Gerbang Daerah >> KALIMANTAN SELATAN >> KABUPATEN BANJAR >> BP3K Sungai Tabuk

MEMBUAT SENDIRI ALAT TANAM GORA JARWO

Sumber Gambar: membuat sendiri

MEMBUAT SENDIRI ALAT TANAM GORA JARWO
GORA JARWO (Gogo Rancah Jajar Legowo), ini sebenarnya juga bukan hal baru. Mungkin banyak petani di Indonesia yang sudah menerapakan system tanam ini. Terutama didaerah tegalan. Pelaksanaan kegiatan tanamnya ada yang dilakukan secara manual, ada yang semi teknis yang digerakkan secara manual, misalnya yang semi teknis, pembuatan alur tanamnya dibuat dengan menggunakan garu pengatur alur jarak tanam, lalu benih diletakkan secara manual sesuai jarak yang dikehendaki baru ditutup dengan bantuan alat tertentu. Cara tanam seperti ini cocok dilakukan ditanah kering, baik tegalan ataupun persawahan tadah hujan (dan jenis persawahan lainnya) yang bila kemarau tanahnya kering.
Sesuai dengan judulnya, artikel ini akan membahas tentang hal tersebut, namun sebagian peralatannya sudah mengarah ke mekanis. Terutama garu pengatur alur jarak tanam yang harus ditarik dengan traktor tangan. Jadi alat tanam GORA JARWO yang maksudkan dalam tulisan ini terdiri dari 2 buah unit alat terpisah, namun penggunaannya berkaitan. Yaitu GARU Pegatur Jarak Tanam dan Alat Tanam Benih Padi
GARU PEGATUR JARAK TANAM
Garu ini dibuat dimana modelnya sama dengan garu pada umumnya. Yang membedakan adalah pertama, jarak antar pisau (mata) garu yang diatur sesuai jarak lebar barisan antar tanaman padi, misalnya 20 cm atau 25 cm. Yang kedua, ujung mata garu dibuat lebar dan meruncing seperti tombak yang bila digunakan akan menyibakan tanah ke kiri dan ke kanan sehingga terbentuk alur tanam. Komponen garu alur tanam ini semua dibuat dari besi. Dan untuk menghemat biaya bisa digunakan besi bekas yang memenuhi standar spesifikasi kebutuhan untuk pembuatan alat tersebut. Perhatikan gambar dibawah ini.

 

 

 

Gambar 1

1. Adalah tangkai garu. Panjang tangkai disesuaikan dengan jarak buritan traktor tangan dengan ujung pegangan tangan dari traktor tangan itu sendiri. Ujung tangkai garu berupa lubang untuk mengaitkan dengan dudukan sambungan traktor tangan.
2. Besi suai kiri dan kanan, berperan memberikan kekuatan agar alat dalam kondisi statis dan kuat saat digunakan.
3. Dudukan mata garu, adalah bagian belakang melintang yang berhubungan secara permanen dengan suai dan tangkai. Pada bagian ini dipasang mata garu yang sudah diatur jarak tanamnya. Jarak tanam pada garu ini harus disesuaikan (sama) dengan jarak tanam (tengah pipa) dari alat tanam benih padi.
Pada gambar 1 diatas adalah garu untuk tanam GORA JARWO 4:1 untuk dua jalur. Jumlah mata garu ada 10, dibagian tengan kosong tidak ada mata garu. 8 mata garu ditengah adalah untuk alur jarak tanam. Sedang dua mata garu bagian luar (kiri dan kanan) nantinya untuk jalur roda dari alat tanam.
Catatan; bila alat tanam jarwo 4:1 hanya untuk 4 baris (bukan 8 baris seperti pada gambar 2), maka bagian tengah dari garu dipasang mata garu. Hasil dari penggaruan mata garu yang ditengah ini yang natinya berguna untuk:
1. Membuat alur untuk jalur roda alat tanam bila alat tanam jarwo 4:1 hanya untuk 4 baris.
2. Untuk tempat roda yang dipasang pada bagian tengah penutup lubang alat tanam. Roda ini dapat diatur tinggi rendahnya disesuaikan pemakai dan kenyamanan menggunakan sehingga kedalaman pengambilan tanah untuk menutup lubang tidak terlalu dalam yang menjadikan benih padi tertutup tanah terlalu banyak atau terlalu dangkal sehingga benih padi yang ditanam tidak tertutup sempurna.

ALAT TANAM BENIH PADI
Komponen alat ini dapat dibuat dari besi dan pipa atau kayu, besi dan pipa. Pipa yang digunakan bisa pipa dengan ukuran 6" atau 8". Pipa ini berfungsi sebagai penampung benih padi yang sudah diberi lubang dengan diameter 1,5 cm untuk tempat keluarnya benih dengan jarak tertentu yang akan menjadi jarak tanam padi dalam barisan. Jarak lubang pada pipa pinggir (4:1) 10 cm, sedang jarak lubang pipa tengahnya 20 cm. Masing-masing pipa dibuatkan pintu yang mudah dibuka dan ditutup. Pintu harus bisa ditutup rapat sehingga tidak ada benih pada yang keluar selain dari lubang jarak antar tanaman. Pada masing-masing pipa dibalut dengan karet dari ban bekas selebar dua jari. Karet ini berfungsi yang pertama untuk menguci pintu-pintu pipa bila sudah diberi benih, kedua pada saat pindah jalur penanaman, semua lubang tanam ditutup dengan karet tadi sehingga tidak ada benih yang terbuang.
Panjang potongan pipa sekitar 15 – 18 cm sesuai dengan jarak alur tanam yang akan dibuat. Samping kiri kanan ditutup secara permanen dengan kayu atau lempengan plastik tebal, bagian tengahnya di buat lubang sebesar as roda yang digunakan. Masing pipa duduk statis/permanen pada as roda sehingga bila roda berputar pipa juga ikut berputar. Perputaran pipa yang menyatu dengan perputaran roda akan mengeluarkan benih-benih padi yang sudah diisikan kedalam pipa sesuai jarak dalam tanaman.
Agar putaran roda ringan, poros as yang berhubungan dengan rangka dipasang bearing. Pada gambar dibawah, bearing bisa dipasang tiga pasang (6 buah). Dua buah dibagian tengah, 4 buah di bagian kiri dan kanan.
Pegangan dibuat agak panjang 50 – 60 cm agar memudahkan dalam mendorong alat tanam. Pada bagian rangka belakang (melintang) dipasang pengait dari besi. Besi ini diposisikan agak kepinggir sedikit dari bagian bawah lubang jalur tanam (sekitar 5-7 cm), dibagian ujung besi dibuat agak lebar dan menyerong kedalam sehingga bisa dengan mudah menutup benih yang baru tertanam.

 

 

 

 

 

Gambar 2
Pada gambar 2, alat ini pengaturan spesifkasinya mengikuti garu alur tanam (gambar 1). Bila pada garu alur tanam tersebut pada bagian tengahnya dipasang mata garu, maka akan terbentuk alur ditengah. Modifikasi dari alat tanam (gambar2) bila mengikuti garu alur tanam yang tengah dipasang mata adalah, bagian tengah alat tanam bisa dipasang roda bantu yang dipasang pada posisi belakang sejalur dengan posisi besi pengait. Tinggi rendahnya roda ini diatur sedemikian rupa, sehingga besi pengait yang berfungsi menutup lubang tanam dapat memindahkan tanah untuk menutup dengan kedalaman yang sama dan tidak perlu lagi memperkirakan kedalaman dengan menaikturunkan pegangan.
Sebagai catatan; pengisian kembali benih padi pada pipa jangan menunggu sampai benih padi yang ada dalam pipa habis. Bila tersisa sekitar 10 %nya, segera lakukan pengisisan benih lagi. Benih yang ditanam sudah mengalami proses perendaman skitar 24 jam, namun belum tumbuh.

Kepala BPP Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar


H. Muhamad Yazidi, SP Nama Penyuluh

 

Mukhsin SP

Tanggal Artikel: 15-11-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Manfaat Refugia Untuk Pengendalian Opt
  2. Teknik Pembiakan Trichoderma Padat Dan Teknik Pembuatan Trichokompos
  3. Teknologi Pengendali Hayati/spesifik Lokasi
  4. Pengelolaan Alsintan Dilahan Pasang Surut Kecamatan Sungai Tabuk