Gerbang Nasional

Kedaulatan Pangan di Tangan Penyuluh Pertanian

Sumber Gambar: doc.pusluh

Orientasi pembangunan pertanian di Indonesia saat ini berdasarkan pada sistem agribisnis, dimana kelembagaan petani memegang peranan penting dalam keberhasilan pembangunan pertanian. Kelembagaan petani di pedesaan memiliki kontribusi dalam akselerasi pengembangan sosial ekonomi petani, aksesibilitas pada informasi pertanian, aksesibilitas pada modal, infrastruktur, dan pasar, dan adopsi inovasi pertanian.
Presiden Joko Widodo pada Pembukaan Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian Tahun 2017 tanggal 5 Januari 2017, mengamanatkan agar pemerintah mendorong usaha (bisnis) petani sehingga mempunyai skala ekonomi, berorientasi pasar berbasis kawasan dengan bentuk korporasi. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Pertanian melakukan upaya pengembangan kelembagaan ekonomi petani, termasuk di dalamnya penguatan kapasitas kelembagaan petani, dalam bentuk Badan Usaha Milik Petani (BUMP).
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dr.Ir. Momon Rusmono, MS dalam sambutannya pada acara Bimbingan Teknis Kelembagaan Ekonomi Petani yang dilaksanakan di Hotel Permata Bogor, tanggal 7 Desember 2017 menyatakan sesuai dengan amanat Undang-Undang No 16 Tahun 2006 tentang SP3K dan diperkuat oleh Undang-undang No 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, pemerintah dan pemerintah daerah berperan memfasilitasi dan memberdayakan petani melalui kelembagaan petani seperti poktan dan gapoktan, agar tumbuh dan berkembang menjadi organisasi yang kuat dan mandiri dalam bentuk kelembagaan ekonomi petani/Badan Usaha Milik Petani (BUMP), yang berbadan hukum seperti koperasi tani dan Perseroan Terbatas (PT) bidang pertanian yang dikelola oleh petani.
Berdasarkan data yang ada di Pusat Penyuluhan Pertanian terlihat bahwa jumlah kelembagaan petani di seluruh Indonesia saat ini berjumlah 641.653 kelompok yang terdiri dari 564.027 kelompoktani, 63.139 gapoktan, dan 14.487 kelembagaan ekonomi petani (data Simluhtan per 1 Desember 2017).Dari data diatas, menjadi tugas kita bersama untuk menumbuhkan dan mengembangkan kelembagaan ekonomi, ungkap Kabadan.
BPPSDMP terus berupaya untuk mewujudkan petani sebagai pelakuutama bidang pertanian yang professional,mandiri dan berdaya. Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan sinergi dari berbagai pihak, diantaranya program desa, fasilitasi permodalan dari perbankan, penguatan kelembagaan ekonomi petani melalui kemitraan usaha dan lainnya. Sinergi membutuhkan pendampingan dari berbagai pihak, diantaranya adalah penyuluh pertanian. Penyuluh pertanian memiliki militansi dalam kesejahteraan petani. “Kedaulatan pangan tidak akan terwujud tanpa adanya kesejahteraan petani, dan penyuluh pertanian memiliki peranan dalam mewujudkan kesejahteraan petani melalui pendampingan better farming, better bisnis, better orientation,better income dan better living”, tambah Kabadan. Dengan adanya kelembagaan ekonomi petani diharapkan dapat menjadi titik temu yang dapat menghubungkan pelaku usaha dalam menetapkan: harga, dukungan sarana produksi, dan pengembangan usaha.
Pada kesempatan yang sama Kabadan mengungkapkan indikator kinerja penyuluh dalam penumbuh kembangan kelembagaan petani, yaitu :
1. Berapa persen kelembagaan peani yang menerapkan sistem pertanian terpadu?
2. Berapa persen kelompok yang mengalami peningkatan kelas kelompok?
3. Berapa persen kelompok tani /gapoktan yang meningkat menjadi Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP)?
Terakhir, Kabadan berpesan kepada 111 orang petugas dari dinas yang menangani penyuluhan pertanian dari 29 provinsi yang menjadi peserta bimtek untuk melakukan proses edukasi dan pembelajaran kepada petani, menginisiasi penumbuhan KEP, serta memfasilitasi kemitraan dan jejaring pemasaran yang lebih baik. (Nurlaily)

Tanggal Artikel : 08-12-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Kementan Pastikan Cpcl Melalui Verifikasi Dan Validasi Data
  2. Mentan Luncurkan Program Perluasan Areal Tanam Baru (patb) Untuk Meningkkatkan Kesejahteraan Petani
  3. Ulus Pirnawan, Meraih Sukses Bersama Kelompok
  4. Tetap Panen Setiap Hari Di Tengah Maraknya Isu Impor