Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

Uji Petik Pedoman Rencana Aksi Penerapan Sistem Pertanian Terpadu (SPT)

Sumber Gambar: Dokumentasi IM

Kementerian Pertanian telah menyusun Strategi Induk Pembangunan Pertanian 2015-2045, dengan visi utama terwujudnya sistem pertanian bioindustri berkelanjutan yang menghasilkan beragam pangan sehat dan produk bernilai tambah tinggi dari sumberdaya hayati pertanian dan kelautan tropika. Untuk mewujudkan visi tersebut, salah satu misi pembangunan pertanian yang akan dijalankan ialah mengembangkan sistem usahatani pertanian tropika agroekologi terpadu bioindustri, di mana salah satu pilar penopangnya adalah sistem usahatani bio/agroindustri dan bio/agroservices terpadu.
Berdasarkan Indikator Kinerja Utama Pusat Penyuluhan Pertanian, salah satu sasaran kegiatan yang telah ditetapkan yaitu meningkatnya kelembagaan petani yang menerapkan sistem pertanian terpadu. Secara umum, Sistem Pertanian Terpadu merupakan suatu kombinasi usahatani yang dapat mengurangi erosi, meningkatkan hasil tanaman, mendaur-ulang hara dan aktivitas biologis tanah, meningkatkan efisiensi penggunaan air, mengurangi serangan hama dan penyakit, meningkatkan intensitas penggunaan lahan, meningkatkan keuntungan usahatani, dan oleh karenanya dapat mengurangi kemiskinan dan gizi buruk, serta meningkatkan keberlanjutan daya dukung lingkungan.
Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian c.q. Pusat Penyuluhan Pertanian telah menyusun draft Pedoman Rencana Aksi Penerapan Sistem Pertanian Terpadu (SPT) sebagai acuan bagi penyelenggara penyuluhan dalam melakukan pembinaan kepada kelembagaan petani. Dalam pedoman ini terdapat 10 (sepuluh) model Sistem Pertanian Terpadu yang dapat dijadikan acuan, yaitu 1) Pengelolaan Pertanian Terpadu; 2) Pengelolaan Hara Terpadu; 3) Pengelolaan Hama Terpadu; 4) Pengelolaan Air Terpadu; 5) Pengelolaan Ternak Terpadu; 6) Pengelolaan Limbah Terpadu; 7) Pangan Untuk Manusia; 8) Pakan Ternak; 9) Energi /Biogas; dan 10) Pupuk Organik.
Guna penyempurnaan pedoman ini, pada tanggal 23 s.d. 25 Januari 2018 telah dilakukan uji petik di provinsi Jawa Barat dan Lampung. Uji petik di provinsi Lampung dilakukan di UPT Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sidomulyo dan UPT Penyuluhan Pertanian Kecamatan Candipuro (Kabupaten Lampung Selatan) serta di UPT Penyuluhan Pertanian Kecamatan Kota Gajah (Kabupaten Lampung Tengah). Dalam uji petik tersebut hadir para penyuluh dan perwakilan kelompok tani yang mewakili kelas kemampuan kelompoktani yang berbeda di masing-masing UPT Penyuluhan. Uji petik dilakukan untuk menggali persamaan pemahaman serta memperoleh masukan dari para pelaku di tingkat lapangan, baik dari penyuluh maupun petani.
Kepala UPTD Penyuluhan Pertanian Provinsi Lampung, Ir. Maria Jojor RN, MTA mengatakan bahwa Provinsi Lampung sangat mendukung dan akan melakukan pengawalan dan pendampingan, demi menjaga kelestarian dan keberlangsungan alam serta pengembangan pembangunan pertanian.
Sementara itu, perwakilan dari tim Pusluhtan yang turun ke lapangan, Inang Sariati menyatakan bahwa penerapan SPT di kelompoktani yang sebagian besar mengusahakan komoditi tanaman pangan, hortikultura dan peternakan telah dilakukan, namun masih ada juga petani yang belum mau dan mampu melakukan pemanfaatan kotoran ternak untuk digunakan sebagai penghasil biogas. Selain itu, masih ada petani yang mengandalkan pestisida dalam penanggulangan serangan hama, sedangkan air yang digunakan untuk kebutuhan pengelolaan uasahatani umumnya masih mengandalkan sumur bor.(doewa)

Tanggal Artikel Diupload : 01-02-2018
Tanggal Cetak : 23-06-2018

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386