Materi Lokalita >> RIAU >> KABUPATEN BENGKALIS >> BP3K Rupat

JAJAR LEGOWO DI PULAU RUPAT

Sumber Gambar: Arsip BPP Rupat

Senyap menyergap lautan di sebelah selatan Pulau Rupat. Kemarau belum lagi menampakkan tanda akan berhenti, hanya sesekali hujan merintik di beberapa tempat. Berita kebakaran lahan semakin sering terdengar, melewati kanal-kanal berita yang kebetulan bocor.
Saya dalam perjalanan kembali ke pulau tempat Suku Akit ini berada. Dua pekan sudah saya berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain di sekitaran Provinsi Riau. Ketika perahu speed yang saya tumpangi berhasil berlabuh dengan sangat mulus, saya naik ke dermaga. Sembari berjalan di atas kayu dermaga yang dibaluri oli, dalam hati saya memuji-muji skill sang tekong. Dengan perahu speed berwarna putih, pria besar berkulit legam itu tadi sangat lihai dalam bermanuver di atas air.
Dengan langkah gontai sedikit malas, terbersit keinginan untuk singgah sebentar di salah satu kedai makanan yang ada di tepi kiri ujung dermaga. Saya lapar. Kedai itu berdiri di atas pasir pantai dengan tiang penyangga dari batang pohon yang kokoh. Lima meja plastik tersusun rapi di tengah bilik tak berdinding itu, kursi-kursi berwarna merah mengelilingi tiap meja. Tak perlu waktu lama ketika seorang perempuan muda muncul dari dalam dapur, menanyakan makanan dan minuman yang ingin saya nikmati.
Pulau kecil di ujung Sumatera ini memang belum lagi memiliki restoran kelas atas seperti di kota yang gemerlap. Kedai yang saya singgahi ini sangat sederhana, tipikal tempat makan orang-orang biasa. Jika restoran besar memiliki hidangan yang serba sempurna, maka di kedai makan seperti ini tuntutan pelanggan hanya sekedar ingin mengisi perut. Kesempurnaan nomor dua, yang penting rasa makanan akrab dengan lidah masyarakat umum, maka selesailah semua perkara. Tidak ada penataan makanan dalam piring putih buatan luar negeri. Tak akan kita temukan hidangan yang disusun ibarat lukisan indah dan penuh warna.
Nasi putih hangat dan pulen itu telah masuk ke dalam mulut saya. Rasanya nikmat sekali dengan tumpahan kuah kari di atasnya. Lauk ikan bakar berbumbu beberapa kali saya cabik dari tepi piring, lalu mencocolnya dengan sambal belacan yang nikmatnya luar biasa. Keringat bercucuran di kening dan kulit kepala, menandakan sedapnya makanan yang sedang saya santap. Tidak lupa segelas teh manis melengkapi makan siang penuh semangat ini. Selepas makan, saya membersihkan sisa makanan di jari-jari tangan dengan air dalam mangkuk putih.
"Sedap betul, Bu." Kata saya pada perempuan yang membereskan meja.
"Iya, Pak. Terima Kasih." Jawabnya sambil mengepel meja.
"Nasinya pulen, beras darimana, Bu?"
"Beras dari sawah di pulau ini juga, Pak."
"Oh, pantas saja rasanya mantap." Ujar saya memuji, meninggalkan uang di atas meja lalu beranjak dari tempat itu.
Pulau Rupat termasuk kecamatan yang petaninya tiap tahun menanam padi. Sebut saja beberapa diantara desa/kelurahan yang memiliki area tanam padi cukup luas yaitu Kelurahan Tanjung Kapal, Kelurahan Batupanjang, Desa Dungun Baru dan Desa Sungai Cingam. Di setiap lokasi tanam padi itu terdapat kelompok-kelompok tani yang aktif dalam bercocok tanam dan mengorganisasikan petani yang ada di wilayah masing-masing. Di tahun 2015, luas tanam padi di Pulau Rupat menyentuh angka 800 Ha dengan varietas padi unggul di sawah dan padi varietas lokal di ladang kering.
***
Dalam instruksi khusus swasembada pajale 2017, salah satu introduksi teknologi yang diperkenalkan kepada petani adalah cara tanam sistem JARWO. Jarwo merupakan singkatan dari Jajar Legowo atau biasa disebut 'legowo' saja, agar lebih praktis pengucapannya.

Legowo merupakan cara tanam padi sawah yang memiliki beberapa barisan tanaman kemudian diselingi oleh 1 baris kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir ½ kali jarak tanaman pada baris tengah.
Tujuan cara tanam legowo adalah:
Memanfaatkan sinar matahari bagi tanaman yang berada pada bagian pinggir barisan. Semakin banyak sinar matahari yang mengenai tanaman, maka proses fotosintesis oleh daun tanaman akan semakin tinggi sehingga akan mendapatkan bobot buah yang lebih berat.
Mengurangi kemungkinan serangan hama, terutama tikus. Pada lahan yang relatif terbuka, hama tikus kurang suka tinggal di dalamnya.
Menekan serangan penyakit. Pada lahan yang relatif terbuka, kelembaban akan semakin berkurang, sehingga serangan penyakit juga akan berkurang.
Mempermudah pelaksanaan pemupukan dan pengendalian hama / penyakit. Posisi orang yang melaksakan pemupukan dan pengendalian hama / penyakit bisa leluasa pada barisan kosong di antara 2 barisan legowo.
Menambah populasi tanaman. Misal pada legowo 2 : 1, populasi tanaman akan bertambah sekitar 30 %. Bertambahnya populasi tanaman akan memberikan harapan peningkata produktivitas hasil.
Cara tanam jajar legowo untuk padi sawah secara umum bisa dilakukan dengan berbagai tipe yaitu: legowo (2:1), (3:1), (4:1), (5:1), (6:1) atau tipe lainnya. Namun dari hasil penelitian, tipe terbaik untuk mendapatkan produksi gabah tertinggi dicapai oleh legowo 4:1, dan untuk mendapat bulir gabah berkualitas benih dicapai oleh legowo 2:1.

Jajar Legowo 4:1
Jajar legowo 4 : 1 adalah cara tanam yang memiliki 4 barisan kemudian diselingi oleh 1 barisan kosong dimana pada setiap baris pinggir mempunyai jarak tanam >2 kali jarak tanam pada barisan tengah. Dengan demikian, jarak tanam pada tipe legowo 4 : 1 adalah 20 cm (antar barisan dan pada barisan tengah) x 10 cm (barisan pinggir) x 40 cm (barisan kosong).
Jajar Legowo 3:1
Merupakan cara tanam berselang-seling 3 baris dan 1 baris kosong. Misalkan jarak tanam 20 cm, maka jarak tanam dalam barisan pinggir 10 cm dan jarak dalam baris tengah tetap 20 cm, jarak baris kosong 40 cm.
Jajar Legowo 2:1
Jajar legowo 2 : 1 adalah cara tanam yang memiliki 2 barisan kemudian diselingi oleh 1 barisan kosong dimana pada setiap baris pinggir mempunyai jarak tanam 1/2 kali jarak tanam antar barisan. Dengan demikian, jarak tanam pada tipe legowo 2 : 1 adalah 20 cm (antar barisan) x 10 cm (barisan pinggir) x 40 cm (barisan kosong).
Teknik Penerapan
1. Pembuatan Baris Tanam
Persiapkan alat garis tanam (caplak) dengan ukuran jarak tanam yang dikehendaki. Bahan untuk alat garis tanam bisa digunakan kayu atau bahan lain yang tersedia serta biaya terjangkau. Lahan sawah yang telah siap ditanami, 1-2 hari sebelumnya dilakukan pembuangan air sehingga lahan dalam keadaan macak-macak. Ratakan dan datarkan sebaik mungkin. Selanjutnya dilakukan pembentukan garis tanam yang lurus dan jelas dengan cara menarik alat garis tanam yang sudah dipersiapkan sebelumnya serta dibantu dengan tali yang dibentang dari ujung ke ujung lahan.
2. Tanam
Penanaman dilakukan pada perpotongan garis yang sudah terbentuk. Cara laju tanam sebaiknya maju agar perpotongan garis untuk lubang tanam bisa terlihat dengan jelas. Namun apabila kebiasaan tanam mundur juga tidak menjadi masalah, yang penting populasi tanaman yang ditanam dapat terpenuhi. Pada alur pinggir kiri dan kanan dari setiap barisan legowo, populasi tanaman ditambah dengan cara menyisipkan tanaman di antara 2 lubang tanam yang tersedia.
***
Cuaca sepertinya sudah mau diajak berkawan. Udara panas musim kemarau yang panjang sedikit mendingin, angin membawa pergi kabut asap ke negeri tetangga. Perjumpaan saya dengan petani Rupat kembali terjadi di sebuah senja bergerimis, mangitari beberapa ladang dan sawah yang telah ditanami padi dengan sistem jajar legowo. Kini tinggal menunggu hujan lebat turun di akhir tahun. Hujan dan kerinduan berkelindan dengan kabut asap koorporasi, di sela tetes asa ketahanan pangan yang gemericik...

 

-Imran Cingam

Tanggal Artikel : 19-06-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait