Materi Lokalita >> JAWA TIMUR >> KABUPATEN TULUNGAGUNG >> BP3K Kauman

PENGGEREK BATANG PADI - BPP Kauman Tulungagung

Sumber Gambar:

PENGENDALIAN PENGGEREK BATANG
DIPERSEMAIAN SECARA KIMIAWI

Oleh:

BPP KAUMAN

BALAI PENYULUHAN PERTANIAN
KECAMATAN KAUMAN
2017

PENGENDALIAN PENGGEREK SECARA KIMIAWI

I. LATAR BELAKANG
Hama penggerek batang pada tanaman padi adalah salah satu hal yang meresahkan. Maka cara mengendalikan hama penggerek batang tanaman padi harus dapat dipahami agar mudah dilakukan. Karena jika tidak, maka hasil panen padi akan menurun.Kehilangan hasil akibat serangan penggerek batang padi pada stadium vegetatif dapat dikompensasi dengan pembentukan anakan baru. Berdasarkan simulasi pada stadium vegetatif, tanaman masih sanggup mengkompensasi akibat kerusakan oleh penggerek batang padi sampai 30%. Serangan pada stadium generatif menyebabkan malai tampak putih dan hampa yang disebut beluk (whiteheads). Kerugian hasil yang disebabkan setiap persen gejala beluk berkisar 1-3% atau rata-rata 1.2%.
Di Indonesia telah di temukan enam jenis penggerek batang padi yang terdiri dari penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas (Walker), penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata (Walker), penggerek batang padi bergaris Chilo suppressalis (Walker), penggerek batang padi kepala hitam Chilo polychrysus Meyrick, penggerek batang padi berkilat Chilo auricilius Dudgeon (kelima spesies tersebut termasuk ordo Lepidoptera dan famili Pyralidae), dan penggerek batang padi merah jambu Sesamia inferens (Walker) (spesies ini termasuk ordo Lepidoptera dan famili Noctuidae).
Karena penggerek padi merupakan hama yang sangat serius dalam budidaya padi dan perrmasalahan penggerek batang ini terus terjadi berulang-ulang bagi petani, maka perlu adanya kegiatan khusus pelatihan bagi petani supaya dapat melakukan pengendalian sendiri.

II. TUJUAN
Setelah melakukan kursus peserta diharapkan meningkat pengetahuannya dalam pengendalian penggerek batang

III. ALAT DAN BAHAN
1. Peralatan : Buku, alat tulis, ember, hand spreyer
2. Bahan : Pestisida pengendali penggerek batang, hamparan persemaian, air

IV. TEMPAT DAN WAKTU
Tempat : Gubug Poktan Kecamatan Kauman
Waktu : 2 JP (@ 45 menit)

V. LANGKAH KERJA
NO KEGIATAN GAMBAR
1 Persiapan
- Menyiapkan alat dan bahan :
Alat : Buku, alat tulis, ember, hand spreyer
Bahan : Pestisida pengendali penggerek batang,
hamparan persemaian, air

2 Pelaksanaan
1. Siapkan alat dan bahan
2. Baca petunjuk penggunaan pestisida yang ada pada kemasan
3. Siapkan ember yang sudah terisi air sebanyak 2 liter
4. Siapkan pestisida yang sudah ditentukan dosisnya dan masukkan kedalam ember yang berisi air, apabila ada pestisida yang berbentuk tepung dahulukan dalam pencampuran,lalu aduk dan teruskan dengan pestisida yang cair, aduk kembali.
5. Isi hand spreyer dengan air bersih seperempat bagian, lalu masukkan campuran pestisida yang ada dalam ember ke dalam hand spreyer, tambahkan air secupnya.
6. Goyang-goyangkan hand spreyer untuk mengocok campuran larutan yang ada dalam hand spreyer supaya dapat tercampur.
7. Lakukan penyemprotan dengan menyetel katup upayakan hasilnya mengabut.
8. Lakukan penyemprotan secara merata pada seluruh persemaian

IV. INFORMASI

Pengendalian Kimiawi (Pesticide Control)
Pengendalian secara kimiawi atau dengan pestisida sebaiknya hanya dilakukan bila populasi serangga hama atau intensitas serangan penggerek batang telah melebihi ambang pengendalian. Pada tanaman padi dalam masa pertumbuhan (stadia vegetatif) penggunaan pestisida bila tingkat serangannya lebih dari 5%, sedangkan pada vase generatif jika intensitasnya 15% atau lebih.
Dengan pestisida, populasi serangga hama dapat ditekan dan turun secara cepat bahkan reaksinya bisa langsung dilihat (knockdown effect). Namun demikian, kelebihan itu harus dibayar dengan harga tinggi karena selain mahal, penggunaan pestisida juga berdampak terbunuhnya musuh alami ataupun binatang lain yang berada di sekitar pertanaman.
Ini bisa menimbulkan ledakan hama kedua (resurgensi) dan munculnya sifat kekebalan terhadap pestisida tersebut (resistensi). Selain dampak negatif terhadap lingkungan, penggunaan pestisida juga dapat meninggalkan residu pada produk pertanian yang bisa menimbulkan gangguan kesehatan terhadap manusia.
Pestisida merupakan alternatif terakhir dalam sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) jika tingkat serangannya sudah melebihi ambang ekonomi atau populasinya telah mencapai ambang pengendalian. Saat ini, pestisida yang beredar di pasaran sangat banyak bahkan satu jenis bahan aktif bisa lebih dari 3 merek dagang. Oleh karena itu, penggunaan pestisida sebaiknya memperhatikan 5+1 (lima plus satu) tepat, yaitu : tepat jenis, tepat sasaran, tepat waktu, tepat dosis, tepat cara atau tepat aplikasi dan tepat harga.
1. Tepat jenis
Pestisida adalah semua bahan yang berpotensi membunuh (cide) organisme pengganngu (pest). Jenis pestisida untuk mengendalikan penggerek batang padi adalah INSEKTISIDA, yaitu pestisida yang digunakan untuk membunuh/membasmi serangga. Berdasarkan cara kerjanya, insektisida yang digunakan untuk mengendalikan penggerek batang padi ada yang bersifat sistemik dan ada yang translaminer. Sedangkan menurut formulasinya, insektisida yang digunakan untuk mengendalikan sundep/beluk ada yang berupa butiran (granul), tepung (powder) maupun cair (larutan/emulsi).
2. Tepat sasaran
Stadia perkembangan penggerek batang padi yang bisa dikendalikan dengan insektisida adalah stadia larva dan ngengatnya. Oleh karena larva penggerek (sasaran) berada di dalam batang padi, maka insektisida yang tepat adalah yang mempunyai cara kerja SISTEMIK (bisa ditranslokasikan ke seluruh jaringan tanaman). Pada tanaman padi yang masih muda (stadia vegetatif), atau bila larva yang ditemukan pada tanaman terserang masih instar awal atau baru menetas dari kelompok telurnya, penggunaan insektisida yang bersifat translaminer juga bisa.
3. Tepat waktu
Penggunaan insektisida yang tepat waktu agar efektif dalam mengendalikan penggerek batang padi dan efikasinya paling bagus. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa stadia larva merupakan sasaran efektif untuk pengendalian sundep/beluk. Larva yang mudah dikendalikan adalah larva instar 1 karena biasanya masih berada di sekitar pelepah daun setelah menetas dari telurnya. Larva instar 2-4 juga bisa dikendalikan karena sedang aktif menggerek batang padi dan ukuran tubuhnya masih relatif kecil. Sedangkan larva instar 5 dan 6 lebih sulit karena pada stadia ini larva tidak begitu rakus serta besar ukurannya.
Untuk mengetahui stadia perkembangan penggerek sebaiknya pengamtan secara berkala. Cara yang mudah untuk menentukan waktu aplikasi yang tepat dengan membawa kelompok telur yang ditemukan di pertanaman untuk mengetahui waktu penetasannya.
Selain itu, bila memilih insektisida aplikasinya dengan semprot maka sebaiknya dilakukan pada pagi hingga siang hari karena pada saat itu mulut daun (stomata) sedang membuka, sehingga bahan aktif mudah masuk ke dalam jaringan tanaman.
4. Tepat dosis
Dosis adalah takaran, jumlah atau banyaknya insektisida yang digunakan pada suatu lahan. Jumlah insektisida biasanya dinyatakan dalam gram/kilogram atau liter, sedangkan satuan untuk luas lahan adalah hektar. Contoh : dosis penggunaan Furadan 3GR adalah 17 – 20 kg/hektar atau dosis penggunaan Spontan 400SL adalah 1 - 2 liter/hektar.
Kadang-kadang pengertian dosis samar dengan konsentrasi larutan, misalnya 2 - 3 ml/liter. Konsentrasi larutan digunakan karena kebiasaan setiap pengguna tidak sama, ada yang menggunakan volume semprot rendah dan ada yang terbiasa dengan volume tinggi. Contoh bila seorang petani menggunakan insektisida Spontan 400SL dengan dosis rendah (1 liter/Ha), tetapi dalam aplikasinya terbiasa dengan volume semprot tinggi (misalnya 500 liter/hektar), maka konsentrasi larutan Spontan 400SL yang digunakan adalah 1.000 ml / 500 liter atau 2 cc / liter. Jadi bila menggunakan tanki ukuran 17 liter, maka volume Spontan 400SL yang dibutuhkan adalah 34 mililiter (cc).
Dosis penggunaan insektisida perlu diperhatikan agar efektif. Bila penggunaannya di bawah dosis yang dianjurkan, bukan tidak mungkin hamanya tidak dapat dikendalikan, sebaliknya jika dosisnya berlebih dikhawatirkan cepat menimbulkan kekebalan (resistensi) dan boros biaya.
5. Tepat cara / aplikasi
Aplikasi yang tepat cukup menentukan efektifitas dan efikasi penggunaan pestisida. Ini biasanya berkaitan dengan formulasi pestisida dan alat yang digunakan. Contoh : CENTA-dine merupakan insektisida berbahan aktif DIMEHIPHO dengan formulasi granule (butiran), cara aplikasinya adalah disebar. Cara ini cukup efisien bila aplikasinya bersamaan dengan pemupukan. Kebanyakan petani menggunakan insektisida jenis ini bila tanaman telah menampakkan gejala atau dengan kata lain, larva penggerek batang telah masuk ke dalam batang tanaman padi. Contoh lainnya MANUVER, insektisida dengan bahan aktif yang sama tetapi formulasinya cair (Water Soluable Concentrate/WSC) cara aplikasinya dengan disemprotkan ke tanaman. Cara ini sangat efektif bila berdasarkan pengamatan, telur-telur penggerek batang yang ada di pertanaman baru menetas karena larva yang baru menetas tidak langsung masuk ke dalam batang.
Tepat aplikasi yang berhubungan dengan alat biasanya nozzle dari sprayer yang digunakan. Bila cara kerja pestisida racun pernafasan maka sebaiknya menggunakan nozzle yang bisa menghasilkan larutan semprot yang keluar dari sprayer berbentuk kabut. Demikian jika sasarannya berada di batang dengan cara kerja kontak maka sebaiknya menggunakan nozzle yang menghasilkan larutan semprot berupa semburan dan bisa menembus hingga ke bagian batang.
6. Tepat harga
Jumlah pestisida yang beredar di pasaran saat ini sangat banyak. Untuk memutuskan pestisida yang akan digunakan tidak hanya berdasarkan cara kerja dan bahan aktifnya saja, namun juga perlu mempertimbangkan harganya. Suatu produk pestisida yang harganya murah bisa jadi kualitasnya kurang bagus, tetapi yang berharga mahal belum tentu pilihan yang tepat.
Insektisida Virtako 350EC misalnya, kualitasnya sangat baik, efikasi terhadap hama sasarannya juga efektif, namun harganya mahal. Bahan aktif Virtako 350EC adalah klorantranilipol (100 gram/liter) dan tiametoksam (250 gram/liter) yang sangat efektif untuk mengendalikan hama penggerek batang padi dan wereng coklat. Harga di kios saprotan bervariasi, rata-rata saat ini Rp. 90.000,- untuk kemasan 50 ml. Bila di pertanaman hanya ditemukan serangan penggerek batang padi saja maka sebaiknya menggunakan insektisida yang berbahan aktif klorantranilipo saja, misalnya Prevanthon 50EC. Harga Prevanthon 50EC kemasan 100 ml sekitar Rp. 65.000,-. Jadi dalam kedua kemasan insektisida tersebut mengandung 50 gram klorantranilipol. Sebaliknya bila di lapangan tanaman padi terserang penggerek batang padi dan wereng coklat, maka pilihan yang tepat adalah Virtako 350EC.

Bahan-bahan aktif insektsida yang direkomendasikan untuk mengendalikan hama penggerek batang padi antara lain :
? Klorantranilipol : Virtako, Prevanthon
? Bisultap : Trisula, Agripo
? Tiakloprid : Calypso
? Imidakloprid : WinGran
? Bensultap : Bancol
? Dimehipo : Spontan, Kempo, Manuver
? Fipronil : Regent, Agenda
? Karbofuran : Furadan, Curaterr, Petrofur
? Karbosulfan : Marshal
Ada beberapa hal penting lain yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida, pada musim hujan sebaiknya ditambahkan perekat (Triton-X, Besmor, Borer). Bila aplikasinya harus dicampur, maka sebaiknya menggunakan bahan aktif yang berbeda, cara kerja yang berlainan serta pencampurannya harus benar yaitu dalam ember/bek/bejana berisi air. Dalam pencampurannya dahulukan yang berbentuk tepung dan terakhir adalah perekat/perata.

VI. HASIL
Hasil yang diharapkan adalah peserta kursus dapat melakukan pengendalian penggerek batang padi dipersemaian secara kimiawi

VII. EVALUASI
Evaluasi dilakukan untuk mengukur keterampilan dari peserta kursus dapat melakukan pengendalian penggerek batang padi secara kimiawi
Evaluasi menggunakan instrument yang tertuang dalam kuisioner. Setelah dilakukan evaluasi, hasil evaluasi ditabulasi dan dituangkan dalam tabel.

Disalin dari berbagai sumber

Disusun oleh Tim BPP Kauman Tulungagung

Tanggal Artikel : 14-01-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait