Materi Lokalita >> JAWA TENGAH >> KABUPATEN SUKOHARJO

CEKAMAN AIR PADA KEDELAI

Ketidakseimbangan antara produksi dan kebutuhan kedelai Indonesia dari tahun ke tahun semakin besar. Kebutuhan akan kedelai yang semakin meningkat tidak diimbangi dengan kemampuan produksi dalam negeri sehingga kondisi ini membuat Indonesia mengimpor kedelai sekitar 70%. Rendahnya produksi dalam negeri salah satu penyebabnya adalah berkurangnya luas panen kedelai akibat semakin meluasnya peralihan lahan dari pertanian menjadi non-pertanian atau peralihan dari komoditas kedelai ke padi. Indonesia mencanangkan swasembada kedelai tahun 2018.
Salah satu program untuk mencapai swasembada adalah perluasan areal tanam kedelai pada lahan marginal dan intensifikasi kedelai. Namun, penggunaan lahan marginal seringkali mengalami kendala salah satunya adalah adanya cekaman kekeringan. Sedangkan pada lahan persawahan terdapat kendala genangan. Seperti keadaan tahun ini, dimana terjadi anomali iklim dengan curah hujan yang cukup tinggi ketika masa tanam kedelai. Hal ini mengakibatkan petani merugi karena lahan kedelai kebanjiran dan akhirnya mati busuk.
Air sangat berperan penting bagi makhluk hidup demi kelangsungan hidupnya terutama bagi tumbuhan. Adapun fungsi air bagi tanaman yaitu : Penyusun tubuh tanaman (70%-90%), Pelarut dan medium reaksi biokimia, Medium transpor senyawa, Memberikan turgor bagi sel (penting untuk pembelahan sel dan pembesaran sel), Bahan baku fotosintesis dan Menjaga suhu tanaman supaya konstan.
Air merupakan faktor produksi yang sangat penting dalam kegiatan usaha pertanian. Kehadiran air sepanjang tahun sangat diharapkan petani, namun pengaruh musim ketersediaan air jadi terbatas. Cekaman air adalah suatu keadaan dimana kandungan air tanah paling sedikit sehingga akar tanaman tidak mampu menghisapnya dan tanaman akan layu dan mati (titik layu permanen).
Maha suci Allah yang telah menciptakan hujan, karena dengan hujan tanah-tanah tandus kembali subur dan menumbuhkan banyak tanaman, sebagai mana firman Nya dalam surat Al-Hajj 22:5 yang artinya : "Kamu lihat bumi ini kering kemudian apabila telah Kami turunkan hujan di atasnya hiduplah bumi itu dan menjadi subur serta menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah.
Kedelai tergolong tanaman yang diusahakan pada lahan kering dengan kondisi tanah di bawah kapasitas lapang, sehingga meskipun tanah tidak basah tanaman ini dapat tumbuh dengan baik.
Namun demikian ketersediaan air yang berlebihan justru mengakibatkan terjadinya kematian tanaman karena pembusukan. Sedangkan bila terjadi kekeringan, misalnya karena kemarau panjang maka kedelai akan mengalami kematian.
Pengaruh air yang berlebih pada tanaman kedelai adalah :
1. Pada masa awal pertumbuhan atau ketika masih biji, maka benih kedelai akan busuk dan tidak tumbuh tunas.
2. Pada fase vegetatif. Daun akan layu menguning dan gugur. Pertumbuhan tanaman terhenti dan akhirnya mati karena busuk.
3. Pada fase generatif. Daun, bunga maupun polong menguning selanjutnya berguguran dan tanaman mati membusuk.

Pengaruh kekurangan air pada tanaman kedelai adalah :
1. Pada awal pertumbuhan. Benih kedelai tanpa adanya air tidak akan berkecambah dan bila awal perkecambahan terjadi kekeringan maka akan sangan rentan mati.
2. Pada Fase vegetatif . Pertumbuhan dan batang terhambat (Kerdil) selanjutnya terjadi daun menguning dari tepi daun dan keguguran mulai dari bawah.
3. Pada fase generatif. Pembentukan bunga dan polong terhambat dilanjutkan dengan kerontokan bunga dan polong. Kekeringan pada fase ini mengakibatkan kurangnya jumlah polong serta panen dengan ukuran dan berat biji lebih kecil.
Berikut ini kebutuhan air pada tanaman kedelai sampai umur 85 hari pada setiap periode tumbuh.
Stadium tumbuh Periode (hari) Kebutuhan air (mm/periode)
Pertumbuhan awal 15 53-62
Vegetatif aktif 15 53-62
Vegetatif aktif-Pengisian polong 35 124-143
Pematangan biji 20 70-83
Sumber : Kung. P., 1971

Untuk mengendalikan kekeringan maupun banjir diperlukan langkah-langkah yang tepat. Menurut Dedi Nursyamsi (2014), Beberapa alternatif yang dapat dilakukan antara lain :
1. Menerapkan pola tanam yang tepat sesuai katam terpadu.
2. Pemanfaatan lahan basah (wetland) atau dikenal dengan istilah Food Smart Village yaitu: a. Embung yang menampung air limpahan permukaan pada saat hujan dan digunakan saat kemarau. b. pemanfaatan air tanah dengan menggali sumur atau pompanisasi.
3. Teknologi pengelolaan lengas tanah. Adalah untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh tanaman, antara lain: a. Teknologi pengolahan tanah terbatas atau tanpa olah tanah. b. Teknologi pemberian bahan organik (mulsa) untuk meningkatkan kapasitas lapang. Seperti, serasah sisa tanaman, serbuk gergaji, jerami, daun-daunan dan pupuk kandang. c. Teknologi penggunaan plastik hitam perak. Plastik berfungsi mengurangi penguapan air (evaporasi) dari permukaan tanah sehingga kandungan air tanah dapat dipertahankan lebih lama sekaligus menghalangi pertumbuhan gulma.
4. Perbaikan irigasi yang rusak.

 

Tanggal Artikel : 12-10-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait