Gerbang Nasional

Potensi Agrowisata di daerah Kecamatan Tebas Sungai, Sambas

Sumber Gambar: doc.Pusluh

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat akan menggalakkan Agrowisata Berbasis Komoditi Pertanian hal ini sejalan dengan salah satu kebijakan Kementerian Pertanian RI yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani pada khususnya dan masyarakat di wilayah yang bersangkutan pada umumnya. Agrowisata adalah usahatani yang salahsatu fungsi lainnya adalah sebagai obyek pariwisata. Landasan dalam pengembangan agrowisata ialah sinergi antara pertanian dan pariwisata, dengan demikian pengembangan pertanian dan parawisata secara simultan merupakan salah satu bentuk pengembangan ekonomi kreatif di sektor pertanian yang dapat memberikan nilai tambah bagi usaha agribisnis dalam rangka peningkatan kesejahteraan petani.

Untuk potensi padi Tebas Sungai merupakan kawasan penghasil padi terbesar di Provinsi Kalimantan Barat. Salah satu Gapoktan yang berhasil dari wilayah ini adalah
Gapoktan Mekar Bersatu yang terdiri dari 18 Poktan dengan luas lahan garapan sebesar 480 Ha. 16 Poktan dari Gapoktan Mekar Bersatu ini menghasilkan Padi dengan Varietas Siluh Sari, 1 Poktan menggeluti bidang Peternakan dan 1 Poktan menghasilkan Jeruk Madu. Pak Sahar, Ketua Gapoktan Mekar Bersatu Desa Tebas Sungai menyatakan dengan menggunakan sistem SRI dapat panen 5 kali dalam 2 tahun dengan hasil 5-7 ton sedangkan bila menggunakan teknologi Hazton dapat menghasilkan 9-11 ton. Ditambahkan oleh Sahar, harga gabah kering perkilo Rp.3800/kg, sedangkan harga beras Rp.10.000/kg. Pria berusia 60 yang telah menggeluti pertanian semenjak muda ini menyatakan untuk Tebas Sungai, masyarakat tidak kekurangan padi atau beras. “Kami disini malah kelebihan beras”, ungkap Sahar. Selain bercerita tentang potensi dan hasil produksi beras diwilayahnya, Sahar menyatakan petani di Tebas Sungai ini selalu mendapatkan pelatihan dan pengetahuan mengenai kemajuan teknologi pertanian dari Dinas Pertanian khususnya melalui pendampingan yang dilakukan oleh penyuluh pertanian. “Kami sangat membutuhkan penyuluh pertanian”, tambah Sahar.

Dijelaskan oleh Suliati, petani dan penyuluh pertanian merupakan mitra yang tidak bisa dilepaskan, petani membutuhkan penyuluh begitupun sebaliknya. Upaya-upaya yang dilakukan oleh Suliati untuk mendukung program pemerintah dalam peningkatan produksi padi antara lain dengan melakukan kunjungan kelompok untuk melaksanakan penyuluhan kepada petani satu kali dalam satu minggu . Selain itu sosialisasi dan penerapan teknologi pertanian pun diterapkan kepada poktan-poktan binaannya. “Para Kelompok Tani di Tebas Sungai selalu berupaya untuk melakukan perbaikan baik dari sarana maupun prasarana sehingga dapat meningkatkan hasil produksi khususnya padi dan jeruk siam”, tambah Suliati.

Selain memiliki potensi padi Kecamatan Tebas Sungai, Kabupaten Sambas ini merupakan salah satu kawasan sentra tanaman jeruk di Kalbar. Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Suliati menjelaskan jeruk siam Tebas yang merupakan komoditas unggulan Sambas, saat ini luas tanamnya hanya tersisa 1.600 hektar. Dari jumlah tanaman yang ada, sebanyak 1.200 hektar merupakan tanaman jeruk yang lama dan sisinya 400 hektar tanam jeruk yang baru. Dari luas yang ada semua sudah menghasilkan," ungkap Suliati. Dari luas lahan yang ada, kawasan penanaman jeruk siam tersebar dibeberapa desa, antara lain Desa Segarau Parit, Tebas Sungai, Matang Labong dan Pusaka. Daerah Tebas memang daerah yang paling cocok dan sudah menjadi sentra jeruk dengan rasa yang manis dibandingkan di daerah lain di Kabupaten Sambas. Suliati menambahkan, “untuk tahun 2017 pemerintah akan memberikan bantuan bibit jeruk sebanyak 500 hektar”. (Nurlaily).

Tanggal Artikel : 22-06-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Sosialisasi Kartu Tani Dan Pertemuan Percepatan Validasi Data Melalui Simluhtan Di Wilayah Jawa Barat
  2. “keikhlasan”,kunci Sukses Haji Saupi Penyuluh Swadaya Dari Lombok Tengah
  3. Leadership Training “menyiapkan Sdm Dalam Mendukung Kementan Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045”
  4. “penyuluh Pertanian Jawa Timur Siap Wujudkan Ekonomi Pangan Berkeadilan Melalui Penguatan Kemitraan Pelaku Utama Dan Pelaku U