Gerbang Daerah >> KALIMANTAN SELATAN >> KABUPATEN BANJAR >> BP3K Sungai Tabuk

PENGELOLAAN ALSINTAN DILAHAN PASANG SURUT KECAMATAN SUNGAI TABUK

Sumber Gambar:

PENGELOLAAN ALSINTAN DILAHAN PASANG SURUT KECAMATAN SUNGAI TABUK

Lahan rawa pasang surut merupakan lahan marginal yang memiliki potensi cukup besar untuk pengembangan pertanian khususnya untuk pengembangan tanaman pangan. Luas lahan ini di Indonesia diperkirakan mencapai 20,11 juta hektar, sekitar 9,53 juta hektar diantaranya berpotensi sebagai areal pertanian, dimana sebanyak 35.517 ha berada diwilayah Kabupaten Banjar. Sedang diwilayah kecamatan Sungai Tabuk, luas lahan pasang surut mencapai 8.187 ha dari luas wilayah 14.730 ha yang tersebar di 18 desa

Tipologi Lahan Pasang Surut
1. Lahan potensial adalah lahan yang paling kecil kendalanya dengan ciri lapisan pirit (2 %) berada pada kedalaman lebih dari 30 cm, tekstur tanahnya liat, kandungan N dan P tersedia rendah, kandungan pasir kurang dari 5 persen, kandungan debu 20 % dan derajat kemasaman 3,5 hingga 5,5
2. Lahan sulfat masam adalah lahan yang lapisan firitnya berada pada kedalaman kurang dari 30 cm
3. Lahan gambut/bergambut adalah lahan yang mempunyai lapisan gambut dan berdasarkan ketebalan gambutnya lahan ini dibagi ke dalam empat sub tipologi yaitu lahan bergambut, gambut dangkal, gambut dalam dan gambut sangat dalam, umumnya lahan gambut kahat beberapa unsur hara mikro yang ketersediaannya sangat penting untu pertumbuban dan pekermbangan tanaman
4. Lahan salin adalah lahan pasang surut yang mendapat intrusi air laut, sehingga mempunyai daya hantar listrik 4 MS/cm, kandungan Na dalam larutan tanah 8 – 15 %
Ada 4 kunci sukses pengelolaan lahan rawa yang selain dapat meningkatkan produktivitasnya juga dapat melestarikan kesuburan tanah sehingga pertanian berkelajutan (sustainable agricultural) dapat dicapai.
Adapun keempat kunci sukses dimaksud adalah:
• Pengelolaan air; yaitu sistem satu arah pada lahan-lahan tipe A dan B, dan sistem konservasi pada lahan tipe C dan D. Secara specifik pengelolaan air di lahan pasang surut bertujuan untuk : (1) Memenuhi kebutuhan air pada penyiapan lahan, (2) Memenuhi kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman, (3) Memberikan suasana kelembaban yang ideal bagi pertumbuhan tanaman dengan mengatur tinggi muka air tanah, (4) Memperbaiki sifat fisiko-kimia tanah dengan cara mencuci zat-zat yang bersifat meracun bagi tanaman, (5) Mengurangi semaksimal mungkin terjadinya oksidasi pirit pada tanah sulfat; (6) Mencegah terjadinya proses kering tak balik pada gambut, (7) Mencegah terjadinya penurunan permukaan tanah (subsidence) terlalu cepat; dan (8) Mencegah masuknya air asin ke petakan lahan.
• Penataan lahan; Adapun tujuan penataan lahan adalah untuk : (1) mengurangi resiko kegagalan total dalam usaha tani; (2) meningkatkan keragaman usaha tani melalui difersifikasi tanaman; (3) meningkatkan pendapatan usaha tani melalui difersifikasi tanaman; (4) mempertahankan kesuburan tanah. Penataan lahan di lahan rawa pasang surut dapat dilakukan berdasarkan kepentingan dan keadaan tipologi lahan. Dikenal ada 4 model penataan lahan, yaitu (1) sistem sawah; (2) Sawah Surjan; (3) Sawah Tukungan; dan (4) tegalan/kebun. Jenis penataan lahan yang akan diterapkan harus disesuaikan dengan tipe luapan dan tipologi lahan
• Pemilihan Komoditas adaptif dan prospektif; ada empat pertimbangan yang perlu diperhatikan agar komoditas yang diusahakan dapat berproduksi secara optimal dan memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Adapun ke empat pertimbangan dimaksud adalah (1) agroteknis, (2) ekonomis, (3) sosial, dan (4) pemasaran.
• Penerapan teknologi budidaya yang sesuai; meliputi penyiapan lahan, pemberian bahan amelioran, penggunaan varietas yang adaptif, pemupukan, pengaturan tanam, pemberantasan hama penyakit dan lain-lain.
Lalu bagaimana pengelolaan alsintan dilahan pasang surut bila kita bercermin pada hal-hal yang telah dibahas diatas???
• Pengolahan Tanah
Dilahan pasang surut petani terbiasa melakukan pengolahan tanah minimal (tradisional). Namun pengolahan tanah dilahan pasang surut juga dapat menggunakan alsintan. Pengolahan tanah yang memberikan hasil baik dari segi fisik lahan dan hasil tanaman adalah dengan bajak singkal atau tajak diikuti oleh rotary atau glebeg yang dikombinasikan dengan herbisida. Bila tanahnya sudah gembur atau berlumpur baik dan merata yang umumnya dijumpai pada lahan bergambut dengan tipe luapan air A dan B, pengolahan tanah secara intensif tidak diperlukan tetapi diganti dengan pengolahan tanah minimum atau tanpa olah tanah (TOT) yang dikombinasikan dengan penggunaan herbisida. Pengolahan tanah tidak terlalu dalam untuk menghindari keasamaan tanah naik ke permukaan.
• Pemeliharaan.
Terutama pada saat pengendalian hama penyakit tanaman padi, alsintan (hand sprayer) mutlak diperlukan. Baik yang manual, elektrik atau mesin telah digunakan. Sekitar 40 % petani diwilayah Sungai Tabuk telah memiliki hand sprayer (manual) sendiri. Pompa air merupakan alat yang mutlak dan sangat penting diperlukan petani, terutama dimusim kemarau yang hampir tiap tahun terjadi. Selain jumlah pompa air yang masih terbatas, pengelolaan pompa air ditingkat kelompok tani menjadi permasalahan tersendiri yang berdampak pada kerugian petani karena tidak tercukupinya kebutuhan air untuk tanaman padi pada musim kemarau. Diperkirakan tidak lebih dari 60 % kelompok tani yang telah memiliki pompa air.
• Panen dan pasca panen.
Kenyataan dilapangan mayoritas petani melakukan kegiatan panen dan pasca panen secara manual. Baru sebagian kecil petani yang melakukan panen dan pasca panen menggunakan alsintan (sabit dan perontok padi) dikarenakan terbatasnya jumlah alsintan yang tersedia dilapangan.
Kesimpulan : Alsintan Untuk Pertanaman Padi Dilahan Pasang Surut Sangat Dibutuhkan.

Masalah :
Pengelolaan alsintan di WKPP wilayah BP3K sungai Tabuk masih belum optimal dilakukan dikarenakan:
• Belum ada aturan pengelolaan yang jelas yang dimiliki kelompok
• Ego pengurus kelompok masih dominan sehingga pamakaian didominasi hanya oleh pengurus kelompok dan keluarganya
• Kesadaran anggota untuk berswadaya dalam OP alsintan masih rendah sehingga iuran tidak menutupi biaya OP yang berdampak bila alsintan rusak tidak ada biaya untuk perbaikan.
• Tidak adanya juknis/pedum/panduan yang jelas dari dinas terkait pengelolaan jenis-jenis alsintan, bagaimana supaya alsintan bisa dipakai sesuai usia ekonomisnya bahkan kalo bisa cost recovery.
• Jumlah Alsintan terbatas
• Petani belum bisa mmperbaiki bila terjadi kerusakan
• Penyuluh juga tidak bisa (terampil) dalam mengoperasikan alsintan
• Alat yang tersedia tidak sesuai dengan kondisi lahan

Solusi :
• Hendaknya dinas terkait memberikan juknis /pedum /panduan yang jelas tentang pengelolaan jenis-jenis alsintan.
• Kelompok membuat aturan pengelolaan yang jelas berdasarkan pedum/juknis dari Dinas
• Perlu dibuat aturan berkelompok tani yang jelas (AD-ART) sehingga ego pengurus kelompok bisa diminimalkan
• Perlu ditumbuhkan kesadaran anggota untuk berswadaya dalam OP alsintan
• Jumlah alsintan harus ditambah
• Dilaksanakan pelatihan untuk perbaikan alsintan bagi petani pengelola dan petugas
• Ada alat peraga pelatihan bagi penyuluh dan penyediaan alsintan di BP3K
• Hendaknya alsintan yang dibantukan ke kelompok tani sesuai dengan kondisi lahan.
(sumber: dari berbagai sumber)

Kepala BPP Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar


H. Muhamad Yazidi, SP Nama Penyuluh

 

Mukhsin SP

 

Tanggal Artikel: 15-11-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Lomba Olah Kreativitas Petugas Dan Petani Cerdas (lombok Pedas) Kabupaten Gunung Mas Tahun 2017.
  2. Pertemuan Kelembagaan Ekonomi Petani
  3. Rembug Tani Sl Kedelai Tahun 2017
  4. Penanaman Tanaman Kedelai