Materi Lokalita >> BALI >> KABUPATEN BULELENG

SISTEM INTEGRASI TERNAK DENGAN TANAMAN BUAH NAGA DI KELOMPOK TANI RAJA BANTENG BULELENG BALI

Sumber Gambar: dok.pribadi

Latar Belakang :
Peningkatan populasi ternak sapi di Kelompok Tani Raja Banteng akan meningkatkan limbah yang dihasilkan. Apabila limbah tersebut tidak dikelola sangat berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan terutama dari limbah kotoran yang dihasilkan ternak setiap hari. Pembuangan kotoran ternak sembarangan dapat menyebabkan pencemaran pada air, tanah dan udara (bau), berdampak pada penurunan kualitas lingkungan, kualitas hidup peternak dan ternaknya serta dapat memicu konflik sosial.
Pengelolaan limbah yang dilakukan dengan baik selain dapat mencegah terjadinya pencemaran lingkungan juga memberikan nilai tambah terhadap usaha ternak. Pemanfaatan limbah kotoran ternak sebagai pupuk kompos dapat menyehatkan dan menyuburkan lahan pertanian. Selain itu kotoran ternak juga dapat digunakan sebagai sumber energi biogas. Sumber energi biogas menjadi sangat penting karena harga bahan bakar fosil yang terus meningkat dan ketersediaan bahan bakar yang tidak konstan dipasaran, menyebabkan semakin terbatasnya akses energi bagi masyarakat termasuk peternak.
Kelompok Tani Raja Banteng dengan kondisi lahan kritis dengan jumlah peternak dengan kandang yang dikolonikan akan memicu dampak yang kurang baik bagi kesehatan ternak maupun manusia dilingkungan kandang. Limbah kandang ternak berupa urine sapi dibiarkan berserakan dan hanyut kesungai demikian pula kotoran ternak padat berupa paeces ternak.
Masalah pokok yang umum dijumpai dalam pengembangan intensifikasi Pertanian adalah pemanfaatan potensi sumber daya yang tersedia dilokasi di antaranya lahan dan ternak yang belum dimanfaatkan secara optimal.. Oleh karena itu dalam upaya peningkatan efisiensi dan mutu produk pertanian, pemanfaatan sumber daya lahan dan sumberdaya lainnya harus dilakukan menurut potensi daya dukungnya. Usaha pengembangan tanaman memerlukan pupuk organik yang berasal dari limbah kotoran ternak dan sering pengadaan pupuk kandang ini menjadi kendala pada saat-saat awal musim tanam karena selain mahal sering sulit juga didapatkan. Mengintegrasikan kegiatan pemeliharaan ternak dengan kegiatan usahatani akan sangat menguntungkan petani dengan jalan pengurangan biaya produksi dan peningkatan penghasilan.
Pilihan satu satunya di Kelompok Tani Raja Banteng adalah mengintegrasikan Usaha Peternakan sapi dengan usaha Tani Buah Naga. Pilihan ini dilakukan untuk memanfaatkan lahan marginal, lahan kritis yang berbatu untuk diintegrasikan dengan budidaya buah naga.
A. Sistem Integrasi Tanaman Ternak dengan Tanaman Buah Naga
Pengelolaan Tanaman Terpadu merupakan upaya untuk mempertahankan atau meningkatkan produksi pangan secara berkelanjutan dengan memperhatikan sumber daya yang tersedia serta kemauan dan kemampuan petani. Sistem Integrasi Tanaman Ternak adalah intensifikasi sistem usahatani melalui pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara terpadu dengan komponen ternak sebagai bagian kegiatan usaha. Tujuan pengembangan sistem integrasi tanaman ternak adalah untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat dilingkungan pada umumnya dan anggota kelompok Tani Ternak. Komponen usahatani sistem integrasi tanaman ternak sapi dengan tanaman hortikultura buah naga yang berpotensi dikembangkan dikawasan wilayah Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar.
Limbah ternak diproses menjadi kompos & pupuk organik serta biogas; limbah pertanian dari lahan sawah disekitarnya diproses menjadi pakan. Gas-bio dimanfaatkan untuk keperluan memasak, sedangkan limbah biogas yang berupa padatan dimanfaatkan menjadi kompos., dan yang berupa cairan dimanfaatkan menjadi pupuk cair untuk tanaman sayuran dan buah naga serta tanaman perkebunan.
Sistem Integrasi Tanaman-Ternak dengan buah naga adalah intensifikasi sistem usahatani melalui pengelolaan sumberdaya alam diwilayah Kelompok Raja Banteng dan lingkungan yang kondisi lahan berbatu secara terpadu dengan komponen ternak sapi sebagai bagian kegiatan usaha.
Komponen usahatani Integrasi ternak sapi dengan buah naga meliputi usaha ternak sapi pembibitan, tanaman buah naga Limbah ternak (kotoran sapi) diproses menjadi kompos & pupuk organik. Dan limbah buah naga juga dipergunakan untuk pupuk kompos.
Gas-bio dimanfaatkan untuk keperluan memasak, sedangkan limbah biogas (sludge) yang berupa padatan dimanfaatkan menjadi kompos organik, dan yang berupa cairan dimanfaatkan menjadi pupuk cair untuk tanaman buah naga.

B. Keunggulan Sistem Integrasi Tanaman Ternak Sapi dengan Buah Naga

Kelompok Tani Raja Banteng dengan jumlah ternak mencapai 50 ekor, dengan menggunakan kandang koloni, air kencing sapi dan air bekas memandikan ternak dialirkan melalui bak penampung selanjutnya dialirkan melalui mesin pompa air menuju tanaman buah naga, yang dialirkan setiap lima hari sekali. Air bekas mandi dapat dimanfaatkan untuk mengairi tanaman buah naga, urine sekaligus sebagai penghasil pupuk nitrogen. Sistim integrasi ini sangat tepat sekali sebagai intensifikasi pertanian dengan memanfaatkan lingkungan yang ada. Inilah integrasi yang dibuat dikelompok Raja Banteng
Diharapkan menjadi cirri tersendiri di kelompok Tani Ternak Raja Banteng untuk integrasi tanamanbuah naga dengan ternak adalah adanya sinergisme atau keterkaitan yang saling menguntungkan antara tanaman buah naga dan ternaksapi . Petani memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik untuk tanamannya, kemudian memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak, terutama rumput yang tumbuh disekitar buah naga. Pada model integrasi tanaman ternak ini , petani mengatasi permasalahan ketersediaan pakan dengan memanfaatkan limbah tanaman yang ada disekitar wilayah kelompok yaitu pemanfaatan jerami padi, jerami jagung, limbah kacang-kacang, dan limbah pertanian lainnya. Kelebihan dari adanya pemanfaatan limbah adalah disamping mampu meningkatkan "ketahanan pakan" khususnya pada musim kemarau, juga mampu menghemat tenaga kerja dalam kegiatan mencari rumput, sehingga memberi peluang bagi petani untuk meningkatkan jumlah skala pemeliharaan ternak. Saat ini anggota kelompok dapat memelihara ternak sapi rata-rata 5 sampai 10 ekor per orang. pemanfaatan kotoran sapi sebagai pupuk organik disamping mampu menghemat penggunaan pupuk anorganik, juga sekaligus mampu memperbaiki struktur dan ketersediaan unsur hara tanah. Dampak ini terlihat dengan meningkatnya produktivitas lahan.
C. Pengelolaan Limbah Peternakan Terpadu dan Agribisnis
Kelompok Tani Raja Banteng dengketerpaduan pemeliharaan ternak dan tanaman adalah bagaimana sistem pengelolaan limbah peternakan dapat memberikan kontribusi hubungan timbal balik antara limbah sebagai bahan sisa proses/aktivitas di satu sisi dan limbah sebagai sumberdaya yang dapat dimanfaatkan di sisi lain. Limbah peternakan terdiri atas sebagian besar sisa metabolisme ternak (feses dan urine), sisa pakan, dan sisa segala aktivitas lain yang dilakukan pada usaha peternakan tersebut. Hampir seluruhnya berupa bahan organik, yang berdasarkan bentuknya terdiri atas padat, semi padat dan cair. Sifat ini memberi indikasi bahwa limbah peternakan merupakan sumberdaya yang sangat potensial sebagai energi dan nutrisi bagi kehidupan, baik bagi mikroorganisme, hewan, ataupun bagi tanaman, yang secara berkesinambungan saling berinteraksi satu dengan yang lain. Dari semua proses/aktivitas pengelolaan limbah peternakan akan berujung pada hasil akhir berupa pupuk organik alami, yang sangat diperlukan sebagai sarana produksi bagi usaha pertanian, baik tanaman pangan, perkebunan ataupun tanaman hias.Dengan agribisnis terpadu ini, kelompok tani ternak Raja Banteng mampu menjual dan memproduksi pupuk padat secara berkesinambungan.
Pengelolaan limbah dikelompok Raja Banteng, dapat berupa sisa pakan yang tidak dimakan ternak sapi, diangkut dan dibenamkan disekitar pangkal tanaman buah naga, yang diharapkan nantinya dapat sebagai pupuk kompos untuk memperbaiki lahan kritis, demikian pula sludge dipakai langsung sebagai pupuk organik.
Tahun 2016, kelompok tani ternak Raja Banteng yang melaksanakan integrasi ternak sapi dengan buah naga, tercatat dapat memasarkan pupuk kompos padat sebanyak 150 ton, urine ternak yang telah diolah menjadi pupuk cair mampu menjual sebanyak lebih dari 800 liter, untuk usaha perkebunan dan hortikultura.
D. Penerapan Sistem Integrasi Tanaman- Ternak
Berdasarkan potensi dan kondisi yang ada, maka teknologi yang akan diintroduksikan diarahkan pada penerapan pola Usahatani Integrasi Tanaman Ternak pada lahan kering di Kelompok Raja Banteng, antara lain:

1. Pembibitan ternak sapi
Pembibitan ternak sapi dengan pakan utama jerami fermentasi kering mempunyai menghasilkan pedet 1 ekor per tahun. Hal yang menarik dari pengkajian ini adalah bahwa sumber bahan pakan yang digunakan adalah serba limbah, yaitu mulai dari jerami (padi & jagung) sebagai pakan dasar dan pakan penguatnya terdiri dari dedak padi, tongkol jagung, yang selama ini belum dan masih relative dimanfaatkan.
2. Produksi Kompos
Sapi betina dewasa dapat menghasilkan kotoran basah 4-5 ton/tahun. Kotoran diolah menjadi kompos, akan dihasilkan 2-2,5 ton kompos/ekor sapi/tahun. Kompos yang dihasilkan dapat digunakan (dikembalikan) ke lahan atau di jual. Satu hektar lahan membutuhkan kompos 1,5-2 ton. Apabila kompos digunakan sebagai pupuk, maka akan memperbaiki sifat fisik tanah dan sekaligus akan mengurangi penggunaan pupuk kimia yang harganya relatif mahal. Perhitungan secara parsial menunjukkan bahwa biaya untuk menghasilkan kompos adalah Rp 150,00/kg. Harga jual kompos di tingkat petani adalah Rp 300,00–Rp 350,00/kg. Harga dasar kompos pada saat ini bisa mencapai Rp 400,00 s.d. Rp 500,00/kg. Satu hektar lahan dapat menghidupi 2 ekor sapi dewasa. Kompos yang dihasilkan dari 2 ekor sapi adalah 4-5 ton/tahun. Harga jual kompos di tingkat petani dari 2 ekor sapi adalah Rp 1.500.000,00 sd. Rp 2.000.000,00. Hal ini sudah dapat dilaksanakan dengan baik oleh petani di kelompok Raja Banteng, maka akan terjadi penyerapan tenaga kerja, peningkatan kesuburan tanah, peningkatan produktivitas lahan, penurunan penggunaan pupuk anorganik (buatan) yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan petani. ( I NYOMAN SUDRANA SP, PP MADYA BULELENG)

Tanggal Artikel : 16-07-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait