Gerbang Nasional

Merubah Paradigma Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian di Era Teknologi Informasi

Sumber Gambar: Dokumentasi pusluh

Sektor pertanian diarahkan untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani serta sekaligus menjadi kunci utama keberhasilan dalam mewujudkan Indonesia yang bermartabat, mandiri, maju, adil dan makmur. Dalam rangka mendukung tercapainya sasaran strategis tersebut, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian berperan dalam meningkatkan efektivitas program pembangunan pertanian melalui kegiatan penyuluhan, pendidikan dan pelatihan yang disinergikan melalui gerakan pemberdayaan petani terpadu (GPPT). GPPT diarahkan pada upaya membangun motivasi petani agar menerapkan Sistem Pertanian Terpadu (SPT), meningkatkan kapasitas kelembagaan petani, pengembangan penyuluhan pertanian berbasis TIK dan mendorong kelembagaan petani menjadi kelembagaan ekonomi petani. Dukungan kinerja penyuluhan pertanian juga dilakukan melalui fasilitasi Biaya Operasional Penyuluh (BOP) dan honor THL-TBPP, BOP Penyuluh PNS, penumbuhan Penyuluh Pertanian Swadaya melalui peningkatan kapasitas penyuluh swadaya, penguatan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) melalui kegiatan Sekolah Lapangan (SL) dalam rangka mendukung UPSUS, penumbuhan dan pengembangan korporasi petani melalui Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP), penyuluhan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi serta adaptasi teknologi spesifik lokalita di BPP.
Selaras dengan pesatnya perkembangan informasi dan teknologi serta IPTEK, paradigma penyelenggaraan penyuluhan harus mengikuti dinamika perubahan. Para penyelenggara penyuluhan selain harus memahami arah kebijakan penyuluhan yang berorientasi pada kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani, juga harus aktif dalam memecahkan setiap permasalahan. Paradigma penyuluh juga harus berubah karena militansi kinerja penyuluh pertanian harus berorientasi kepada kesejahteraan petani sedangkan kedaulatan pangan merupakan kinerja sasaran bagi penyuluh pertanian dalam melaksanakan tugas. Penyuluh "zaman now" tidak hanya melakukan pengawalan dalam kegiatan budidaya (on farm) tetapi harus mengawal di kegiatan hilir yang berorientasi pada hasil agar pelaku utama mendapatkan better farming, better business, better income, better living dan better community. Hal ini dikatakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Momon Rusmono dalam membuka acara Konsolidasi Audit dan Evaluasi Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian melalui Dana Dekonsentrasi Tahun 2018 yang berlangsung selama 3 (tiga) hari dari tanggal 11 – 13 Juli 2018 di Hotel Neo+ Awana Yogyakarta dan dihadiri oleh para Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Bendahara satker Dana Dekonsentrasi dan penanggungjawab teknis dari 34 provinsi. ”Kegiatan konsolidasi audit ini sangat penting, selain sebagai sarana untuk mengevaluasi penyelenggaraan penyuluhan baik dari aspek realisasi fisik maupun keuangan di 34 provinsi juga untuk konsolidasi langkah-langkah percepatan pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan penyuluhan pertanian. Untuk itu, pelaksanaan kegiatan konsolidasi audit sebaiknya bisa dilaksanakan sebanyak 4 (empat) kali dalam setahun dan harus sudah dimulai pada akhir bulan Maret,” tambah Momon Rusmono.
Kepala Badan PPSDMP juga menjelaskan bahwa ada 5 (lima) skala prioritas dalam menyelenggarakan penyuluhan pertanian, yang pertama meningkatkan eksistensi para penyuluh pertanian di tingkat lapangan dengan membangun sistem manajemen dan informasi penyuluhan pertanian. Aspek kedua yaitu peningkatan kapasitas dan peran kelembagaan penyuluhan terutama di tingkat lapangan seperti BPP dan Posluhdes harus kuat dan dialokasikan anggaran yang proporsional”. Aspek selanjutnya memperkuat kapasitas kelembagaan petani (poktan dan gapoktan) dan mendorong pembentukan dan pengembangan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP). Aspek ketenagaan juga merupakan salah satu faktor yang penting juga karena penyuluh pertanian sebagai pelaksana dan pendamping pembangunan pertanian di pedesaan. Untuk itu seorang Penyuluh Pertanian harus memiliki rencana kerja yang jelas dan terukur serta juga memenuhi 9 (sembilan) indikator kinerja penyuluh pertanian. Skala prioritas lainnya yaitu aspek penyelenggaraan penyuluhan pertanian, dalam hal ini tidak terlepas dari eksistensi para Penyuluh Pertanian. Penyuluh pertanian “zaman now” harus bekerja secara serius dan kreatif, bekerja dengan sepenuh hati dan semangat serta paham informasi, teknologi dan IPTEK terutama modernisasi dibidang pertanian. Sebab dengan modernisasi pertanian sektor pertanian akan memberikan dampak yang jauh lebih cepat dan efisien, lebih berkualitas serta harga yang menguntungkan bagi petani. Sehubungan hal tersebut, Penyuluh Pertanian harus bisa mendorong petani dalam memanfaatkan alat dan mesin pertanian (alsintan) di lahan usahataninya secara efektif dan efisien guna meningkatkan produktivitas usahataninya dan mewujudkan kesejahteraan petani. Petani sejahtera, Penyuluh Hebat, Bangsa Berjaya (Rina).

Tanggal Artikel : 16-07-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Inti Laboratorium Lapangan, Lebak `pilot Project` Jagung Berbasis Korporasi Di Banten
  2. Tingkatkan Kesejahteraan Petani Melalui Korporasi
  3. Strategi Percepatan Target Ltt Dan Opsin Dalam Menghadapi Musim Kemarau
  4. Manfaatkan Lahan Rawa, Petani Dan Penyuluh Kabupaten Hulu Sungai Tengah Optimalkan Pertanaman Di Musim Kemarau