisasi dan grading dimaksudkan untuk menyeder-hanakan dan mempermudah serta meringankan biaya pemindahan komoditi melalui saluran pemasaran. Grading adalah penyortiran produk-produk ke dalam satuan atau unit tertentu. Standardisasi adalah justifikasi kualitas yang seragam antara pembeli dan penjual, antar tempat dan antar waktu. Fungsi periklanan dimaksudkan untuk menginformasikan ke konsumen apa yang tersedia untuk dibeli dan untuk mengubah permintaan atas suatu produk. Masalah yang timbul dalam periklanan produk-produk pertanian terutama berkaitan dengan karakteristik produk-produk pertanian itu sendiri.
Sebagai gambaran awal adalah struktur pemasaran padi yang sebagian besar juga dikuasai oleh jaringan tengkulak. Padi yang ditanam di semua wilayah Kecamatan Imogiri hampir separuhnya (49,26%) dipasarkan ke konsumen lokal melalui tengkulak. Hanya 39% hasil panen padi yang langsung dijual kepada pembeli, sementara peranan koperasi dalam distribusi padi hanya sebesar 8,12%.

Tanggal Artikel : 13-02-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait