Gerbang Daerah >> GORONTALO >> KABUPATEN BONE BOLANGO

PELETAKAN BATU PERTAMA PEMBANGUNAN GEDUNG SEKRETARIAT KELEMBAGAAN EKONOMI PETANI (KEP) “INSAN MANDIRI”

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Peletakan batu pertama pembangunan Gedung Sekretariat Koperasi "Insan Mandiri" Desa Tunas Jaya Kecamatan Bonepantai dilakukan oleh Koordinator BPP Bonepantai bapak Sumarno, Ketua Koperasi Insan Mandiri bapak Apris Nasrun Buhungo, bapak Husain Amruna selaku Ketua Pengawas Koperasi Insan Mandiri, Petugas POPT Provinsi Gorontalo bapak Usman K. Dullah, SP dan Penyuluh Pembina Wilayah Kecamatan Bonepantai bapak Lukman Hairun, STP. Kegiatan dilaksanakan pada hari Senin tanggal 12 Pebruari 2018. Selama ini kegiatan penyuluhan dilakukan melalui pendekatan kelompok dan diawali dengan penumbuhan dan pengembangan kelompoktani (poktan). Kelompoktani ini merupakan kelembagaan tani yang berfungsi sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi. Selanjutnya banyak dari poktan-poktan ini membentuk gabungan kelompoktani (gapoktan) dalam rangka pengembangan usahanya melalui pembentukan unit produksi yang lebih besar, sekaligus mengembangkan layanan bagi petani dan poktan-poktan anggotanya melalui pembentukan unit-unit usaha otonom, antara lain unit penyedia sarana dan prasarana produksi, unit pengolahan dan pemasaran, serta unit jasa penunjang. Seiring dengan pembangunan pertanian yang berorientasi agribisnis, maka penyuluhan pertanian dituntut untuk lebih berorientasi pasar dan mampu menciptakan lebih banyak pelaku usaha atau manajer agribisnis yang memiliki jiwa kewirausahaan (entrepreneur). Untuk itu, transformasi kelembagaan tani menjadi kelembagaan ekonomi petani tidak terelakkan lagi, sejalan dengan tuntutan untuk melakukan penguatan organisasi usaha yang berbadan hukum, guna meningkatkan kepercayaan pihak lain selaku mitra usaha dan meningkatkan akses petani terhadap lembaga keuangan/perbankan, serta lembaga penyedia layanan agribisnis lainnya. Hal ini dimaksudkan guna meningkatkan posisi tawar dan daya saing petani Indonesia dalam era perdagangan global. Transformasi kelembagaan tani menjadi kelembagaan ekonomi ini, antara lain dilakukan melalui pengembangan target pasar, pengembangan jejaring kerja dengan mitra petani/poktan/gapoktan selaku pemasok, baik di sekitarnya maupun di luar wilayah; pengembangan skala usaha; diversifikasi produk (horizontal dan vertikal); serta pengembangan jejaring kemitraan usaha dalam rangka menembus pasar yang lebih luas. Semua ini berpotensi menekan biaya produksi per satuan unit (meningkatkan efisiensi usaha), meningkatkan daya saing, mengurangi resiko kerugian, meningkatkan nilai tambah serta perolehan pendapatan usaha. Sebagai konsekuensinya, diperlukan dukungan permodalan, penyediaan teknologi dan informasi pasar yang mutakhir, fasilitasi pengembangan jaringan kemitraan usaha, fasilitasi penumbuhkembangan kelembagaan ekonomi petani, serta peningkatan kemampuan untuk mengelola usaha secara lebih komersial. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K), Pemerintah dan pemerintah daerah berperan memfasilitasi dan memberdayakan kelembagaan pelaku utama, agar tumbuh dan berkembang menjadi organisasi yang kuat dan mandiri sehingga mampu mencapai tujuan yang diharapkan oleh anggotanya. Hal ini dapat ditempuh dengan upaya bimbingan dan pendampingan sinergik dam terpadu dengan melibatkan dinas/instansi terkait, antara lain Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dinas/instansi lingkup pertanian, lembaga keuangan/perbankan, dinas/instansi penyedia berbagai layanan agribisnis lainnya (PT.PERTANI, PT.Sang Hyang Seri, Balai Penangkaran dan Sertifikasi Benih), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Perguruan Tinggi, serta sesama organisasi petani. Disamping itu, dalam kaitan dengan penumbuhkembangan kelembagaan ekonomi petani, diperlukan pula pendampingan dari penasehat hukum, notaris yang telah memiliki akreditasi tentang badan usaha atau tenaga profesional di bidang manajemen perusahaan agribisnis. Hal ini dimaksudkan guna memberi penjelasan kepada petani tentang beberapa pilihan bentuk kelembagaan ekonomi petani beserta kelebihan dan kelemahan masing-masing, serta membantu pendampingan dalam rangka penumbuhkembangan kelembagaan ekonomi petani menjadi Badan Usaha Milik Petani (BUMP) dalam bentuk Koperasi Tani (Koptan) atau Perseroan Terbatas (PT) yang keanggotaannya (Koptan) atau kepemilikan sahamnya (PT) dimiliki oleh petani sendiri. Untuk dapat melaksanakan fasilitasi ini, Penyuluh Pertanian dituntut untuk memperluas perannya, tidak saja sebagai agen yang menyuluhkan inovasi teknologi, namun juga agen yang menghubungkan petani dengan berbagai dinas/instansi penyedia berbagai layanan agribisnis tersebut, baik dinas/instansi pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Namun demikian, satu hal yang perlu diingat yaitu bahwa pengembangan kapasitas petani dalam berorganisasi dan berusaha tersebut seyogyanya dibangun secara bertahap, sehingga terbentuk dengan baik melalui pengalaman petani selaku manajer dalam usahataninya sendiri, pengalamannya dalam keanggotaan poktan/gapoktan, pengalamannya dalam kelompok usaha bersama, maupun pembelajaran yang dipetik dalam berinteraksi dengan pelaku usaha/mitra usahanya selama ini. Setidaknya kelembagaan petani yang berpotensi untuk berkembang menjadi kelembagaan ekonomi, diharapkan telah memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
1. Telah melakukan kegiatan usaha berkelompok yang berorientasi pasar;
2. Struktur organisasi kelembagaan petani tersebut telah memiliki kepengurusan yang melakukan kegiatan usaha atau unit usaha agribisnis;
3. Memiliki perencanaan usaha yang disusun secara partisipatif dalam kurun waktu atau siklus usaha tertentu;
4. Memiliki pencatatan dan pembukuan usaha;
5. Telah membangun kemitraan usaha dengan pengusaha atau kelembagaan ekonomi lainnya; dan
6. Telah membutuhkan dukungan aspek legal untuk memperkuat pengembangan usaha.
Sumber:
1. Anonim, 2012. Petunjuk Pelaksanaan Pengembangan Kelembagaan Ekonomi Petani. Jakarta: Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian
2. Ekin, Tim K, 2012. Concepts: Supply Chains, Enterprises, Market Orientation. Jakarta. Kantor Bank Dunia di Jakarta.

Penulis : Lukman Hairun, STP
KJF Dinas Pertanian Dan Peternakan

Tanggal Artikel: 13-02-2018

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Tabalong Gelar Rembug Ktna Dengan Undang 1000 Petani (bag 1)
  2. Tabalong Gelar Rembug Ktna Dengan Undang 1000 Petani (bag 2)
  3. Para Petani Cirebon Menerima Kartu Tani
  4. Petani Lombok Barat Panen Raya Padi Bersama Bupati