Gerbang Nasional

Bawang Putih “Komoditas unggulan yang menjadi Nadi Kehidupan Petani Kecamatan Sembalun”

Sumber Gambar: doc. pusluh

Berada di lereng Gunung Rinjani, Kecamatan Sembalun yang secara administratif terletak di wilayah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki potensi pertanian yang sangat menjanjikan khususnya komoditas hortikultura. Pada tahun 1990-an Kecamatan Sembalun terkenal dengan komoditas bawang putih “Sangga Sembalun” yang memiliki aroma lebih kuat, pedasnya juga lebih terasa. “Kalau bawang putih lain itu butuh 10 siung, bawang ini hanya butuh 3 siung”, ungkap Indri (salah satu penyuluh pertanian Kecamatan Sembalun). Dengan keunggulan tersebut, produk kita bahkan mampu memasok ke Bali hingga 37 ton, Bima 8 ton, Kupang 2 ton, dan Kalimantan 1,5 ton, tambahnya. Cita-cita Sembalun dengan pengembangan produk unggulan ini adalah menjadi sentra bawang putih dan memenuhi stok nasional, namun kemauan warga untuk fokus mengembangkan bawang putih sempat meredup karena persoalan penyakit tanaman dan fluktuasi harga. Selain itu adanya impor bawang putih secara besar-besaran di Indonesia pada tahun 1998, yang menyebabkan harga bawang putih menurun sehingga produksi bawang putih dari Sembalun pun menurun drastis, jelas Indri.

Semangat untuk mengembangkan bawang muncul kembali karena keyakinan akan ciri khas produk unggulan pertanian Kecamatan Sembalun yang tak dimiliki daerah lainnya. Terlebih adanya tambahan pendapatan telah dirasakan warga. Hal ini dijelaskan oleh Ketua Gapoktan Laksuna Unggul sekaligus ketua kelompok tani Gumilang, Risdun. “Walaupun ada impor bawang putih, kami warga Kecamatan Sembalun tidak pernah meninggalkan bawang putih untuk dibudidayakan”. “Bawang putih merupakan kehidupan Kecamatan Sembalun”, ungkapnya.

Gapoktan Laksuna Unggul memiliki 5 (lima) kelompok tani yang memproduksi bawang putih, antara lain adalah kelompok tani Rosella, Gumilang, Tani Sejahtera, Majapahit dan Putra Gulu. Dengan kapasitas produksi 14-16 ton per musim tanam bahkan mencapai 20 ton per musim tanam membuktikan bahwa Sembalun mendapatkan tambahan pendapatan penghasilan rata-rata minimal 25 persen atau sekitar Rp 30-45 juta. Penghasilan itu baru dari bawang putih saja. Dengan luas ladang mencapai 200 hektar, warga mampu memproduksi hingga 17 ton tiap hektarnya dengan masa panennya tiap 3,5 bulan tambahnya. Bila tak ada impor bawang putih, kami yakin Indonesia dapat mencukupi kebutuhan akan bawang putih. Bahkan, kami optimis Indonesia dapat mencapai swasembada bawang putih pada tahun 2019, kata Risdun pada akhir wawancara.(Nurlaily).

Tanggal Artikel : 20-10-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Tingkatkan Produksi Sentra Bawang Putih Sembalun Melalui Koorporasi
  2. Kerjasama Indonesia - Fao
  3. Peresmian Pusat Informasi Agribisnis (pia) Deptan Untuk Mendorong Investasi Di Bidang Pertanian
  4. Menteri Pertanian Menyerahkan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Tahun 2009 Kepada 9 Pemulia Tanaman Terbaik