Gerbang Nasional

“Keikhlasan”,Kunci Sukses Haji Saupi Penyuluh Swadaya dari Lombok Tengah

Sumber Gambar: Dokumen Pusluh

Sumber daya manusia pertanian memiliki peran vital dalam mendukung suksesnya program kedaulatan pangan Indonesia, termasuk didalamnya para penyuluh pertanian baik PN, THLTBPP maupun penyuluh swadaya. Kehadiran petani yang mampu menjadi penyuluh (penyuluh swadaya) bisa melengkapi kekurangan tenaga penyuluh organik atau penyuluh PNS secara nasional. Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong para petani yang berprestasi untuk juga bisa menjadi penyuluh pertanian swadaya.

Sektor pertanian Indonesia masih kekurangan tenaga penyuluh, secara nasional saat ini tercatat hanya ada sekitar 44 ribu orang penyuluh, baik PNS maupun THLTBPP yang melayani kebutuhan penyuluhan pertanian untuk lebih dari 71 ribu desa yang ada di Indonesia. Berdasarkan UU No 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, idealnya di satu desa dilayani satu orang penyuluh, namun kenyataannya seorang penyuluh harus melayani 3 desa bahkan lebih. Disinilah peran penyuluh swadaya atau mandiri itu sangat dibutuhkan.
Salah satu potret penyuluh swadaya yang sukses adalah Haji Saupi, yang merupakan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bismillah yang beralamat Kelurahan Renteng, Kecamatan Praya, Lombok Tengah, NTB. Ia memegang tiga prinsip utama dalam memberikan penyuluhan yakni, “niat, komitmen, dan keikhlasan”. Dedikasi Haji Saupi dalam mendidik para petani lain amat luar biasa, meski putus sekolah ia mampu menjadi teladan bagi para petani di sekitarnya. “Petani belajar di sawah bukan di bangunan-bangunan”, ungkapnya. Dijelaskan oleh Haji Saupi, sebagai petani tulen, meski pun tidak digaji oleh pemerintah, harus memiliki komitmen besar untuk mengembangkan sistem budidaya pertanian, khususnya tanaman pangan demi mencukupi kebutuhan pangan. Gapoktan yang dipimpin Haji Saupi ini menjadi salah satu Gapoktan yang aktif dan berprestasi dalam mendukung peningkatan produksi pangan.

Gapoktan Bismillah yang terdiri atas empat kelompok tani dengan luas areal sekitar 137 hektar patut menjadi percontohan bagi Gapoktan lain yang ada di Indonesia. Petani-petani yang ada di NTB tak segan datang untuk memetik pelajaran tentang bagaimana mengembangkan sistem budidaya pertanian. Saupi memberikan pemahaman kepada para petani tentang pentingnya memperhatikan cara tanam, pola tanam, dan faktor cuaca. Selama ini, banyak para petani yang abai akan persoalan ini. Selain itu, sejumlah Gapoktan dari Kalimantan, Jambi, hingga Bali pernah berkunjung dan belajar langsung dengan Haji Saupi.
Pria berusia 44 tahun ini sangat dekat dengan penyuluhan dan responsif terhadap perkembangan inovasi. Kuncinya adalah memotivasi petani. “Kita jangan segan untuk keliling ke kecamatan-kecamatan melihat langsung lahan pertanian”, tambah Saupi.
Haji Saupi mengaku awalnya tidak mudah dalam memberikan pemahaman kepada para petani. Namun begitu, hal ini tidak menyurutkan langkahnya untuk sedikit berbagi ilmu kepada sesama. Pelan-pelan dia memberikan pemahaman tentang bagaimana pola tanam yang lebih efisien. Seperti sistem jajar legowo 2:1 yakni cara tanam dengan dua barisan dan diselingi oleh 1 barisan kosong yang setiap baris pinggir mempunyai jarak tanam setengah kali jarak tanaman antar barisan.

Dia mengungkapkan, sistem tersebut memiliki keunggulan, setidaknya di kawasan Lombok, di mana semua barisan rumpun tanaman berada di bagian pinggir menghasilkan produktivitas gabah tertinggi, memudahkan dalam mengendalikan pertumbuhan gulma dan hama penyakit, terdapat ruang kosong yang berfungsi untuk pengaturan air, saluran pengumpul keong emas, dan lebih mengefisienkan penggunaan pupuk. "Saya biasanya menggunakan cara ini dan berhasil. Saya berpikir kenapa tidak dikasih tahu juga kepada petani lain”. Bahkan saya berani jamin kalau dengan menggunakan sistem tanam lama petani mendapatkan hasil 5 ton, dengan cara ini dapat mencapai 6 ton atau lebih, kalau tidak tercapai, selisihnya saya ganti," kata Saupi

Membantu para petani merupakan kebanggan tersendiri baginya. Saat ini, para petani yang ada di sekitar kawasan Gapoktan Bismillah telah memahami dan berhasil menerapkan sistem tersebut. Ia juga berharap, jumlah para penyuluh di Indonesia bisa terus bertambah agar program kedaulatan pangan tidak sekadar menjadi buaian semata. "Penyuluh organik kita banyak yang pensiun, saya harap jadilah penyuluh swadaya dan mandiri," Saupi menambahkan. Sementara di beberapa daerah banyak terjadi moratorium penerimaan pegawai negeri. Gapoktan Bismillah bisa menjadi teladan bagi Gapoktan yang ada di Indonesia.(Nurlaily).

Tanggal Artikel : 13-07-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Leadership Training “menyiapkan Sdm Dalam Mendukung Kementan Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045”
  2. Kerjasama Indonesia - Fao
  3. Peresmian Pusat Informasi Agribisnis (pia) Deptan Untuk Mendorong Investasi Di Bidang Pertanian
  4. Menteri Pertanian Menyerahkan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Tahun 2009 Kepada 9 Pemulia Tanaman Terbaik