Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

Ulus Pirnawan, Meraih Sukses Bersama Kelompok

Sumber Gambar: doc. pusluh

“Dari Petani, Oleh Petani dan Untuk Petani”, merupakan semangat yang mendasari dibentuknya sebuah unit usaha dibidang pertanian. Upaya pengembangan jejaring dan kemitraan pun dilakukan oleh kelompok tani/gabungan kelompok tani untuk menumbuh kembangkan sistem agribisnis dengan prinsip kesetaraan dan saling menguntungkan. Kelembagaan petani merupakan unit usaha ini memanfaatkan potensi baik modal maupun kemampuan dari masing-masing kelompok dalam mengembangkan usahanya. Penerapan pola kemitraan bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah keterbatasan modal dan teknologi bagi petani kecil, peningkatan mutu produk, dan masalah pemasaran. Konsep kemitraan yang mengacu pada konsep kerjasama antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar disertai pembinaan, dengan memperhatikan prinsip saling menguntungkan dan memperkuat dilakukan dalam pengembangan kelembagaan petani.

Mengubah orientasi pasar menjadi lebih maju pada akhirnya mendorong kelompok tani/gapoktan untuk selalu memperbaiki kualitas produknya dari hulu (produksi) hingga hilir (paska panen) tidak terkecuali kemasan produk akhirnya. Tingkat keberhasilan kemitraan menentukan manfaat bagi petani. Manfaat bermitra dapat tercapai sepanjang kemitraan yang dilakukan berdasarkan pada prinsip saling memperkuat, memerlukan, dan menguntungkan. Hal inilah yang dilakukan oleh Ulus Pirmawan, pria kelahiran tahun 1974 yang telah menggeluti dunia pertanian khususnya komoditas hortikultura. Tinggal di Lembang, Bandung Barat dengan berbagai kekayaan sumber daya alam yang menjanjikan untuk memproduksi pertanian, membuat ia mencintai dunia pertanian.

Dimulai pada tahun 1995, Ulus menggeluti dunia pertanian. Pada tahun 2000, pria ini secara mandiri fokus untuk menghasilkan baby buncis. Keberhasilan Ulus dalam bertani buncis, ternyata dilirik oleh rekan-rekannya sesama petani. Tahun 2005 merupakan awal Ulus membentuk kelompok tani (poktan) dengan nama Baby French Farmer Market dengan beranggotakan 20 orang. Seiring dengan berkembangnya waktu poktan ini mendapatkan pendampingan dari berbagai pihak, baik dari Pemerintah Pusat, Daerah bahkan pihak Perguruan Tinggi berupa pelatihan SOP dan GAP.

Keuntungan berkelompok dirasakan oleh anggotanya dan hal ini membuat banyak petani lain di sekitarnya ingin gabung mengembangkan dan membuka peluang pasar lebih luas. Tahun 2010 dibentuklah Gapoktan Wargi Panggupai dengan beranggutakan tiga kelompok tani yang memproduksi baby buncis yang salah satunya adalah Baby French Farmer Market dan dua kelompok tani penghasil sayuran daun untuk mensuply pasar modern. Pada tahun 2015, Gapoktan ini mulai mengekspor baby buncis ke Kenya dan Singapura melalui eksportir Corona, Alamanda dan Multi Fresh dua kali seminggu minimal satu ton sekali pengiriman. Dalam satu hari, Ulus mampu memproduksi 300-500 kg baby buncis untuk ekspor. Selain ekspor, buncis juga didistribusikan di wilayah Bandung dan Jakarta melalui dan pasar modern, pasar tradisional dan Toko Tani Indonesia.

Selain menjadi petani sukses yang patut jadi inspirasi masyarakat, Ulus yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) ini mampu menjadi petani buncis yang mampu berdaya saing global. Mengapa dikatakan berdaya saing global? Karena kebunnya yang berlokasi di Lembang, Bandung Barat dijadikan bahan studi banding Kementerian Pertanian Kenya dan perwakilan Organisasi Pangan Dunia (FAO). Kebun buncis milik Ulus jadi rujukan FAO untuk memberdayakan petani di Kenya. Ulus disebut sebagai petani sukses lantaran ia mengangkat derajat masyarakat sekitar untuk berkiprah di dunia pertanian, mulai dari hulu hingga hilir secara mandiri. Kesuksesan Ulus membawanya jadi petani teladan yang mendapat penghargaan dari FAO pada Oktober 2017. Tidak berhenti disitu, Ulus melakukan pendampingan kepada anggota kelompoknya untuk memiliki dan menjaga standar khusus dalam budi daya ramah lingkungan tanpa menggunakan bahan kimia atau pestisida yang berlebihan. Selain itu ia menegaskan kepada anggotanya untuk melakukan program tanam terjadual sehingga tidak ada produksi yang melimpah dan mengakibatkan harga anjlok.

Upaya Ulus tidak mulus tanpa kendala, ia pun menghadapi berbagai masalah antara lain permodalan. Banyaknya anggota poktan dan gapoktan yang minim modal tidak membuat pria ini menyerah. Kendala ini diatasi dengan penyiapan lahan, penyediaan benih, pupuk lalu mengambil keuntungan dari bagi hasil penjualan anggotanya. “Kuncinya dari petani, untuk petani dan oleh petani”, ungkapnya. Pada akhir wawancara Ulus berpesan kepada seluruh petani di Indonesia “Sektor pertanian tidak akan mati, selama manusia hidup pasti membutuhkan sektor pertanian. Maka kita jangan hanya berfikir bagaimana memproduksi banyak tanpa adanya perhitungan yang matang, kita harus berfikir bagaimana memproduksi hasil pertanian khususnya sayuran dengan kualitas bagus dan berkelanjutan. Bila kita mampu memproduksi barang yang bagus pasar pasti akan mencari kita. Jangan menjadikan profesi petani hanya sekedar mata pekerjaan karena tidak ada pekerjaan lainya, pertanian ini merupakan usaha dimana harus ada perencanaan, target dan evaluasi. Dalam mengelola pertanian, kita harus memahami keinginan pasar, melakukan pengelolaan lahan yang baik, ketinggian bedengan yang tepat agar air tidak menggenang dimusim hujan, proses tanam dan panen yang baik sehingga menghasilkan produk yang menjanjikan dan dapat diterima oleh pasar, baik lokal maupun internasional”. (Nurlaily).

 

Tanggal Artikel Diupload : 28-12-2017
Tanggal Cetak : 22-04-2018

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386