Materi Lokalita >> SULAWESI SELATAN >> KABUPATEN JENEPONTO

TEKNIK PENGERINGAN JAGUNG BERSAMA BATANG

Sumber Gambar: Modul TOT Jagung BBPP Batangkaluku

Penanganan pascapanen yang tidak dilakukan dengan baik akan mengakibatkan kerusakan dan kehilangan, baik kuantitatif maupun kualitatif. Salah satu tahapan dalam kegiatan pascapanen adalah pengeringan.
A. Lama Pengeringan
Pemanenan jagung dilakukan pada saat jagung telah berumur sekitar 100 hari setelah tanam (tergantung dari jenis varietas yang digunakan). Tanaman jagung yang telah siap panen atau sering disebut masak fisiologis, yang ditandai dengan daun/ kelobot telah mengering dan berwarna kecoklatan, biji jagung telah mengeras dan mengkilap yang apabila digores dengan kuku tidak membekas pada biji, kadar air sekitar ±44,8%, rambut pada ujung tongkol telah mengering, selain itu, juga dapat diketahui dari adanya lapisan hitam pada pangkal biji jagung (black layer). Apabila pada 50% pangkal biji sudah menunjukkan lapisan hitam, maka tanaman telah masak fisiologis.
Pengeringan pada jagung dapat dikategorikan menjadi :
1). Pengeringan jagung tongkol di pertanaman,
2). Pengeringan dalam bentuk jagung tongkol;
3). Pengeringan dalam bentuk jagung pipilan.
Pengeringan langsung di lapang dengan membiarkan tongkol tetap pada tanaman, biasanya dilakukan petani selama 5-14 hari. Cara ini banyak dilakukan oleh petani yang menanam jagung hibrida karena tinggi tongkol dari permukaan tanah lebih seragam. Metode ini banyak dilakukan pada musim kemarau, terutama oleh petani yang tidak memiliki alat pengering mekanis, atau tidak memiliki lokasi/ tempat pengeringan yang cukup memadai. Pengeringan dengan cara ini dapat menurunkan kadar air biji sampai 18%. Teknik pengeringan ini dilaksanakan karena pada saat masak fisiologis, kadar air benih masih tinggi.
B. Pengupasan Kelobot
Setelah tanaman masak fisiologis, penentuan yang akan dilakukan terlebih dahulu, yakni apakah dengan melakukan pengupasan kelobot terlebih dahulu atau pemangkasan batang atas terlebih dahulu. Pemangkasan batang atas jagung dilakukan dengan hati-hati dan dengan alat yang tajam (dapat berupa sabit atau gunting pangkas), hal ini dilakukan agar tongkol tidak rusak/ terjatuh. Tangan yang bebas (tidak memegang alat potong) digunakan untuk memegang batang atas, tepat disebelah atas dari letak batang yang akan dipotong. Jarak pemotongan yaitu sekitar 10 cm dari tongkol. Jarak potong yang terlalu dekat dari tongkol memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengakibatkan tongkol tersentuh sehingga terjatuh, sedangkan jarak potong yang lebih panjang atau terlalu jauh dari tongkol akan sulit dijangkau, selain itu juga akan menghalangi sinar matahari dan kelembaban sekitar tongkol tidak berubah secara drastis. Batang atas yang telah dipotong tersebut dirapikan letaknya agar tidak menjadi tempat/ sumber perkembangan hama dan penyakit. Batang atas juga dapat digunakan untuk membuat kompos, sedangkan untuk varietas yang daunnya masih muda (stay green) dapat dijadikan pakan ternak.
Sebelum kelobot dibuka, terlebih dahulu menyiapkan alat yang digunakan untuk membuka/ membagi ujung kelobot menjadi dua bahagian. Alat yang biasa digunakan yaitu pisau yang lebarnya sekitar 5 cm yang tidak mudah bengkok/ patah, selain itu biasanya dibuat alat dari bilah bambu yang diruncingkan. Panjang bilah bambu sekitar 15-20 cm dengan lebar sekitar 5 cm. Alat ini ditusukkan pada ujung kelobot dengan hati-hati, sehingga kelobot terbagi dua. Selanjutnya ujung kelobot ditarik ke bawah sampai pada ujung pangkal tongkol, sehingga tongkol dan biji jagung menjadi terlihat. Pada saat membuka/ menarik kelobot, sebaiknya dilakukan dengan perlahan, jika kelobot masih keras atau sulit terbuka dengan mudah, maka pembukaan kelobot biasanya dilakukan dengan cara yaitu tangan yang satu membuka kelobot sedangkan tangan yang lain memegang tongkol dengan erat agar tongkol tidak terlepas dari batang, hal ini dilakukan secara bergantian hingga tongkol terbuka secara penuh. Setelah dilakukan pengeringan selama sekitar 5 hingga 14 hari, atau kadar air telah turun semaksimal mungkin (biasanya 18%), dilakukan pemanenan.

Ditulis Oleh : Kurniati, SP. Penyuluh Pertanian Muda Desa Karelayu

Tanggal Artikel : 13-09-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait