Gerbang Nasional

Pesona “Si Kuning” dari Grobogan

Sumber Gambar: doc. pusluh

Memiliki lahan pertanian yang cukup luas, membuat sebagian besar masyarakat di wilayah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah lebih memilih pertanian sebagai mata pencaharian utama mereka. Berbagai macam jenis tanamanpun mulai dikembangkan para petani, salah satunya tanaman kedelai yang kapasitas produksinya bisa mencapai 2,6 ton/Ha. Tingginya permintaan pasar dan besarnya keuntungan, menjadikan tanaman kedelai kini mulai merambah ke berbagai kecamatan seperti di Kecamatan Karangrayung, Kradenan, Gabus, Toroh, dan Pulokulon, dengan luas lahan keseluruhan lebih dari 300 hektar.
Pemerintah Kabupaten Grobogan terus berupaya meningkatkan produksi kedelai, baik dengan penggunaan varietas berkualitas yang memiliki produksi tinggi maupun melakukan perluasan areal tanam. Kedelai varietas lokal Grobogan telah sejak lama menjadi pilihan petani di Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Grobogan. Untuk mewujudkan Grobogan sebagai Kota Kedelai dan menjadi ikon kedelai nasional, Pemkab Grobogan mendirikan Rumah Kedelai Grobogan (RKG) yang menggambarkan kegiatan agrobisnis kedelai mulai dari hulu hingga hilir. Di RKG terdapat seed centre, tempat pengolahan tempe dan tahu higienis, ruang pembelajaran, lahan percontohan, pusat promosi dan resto.
Namun, usaha Pemkab tidak akan berjalan dengan lancar apabila tidak didukung oleh petani dan penyuluh pertanian yang selalu memotivasi petani untuk meningkatkan produksinya. Penyuluhan pertanian harus mampu memberdayakan petani dan pelaku usaha pertanian lain untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraannya. Melalui kegiatan penyuluhan, petani ditingkatkan kemampuannya agar dapat mengelola usaha taninya dengan produktif, efisien dan menguntungkan, sehingga petani dan keluarganya dapat meningkatkan kesejahteraanya.
Salah seorang petani kedelai yang juga menjadi penyuluh swadaya, Siti Aminah menjelaskan alasannya menanam kedelai varietas ini karena umurnya lebih pendek, biji polongnya besar dengan berat per 100 biji 18 s.d 20 gram sama dengan kedelai impor. Selain itu, wanita kelahiran 17 Januari 1969 ini menyatakan keunggulan lain dari varietas Grobogan adalah kandungan protein dalam kedelai sebesar 43%. Bila diolah, kedelai varietas ini memiliki keunggulan dalam mendongkrak produksi tahu atau tempe yang sifatnya babar (lebih banyak hasilnya), rasanya pun relatif lebih enak dibanding kedelai impor. Tingkat kematangan polong dan daun bersamaan sehingga pada saat dipanen daun kedelai sudah rontok. Selain itu, masa tanam varietas ini terhitung pendek (74-76 hari) dan mudah beradaptasi di berbagai kondisi lingkungan tanah. “ Dari sisi hasil, untuk penanaman pada lahan 1 Ha, saya mendapatkan hasil 2,6 ton”, ungkapnya.
Sejak kecil ia telah menggeluti dunia pertanian membantu orang tuanya, hal itulah yang akhirnya mendorong Siti Aminah menjadi penyuluh swadaya yang dikukuhkan oleh Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Grobogan pada tahun 2015. Sebagai seorang penyuluh swadaya, ia mendedikasikan waktunya untuk membantu petani lainnya disamping aktivitas sehari-hari sebagai petani. Mulai dari sosialisasi cara menanam kedelai yang baik, pertemuan poktan hingga pendampingan. “Setelah menjadi PPS banyak sekali pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan, baik dari Dinas Pertanian maupun dari pengalaman petani lainnya di lapangan”, imbuhnya. Dari bertani kedelai, ia mampu membesarkan 2 orang putra dan 3 orang putrinya, bahkan salah seorang anaknya sudah bekerja di Taiwan. “Dulu orang menyatakan bahwa menjadi petani itu tidak akan maju, tapi saya sudah merasakan kemajuan dalam hidup saya dan keluarga. Dimana ada kemauan dan usaha keras untuk maju pasti akan berhasil” tambah Aminah. Pengalamannya inilah yang ia tularkan sebagai motivasi kepada petani lain di daerahnya.
Penyataan Siti Aminah diperkuat oleh penyataan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Ir. Edhie Sudaryanto, MM, “Kualitas kedelai lokal dari Grobogan bahkan pernah menjuarai lomba nasional karena memiliki warna biji yang putih kekuningan dan memiliki ukuran 16-20 gram/100 biji, tingkat produktivitas tanamannya tergolong cukup tinggi yaitu berkisar 2,0 sampai 3,5 ton/ha, serta umur panennya yang cenderung pendek.” Disamping itu, biji kedelai Grobogan juga tidak mudah pecah maupun rontok. Sehingga pada saat pengangkutan hasil panen, tidak banyak biji yang hilang maupun tercecer. Kualitas rasa yang dihasilkan kedelai lokal Kabupaten Grobogan ternyata juga tidak kalah unggul. Ketika diolah menjadi susu kedelai, rasa langu yang dihasilkan tidak tertalu terasa, sehingga tidak salah bila sekarang ini banyak pelaku industri seperti produsen tempe, susu kedelai, maupun produsen kecap yang lebih memilih kedelai lokal Grobogan dibandingkan dengan varietas kedelai lainnya”, jelas Edhie.
Adapun kendala yang sering dihadapi para petani kedelai di Grobogan yaitu merosotnya harga kedelai pada saat panen raya tiba. Kondisi ini tentunya sangat merugikan para petani setempat, sehingga ke depannya diharapkan para petani mulai menerapkan strategi yang lebih baik agar hasil panen yang didapatkan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Meskipun perkembangan budidaya kedelai di daerah Grobogan saat ini berkembang dengan pesat, namun pemerintah terus menghimbau masyarakat agar jangan cepat puas dengan hasil yang didapatkan. (Nurlaily).

 

Tanggal Artikel : 08-02-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Jarkomluhdes: Sarana Pendukung Program Pembangunan Pertanian Desa
  2. Kerjasama Indonesia - Fao
  3. Peresmian Pusat Informasi Agribisnis (pia) Deptan Untuk Mendorong Investasi Di Bidang Pertanian
  4. Menteri Pertanian Menyerahkan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Tahun 2009 Kepada 9 Pemulia Tanaman Terbaik