Gerbang Nasional

PENJAJAKAN KERJASAMA DI WILAYAH PERBATASAN

Sumber Gambar: doc.pusluh

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan Joint Committee Meeting I yang dilaksanakan pada tanggal 29-30 Maret 2017 di Malaka,Malaysia, Kementerian Pertanian dan Industri Asas Tani Malaysia menurunkan tim “Fact Finding Mission to Entikong, West Kalimantan, Indonesia on the Joint Border Development Programme for Agricultral Coorperation Between Indonesia and Malaysia yang terdiri dari Mr. Christoper John Biai (Principan Assistat Director, Departement of Agriculture), Dr. Noraini Samat (Senior Scientst, MARDI), Mr. Benedict Teo Chung Beng (Assistant Director, Departement of Agriculture Sarawak), Mr. Yazid Bostamam (Senior Scientist, Departement of Agriculture Sarawak), Mr. Nicholas AK Jenek (Assistant Director Veterinary Divison, Departement of Agriculture Sarawak) pada tanggal 24-27 Mei 2017. Menurut Kepala Pusat Penyuluhan, BPPSDMP Fathan A Rasyid, kedatangan rombongan dari kementerian Malaysia, dalam rangka meningkatkan hubungan persahabatan dengan negara tetangga, salah satunya dengan meningkatkan hubungan di bidang ekonomi.
Dalam kunjungan tim ini selain mendapatkan penjelasan mengenai potensi pertanian Kalimantan Barat dari Kepala Dinas Provinsi Kalimantan Barat, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP serta Perwakilan dari Balitbangtan, tim juga melakukan meninjau Pelatihan Bengkel Alsintan yang dilaksanakan di Alsintan Centre, Pontianak. Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kalbar, Hazairin menjelaskan bengkel alsintan ini merupakan kerjasama antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Kementerian Pertanian dan Kementerian Perindustrian dan Institut Pertanian Bogor. Melalui pelatihan yang dilaksanakan selama 7 hari ini diharapkan upaya untuk menciptakan sistem mekanisasi pertanian sehinga produk pertanian yang dihasilkan khususnya di wilayah perbatasan memiliki nilai daya saing tinggi dapat terwujud. Kegiatan ini diikuti oleh penyuluh pertanian dari Provinsi Kalimantan Barat, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) wilayah Perbatasan, anggota Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP), serta teknisi dan Operator Alsintan yang berada di Provinsi Kalimantan Barat. Dalam kesempatan tersebut Yazid Bostamam mengungkapkan ia sangat tertarik dengan pelatihan yang dilaksanakan di bengkel alsintan ini. “Di negeri kami bila membeli alat pertanian dan terjadi kerusakan, tidak ada tempat untuk memperbaiki, kami harus membeli alat baru lagi. Sedangkan di Indonesia selain ada bengkel alsintan sebagai tempat reparasi alat dan mesin pertanian dilatih pula tenaga-tenaga handal untuk memperbaiki alat mesin tersebut, bila ditinjau dari sisi ekonomi hal ini tidak mubazir”, ungkapnya.
Selanjutnya Tim mengunjungi Kawasan Penanaman Jagung di Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang. Sentra produksi jagung di Kalbar dipusatkan di Kecamatan Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang, karena lahan di lokasi tersebut cocok untuk pengembangan jagung. Kawasan ini merupakan kawasan Angkatan Udara yang dikelola oleh petani jagung. Pemprov Kalbar telah menetapkan jagung sebagai salah satu komoditas unggulan dengan program Gentaton (Gerakan Satu Juta Ton). Provinsi Kalimantan Barat merupakan sentra jagung di Kalimantan, yakni sebesar 57,23 persen, sementara tiga provinsi lainnya sebesar 42,77 persen. Rombongan tim disambut Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Holtikultura dan Perikanan (Hangpang Holtikan) Kabupaten Sanggau Ir H John Hendri M Si, Dandim 1204 Sanggau Letkol Arm I Gusti Agung Putu Sujarnawa, Camat Kembayan Ignasius Nono, Kapolsek Kecamatan Kembayan Iptu Beny Subagio, Danramil Kembayan Kapten Inf Dewa, Kepala Desa Tunggal Bakti Wiji dan Kepala BP3K Kembayan, Asing.
Selain meninjau kawasan Jagung, Tim juga mengunjungi Desa Tebas Sungai, Semparuk yang merupakan kawasan padi, peternakan dan jeruk madu. Pada kunjungan di lokasi ini selain melihat hamparan padi, rombongan tim dapat melihat langsung kesiapan kawasan perbatasan untuk mengekspor beras ke negara tetangga. Cristopher John Piai mengatakan, terkait impor beras dari Indonesia pihaknya akan melaporkan terlebih dahulu kepada pemerintah Malaysia.“Kita belum ada kata putus, untuk ini dihantar tim yang lima orang ini untuk mendapatkan fakta yang kita lihat untuk kita laporkan, temuan yang kita dapat kita sampaikan baru disana akan membicarakan. Kita belum bisa buat keputusan, akan tunggu pihak atasan untuk membuat keputusan. Kita akan laporkan kepada pihak atasan terlebih dahulu,” jelasnya.
Ditambahkan oleh Cristoper, Ia sangat mengagumi potensi pertanian yang tersedia di Indonesia khususnya di wilayah perbatasan Provinsi Kalimantan Barat, selain itu pemanfaatan teknologi seperti Hazton pun dirasa sangat menguntungkan petani. “Saya akan coba bawa berita baik ini untuk diaplikasikan di Malaysia”, ungkapnya. (Nurlaily).

 

 

Tanggal Artikel : 09-06-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Kementerian Pertanian Menjaring Calon Pengusaha Di Bidang Pertanian Melalui Bimtek Kelembagaan Ekonomi Petani
  2. Potensi Agrowisata Di Daerah Kecamatan Tebas Sungai, Sambas
  3. Sosialisasi Kartu Tani Dan Pertemuan Percepatan Validasi Data Melalui Simluhtan Di Wilayah Jawa Barat
  4. “keikhlasan”,kunci Sukses Haji Saupi Penyuluh Swadaya Dari Lombok Tengah