Gerbang Daerah >> JAWA TIMUR >> KABUPATEN JOMBANG >> BP3K Kudu

MERIAHNYA SEDEKAH DESA DI SENDANG MADE

Sumber Gambar: BPP Kudu

Ratusan warga Desa Made Kecamatan Kudu melaksanakan tradisi sedekah desa / sedekah bumi. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 06 Oktober 2018. Tradisi yang digelar setiap tahun ini juga dibanjiri warga dan anak-anak baik yang berasal dari Desa Made maupun yang berasal dari desa-desa di sekitar Desa Made. Tujuan utama masyarakat turut berbondong-bondong hadir dalam acara ini adalah untuk menyaksikan prosesi sedekah desa dan juga ingin berebut ambeng yang berisi nasi lengkap dengan lauk-pauk serta tumpeng raksasa yang berisi sayur-mayur dan buah-buahan. Ada kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa diungkapkan bisa turut menyaksikan acara ini, tutur salah satu penonton yang berasal dari luar desa. Sangat terlihat jelas kemeriahan dan kesakralan dari prosesi acara yang disajikan.
Sedekah desa / sedekah bumi ini merupakan kegiatan khasanah budaya dan kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Karena kegiatan ini merupakan warisan budaya secara turun-temurun. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Kepala Desa Made. "Sedekah bumi / sedekah desa di Desa Made ini mencerminkan budaya dan kearifan lokal jangan sampai dilupakan atau ditinggalkan, dan sebagai Kepala Desa kami merasa sangat terhormat karena perayaan tahun ini bisa dihadiri oleh Bapak Wabup Sumrambah beserta Beberapa Kepala Dinas", tutur Winarsih Kepala Desa Made.
Tradisi sedekah bumi ini dilakukan oleh warga desa Made yang bertujuan untuk mensyukuri hasil panen yang telah didapatkan selama satu tahun kemarin. Mayoritas mata pencaharian warga Desa Made adalah petani yang menggantungkan hidupnya dengan memanfaatkan kekayaan alam yang ada di bumi. Menurut warga, sedekah bumi merupakan ungkapan rasa syukur atas pemberian keselamatan dan rejeki dari Allah SWT selama setahun yang lalu. Warga berharap semoga rejeki ditahun mendatang bisa semakin bertambah dan dijauhkan dari mara bahaya.
Acara dimulai dengan kegiatan kirab ambeng berangkat dari Balai Desa Made menuju Sendang Made. Rombongan berjalan kaki iring-iringan diikuti oleh perwakilan rombongan dari masing-masing RT se-Desa Made. Ambeng yang dibuat oleh warga kurang lebih ada 300 tumpeng nasi dan tidak kurang dari 22 gunungan ambeng raksasa. Gunungan ambeng raksasa ini berisi buah-buahan dan sayur-sayuran. Gunungan ambeng raksasa ini adalah hasil karya dari masing-masing RT dan disusun dalam bentuk yang beraneka macam. Ada yang dirancang berbentuk menyerupai ikon kota jombang yakni ringin contong, ada juga yg berbentuk ayam jago raksasa, gunung, rumah/gubug, pohon dan masih banyak lagi.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Bupati Jombang, Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Peternakan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Bapak Camat Kecamatan Kudu beserta staf serta para undangan dari UPTD se Kecamatan Kudu. Dalam kesempatan ini Wabup Sumrambah didapuk untuk melakukan ritual penyatuan 7 mata air sendang Made, yang dalam cerita kuno dipercaya bahwa 7 mata air sendang merupakan sumber mata air kehidupan bagi masyarakat Desa Made dan desa-desa di sekitar Sendang Made.
Wabup Sumrambah mengatakan bahwa Sendang Made merupakan peninggalan kerajaan Majapahit, sehingga warga di sekitar menjadikan Sendang Made sebagai tempat yang dikeramatkan. "Sendang Made merupakan tempat petilasan bersejarah. Pemkab Jombang pada tahun anggaran 2019 akan menyediakan anggaran untuk renovasi lokasi Sendang Made sebagai tempat wisata yang bernilai ekonomis bagi warga Desa Made", tutur Beliau.
Pada kesempatan berikutnya, Camat Kudu Sutomo juga diberi kesempatan untuk memberikan sambutan. Beliau menyampaikan rasa kegembiraannya bahwa Pemkab Jombang akan merenovasi Sendang Made, karena lokasi ini mempunyai nilai sejarah bagi Jombang, khususnya Desa Made Kecamatan Kudu. "Ini adalah warisan sejarah yang harus dilestarikan, sebagai orang jawa jangan sampai lupa dengan asal-usul kita. Dan perayaan ini adalah wujud dari cara menjaganya, sehingga generasi muda sekarang juga harus paham", tutur beliau mengakhiri sambutannya.
Kegiatan yang digelar oleh pemerintah Desa Made dan masyarakatnya ini perlu diberi apresiasi. Selain untuk menjaga tradisi, juga bertujuan untuk senantiasa menjalin peraudaraan, kerukunan, dan kekompakan warga. Keberhasilan pembangunan desa tidak luput dari peran serta masyarakat yang mengedepankan kerukunan dan persaudaraan. Kita harus mengembalikan semangat menghargai tradisi. (ined)

Penulis : Deny Murtanti,SP - PPL BPP Kudu

Tanggal Artikel: 08-11-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Optimasi Pemanfaatan Alsintan Sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Petani
  2. Pengendalian Hama Wereng Batang Coklat Pada Tanaman Padi Di Desa Kedunglumpang Kec. Mojoagung
  3. Budidaya Bawang Merah ( Allium Cepa L ) Di Desa Koto Ringin
  4. Tabur Benih Bersama Menuju Persiapan Farm Field Day Di Desa Mesjid Tuha Kecamatan Meureudu Kabupaten Pidie Jaya