Materi Lokalita >> DI YOGYAKARTA >> KABUPATEN GUNUNG KIDUL >> BP3K Gedangsari

Teknologi Panen dan pasca Panen Padi

Sumber Gambar: Dusun Hargosari Desa Tegalrejo Kec.Gedangsari Gunung Kidul

Upaya untuk meningkatkan produksi padi telah dilaksanakan dengan berbagai Teknologi. Teknologi tersebut mampu meningkatkan produksi padi secara meyakinkan. Namun, sejak pelaksanaan Teknologi tersebut sampai saat ini komponen teknologi penanganan pascapanen masih kurang diperhatikan.
Penanganan pascapanen yang baik akan berdampak positif terhadap kualitas gabah konsumsi, benih, dan beras. Karena itu penanganan pascapanen merupakan kriteria utama dari Standard Operation Procedure n (SOP). Penanganan pascapanen yang baik akan menghasilkan produksi beras dan produksi pertanian yang lain, sehingga mempunyai daya saing tinggi.

Panen dan Pascapanen
Pascapanen padi adalah tahapan kegiatan yang meliputi pemanenan malai, perontokan gabah, penampian, pengeringan, pengemasan, penyimpanan, dan pengolahan sampai siap dipasarkan atau dikonsumsi yang bertujuan untuk meningkatkan mutu benih atau beras. Penanganan pascapanen hasil pertanian bertujuan untuk menekan kehilangan hasil, menekan tingkat kerusakan hasil panen, meningkatkan daya simpan dan daya guna komoditas pertanian agar dapat menunjang usaha penyediaan bahan baku industri dalam negeri, meningkatkan nilai tambah dan pendapatan, devisa negara, dan kesempatan kerja.
Masalah utama dalam penanganan panen dan pascapanen padi yang dihadapi petani adalah kehilangan hasil yang tinggi, mutu gabah dan beras yang dihasilkan rendah. Mutu gabah yang rendah disebabkan oleh tingginya kadar kotoran, gabah hampa dan butir mengapur sehingga rendemen beras giling rendah. Kehilangan hasil panen dan mutu gabah yang rendah terjadi pada tahapan pemanenan dan perontokan, sehingga sasaran utama perbaikan pascapanen padi dititik beratkan pada komponen teknologi pemanenan, mulai dari pemanenan sampai rekayasa sosial sistem pemanenan.

Teknologi Panen dan Pascapanen
a. Pemanenan
Pemanenan padi merupakan kegiatan akhir dari prapanen dan kegiatan awal dari pascapanen. Usahatani padi tidak akan memberikan hasil yang memuaskan atau tidak menguntungkan apabila gabah dipanen pada waktu yang tidak tepat dan dengan cara yang tidak benar. Umur panen padi yang tepat akan menghasilkan gabah dan beras yang bermutu baik, sedangkan cara panen yang baik secara kuantitatif akan menekan kehilangan hasil.
Umur panen padi dapat ditentukan berdasarkan beberapa cara yaitu (1) umur tanaman menurut deskripsi varietas, (2) kadar air gabah, (3) metode optimalisasi, yaitu hari setelah berbunga merata, dan (4) ketampakan malai.
Waktu panen berdasarkan umur tanaman sesuai dengan deskripsi varietas dipengaruhi beberapa faktor diantaranya varietas, iklim dan ketinggian tempat, sehingga umur panen berbeda antara 5-10 hari. Padi yang dipanen pada kadar air 21% s/d 26% memberikan hasil optimal dan menghasilkan beras bermutu baik.
Cara lain penentuan umur panen yang cukup mudah yaitu dengan metode optimalisasi. Dengan metode ini adalah padi dapat dipanen pada saat malai pada umur 30 – 35 hari setelah berbunga rata (HSB) sehingga dihasilkan gabah dan beras bermutu tinggi. Penentuan umur panen yang umum dilakukan oleh petani yaitu didasarkan pada ketampakan malai 90 – 95% gabah pada malai sudah menguning merata. Apabila pemanenan dilakukan pada saat masak optimum, maka kehilangan hasil hanya mencapai 3,35%, sedangkan panen kelewat masak 1 dan 2 minggu akan kehilangan hasil berturut-turut mencapai 5,63% dan 8, 64%.
b. Alat dan Cara Panen
Alat panen yang sering digunakan pada umumnya adalah sabit biasa, sabit bergerigi dan ani-ani . Dengan alat panen tersebut menurunkan kehilangan hasil gabah. Ani-ani biasa digunakan untuk memanen padi lokal yang tidak mudah rontok dan berpostur tinggi. Sabit pada umumnya digunakan untuk memanen padi varietas unggul baru dengan cara memotong bagian atas, tengah atau di bawah rumpun tanaman, tergantung dari cara perontokannya.
Pemanenan dengan cara memotong bagian bawah diterapkan bila cara perontokannya dengan cara digebot/dibanting atau menggunakan pedal tresher. Sedangkan dengan cara panen potong atas atau potong tengah cara perontokannya dengan menggunakan mesin perontok.
Saat ini telah dikembangkan mesin pemanen dengan kapasitas kerja lebih tinggi dibandingkan dengan cara tradisional, yaitu berupa stripper. Combine Harvester yang menunjukkan kapasitas kerja tertinggi (5,05 jam/ha) dibandingkan stripper dan reaper. Penggunaan Combine Harvester petakan sawah harus cukup kering/keras untuk menahan beban alat, disamping itu padi yang akan dipanen tidak boleh basah agar tidak terjadi kemacetan pada mesin dalam proses perontokan. Tetapi untuk wilayah/lokasi yang memiliki kemiringan tanah >35% dan lebar petakan yang kecil alat ini tidak bisa digunakan secara maksimal.
c. Perontokan
Alat dan cara perontokan padi dapat dikelompokan menjadi (1) iles/injak-injak, (2) gebot/banting, (3) pukul/gedig, (4) pedal tresher, dan (5) mesin perontok. Proses perontokan gabah dengan mesin perontok mencapai lebih dari 90% sehingga dapat menekan kehilangan hasil dan meningkatkan kapasitas kerja.

 

Haryadi

Penyuluh Pertanian BPP Gedangsari 

Kabupaten Gunung Kidul 

Tanggal Artikel : 07-12-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait