Materi Lokalita >> JAWA TIMUR >> KABUPATEN MAGETAN

PENYAKIT BLAS PADA TANAMAN PADI DAN CARA PENGENDALIANNYA

Sumber Gambar: https://www.google.com

Penyakit Blas Pyricularia oryzae

Penyakit blas pada tanaman padi pada umumnya dapat menyerang tanaman pada bagian daun, batang, malai, dan gabah, tetapi umum pada daun dan leher malai. Gejala serangan yang muncul pada daun dan leher malai sering menimbulkan kerusakan bahkan sampai gagal panen. Serangan blas di daerah endemik dapat menyebabkan kehilangan hasil 11-50%. Hal ini memerlukan tindakan pengamatan yang intensif dan pengendalian secara tepat.Penyakit blas menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang panen. Pada fase bibit dan pertumbuhan vegetatif tanaman padi, Penyakit ini menginfeksi bagian daun dan menimbulkan gejala penyakit yang berupa bercak coklat berbentuk belah ketupat yang disebut blas daun. Pada fase pertumbuhan generatif tanaman padi, gejala penyakit blas berkembang pada tangkai/leher malai disebut blas leher. Perkembangan parah penyakit blas leher infeksinya dapat mencapai bagian gabah dan patogennya dapat terbawa gabah sebagai patogen tular benih (seed borne).

Gejala serangan• Penyakit blas disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae.
• Bibit jamur ini berupa spora yang penyebarannya terbawa angin dan air serta terdapat di lahan sawah
• Gejala penyakit blas berupa bercak pada daun atau batang ditentukan oleh banyak faktor diantaranya : pemupukan nitrogen dosis tinggi dengan kondisi yang lembab.
• Penyakit ini menyerang daun, batang dan malai terutama pada leher malai padi, dimulai dari bercak kecil tetapi melebar sampai beberapa centimeter panjangnya.
• Gejala itu biasanya panjang dan meruncing dibagian akhir, di bagian tepi gelap dan bagian tengah abu-abu, pada serangan berat dapat mematikan bagian daun.

Biologi dan Ekologi Penyakit Blas

Jamur P. oryzae mempunyai banyak ras, yang mudah berubah dan membentuk ras baru dengan cepat. Pada kondisi lingkungan yang mendukung, satu siklus penyakit blas membutuhkan waktu kurang lebih 1 minggu, yaitu dimulai ketika spora jamur menginfeksi dan menghasilkan suatu bercak pada tanaman padi dan berakhir ketika jamur bersporulasi (menghasilkan spora baru) yang siap disebarkan ke udara. Selanjutnya dari satu bercak dapat menghasilkan ratusan sampai ribuan spora dalam satu malam dan dapat terus menghasilkan spora selama lebih dari 20 hari. Penyakit blas lebih menyukai kondisi periode embun yang panjang, kelembaban yang tinggi dan temperatur malam hari sekitar 22–25 OC. Faktor lain yang mendukung perkembangan penyakit blas adalah pemakaian pupuk nitrogen yang berlebihan, tanah dalam kondisi aerobik dan stres kekeringan. Pengaruh nitrogen terhadap sel epidermis menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding sel dan menurunnya kadar unsur silika (Si), sehingga jamur lebih mudah melakukan penetrasi. Pemberian Si cenderung membantu kekerasan dan ketegakan daun. Sumber inokulum primer penyakit blas di lapang adalah jerami. Di daerah tropis sumber inokulum selalu ada sepanjang tahun karena adanya spora di udara dan tanaman inang alternatif selain padi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit blas seperti tanah, pengairan, kelembaban, suhu, pupuk dan ketahanan varietas. Faktor-faktor tersebut merupakan komponen epidemik penyakit yang dapat dikelola untuk tujuan pengendalian penyakit blas.

Pengendalian Penyakit Blas dengan Teknik Budidaya

1. Penanaman Benih Sehat
Jamur penyebab penyakit blas dapat ditularkan melalui benih, sehingga pengendalian dapat lebih efektif bila dilakukan sedini mungkin. Tanaman yang terinfeksi penyakit blas sangat tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai benih. Ini perlu ditekankan sebagai syarat untuk kelulusan uji sertifikasi benih. Perlakuan benih dapat dilakukan dengan cara perendaman benih (soaking) atau pelapisan benih (coating) sesuai dengan prinsip PHT.

2. Perendaman (Soaking) benih
Benih direndam dalam larutan Corynebacterium selama 24 jam, dan selama periode perendaman, larutan yang digunakan diaduk merata tiap 6 jam dengan dosis 1 gelas Aqua/ 10 liter air. Benih yang telah direndam dikering anginkan dalam suhu kamar diatas kertas koran dan dibiarkan sampai saatnya gabah tersebut siap untuk disemaikan. Pada persemaian penyemprotan Corynebacterium bisa dilakukan pada 10 HSS dengan dosis 2 gelas Aqua/tangki. Penyemprotan dilakukan 1 minggu sekali. Pada umur 21 bibit dapat dipindah tanam di lahan.

3. Cara tanam
Jarak tanam dengan sistem jajar legowo sangat dianjurkan untuk membuat kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan bagi patogen penyebab penyakit. Kemudian didukung dengan cara pengairan berselang (intermiten). Sistem tersebut akan mengurangi kelembaban sekitar kanopi tanaman, mengurangi terjadinya embun dan air gutasi serta menghindarkan terjadinya gesekan antar daun. Tanaman yang rapat akan menciptakan kondisi lingkungan terutama suhu, kelembaban, dan aerasi yang lebih menguntungkan bagi perkembangan penyakit. Di samping itu pada pertanaman yang rapat akan mempermudah terjadinya infeksi dan penularan dari satu tanaman ke tanaman lain.


4. Penanaman Varietas Tahan
Cara yang paling efektif, murah dan ramah lingkungan dalam pengendalian penyakit blas adalah menggunakan varietas tahan. Penggunaan varietas tahan harus disesuaikan dengan sebaran ras yang ada di suatu daerah. Beberapa varietas padi yang tahan terhadap beberapa ras patogen penyakit blas diantaranya adalah Inpari 21, Inpari 22, Inpari 26, Inpari 27, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 7, dan Inpago 8. Upaya lain yang perlu diperhatikan dalam penggunaan varietas tahan adalah dengan tidak menanam padi secara monogenik (1 atau 2 varietas) secara luas dan terus menerus. Bila padi tersebut ditanam terus menerus sepanjang tahun maka harus dilakukan pergiliran varietas. Beberapa varietas yang berbeda tingkat ketahanannya ditanam pada satu areal, dapat mengurangi tekanan seleksi terhadap patogen, sehingga dapat memperlambat terjadinya ras baru patogen dan patahnya ketahanan suatu varietas.


5. Pemupukan
Pupuk nitrogen berkorelasi positif dengan keparahan penyakit blas. Artinya tanaman yang dipupuk nitrogen dengan dosis tinggi menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan terserang blas.


6. Penggunaan Agen Hayati untuk Penyemprotan Tanaman
Penyemprotan dengan Corynebacterium bisa diaplikasikan pada tanaman umur 14, 28, 42 sampai 70 HST. Usahakan penyemprotan dilakukan pada sore hari antara pukul 16.00. dan dilakukan secara berkala 1 atau 2 minggu sekali. Jangan dicampur dengan bahan/pestisida kimia saat melakukan penyemprotan.


Pencegahan

1. Sanitasi Lingkungan
Sanitasi lingkungan dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan sawah dari gulma yang mungkin menjadi inang alternatif dan membersihkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi.

2. Pemberian kompos jerami
Pemberian bahan organik berupa jerami sisa panen untuk penyehatan lahan harus dikomposkan lebih dulu. Pengkomposan jerami dapat menyebabkan miselia dan spora jamur mati, karena naiknya suhu selama proses dekomposisi.


Kiat-Kiat Pengendalian Penyakit Blas


1. Gunakan varietas tahan sesuai dengan sebaran ras yang ada di daerah setempat.
2. Gunakan benih sehat.
3. Mengurangi penggunaan pupuk N ( urea ).
4. Hindarkan tanam padi dengan varietas yang sama terus menerus sepanjang tahun.
5. Sanitasi lingkungan harus intensif karena inang alternatif patogen dapat berupa rerumputan.
6. Hindari tanam padi terlambat dari tanaman petani di sekitarnya.
7. Pengendalian secara dini dengan perlakuan benih menggunakan agen hayati sangat dianjurkan untuk menyelamatkan persemaian sampai umur 30 hari setelah sebar. Aplikasi penyemprotan dapat dilakukan pada umur 14, 28, 42 sampai 70 HST.
8. Hindarkan jarak tanam rapat (sebar langsung).
9. Pemakaian kompos sebagai sumber bahan organik.
10. Cara kimia (penyemprotan fungisida) sesuai petunjuk teknis bisa dilakukan apabila telah terjadi serangan diatas ambang batas.

 

Penulis : ARIEZA NOVITA, SP (PPL BPP SIDOREJO, KAB. MAGETAN)


Sumber :

1. http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/info-teknologi/content/240-penyakit-blas-pada-tanaman-padi-dan-cara-pengendaliannya

2. https://kabartani.com/kiat-kiat-pengendalian-penyakit-blas-pada-tanaman-padi.html

Lampiran :

Tanggal Artikel : 07-12-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait

  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani
  • e-Petani