Gerbang Daerah >> JAWA BARAT >> KABUPATEN INDRAMAYU

DARI UDANG KEMBALI KE PADI

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Kecamatan Pasekan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Indramayu. Luas wilayah Kecamatan Pasekan 816 hekta. Selain lahan pertanian juga terdapat lahan untuk perempangan/tambak. Kondisi pertanian di Kecamatan Pasekan lebih banyak mengandalkan curah hujan walaupun Lahan sawahnya termasuk lahan sawah irigasi.

Hal ini karena wilayah Kecamatan Pasekan berada di ujung daerah irigasi rentang. Produktifitas padi musim rendeng 77,44 ku /ha dan musim gadu 73,72 ku / ha. Namun dari luas tersebut sebanyak 62 hektar khususnya pada musim gadu seringkali dan tidak jarang tanam sampai 3 kali, bahkan tanaman padi mati, sehingga mengalami gagal panen karena adanya infiltrasi air laut. Kalaupun panen produksi yang diperolehnya kurang memuaskan jauh dari harapan. Desa-desa yang mempunyai potensi salinitas tinggi antara lain Desa Pagirikan, Desa Pabean Ilir, Desa Karanganyar dan Desa Brondong.
Mengingat pada beberapa tahun yang lalu kondisi lahan sawah selalu kekurangan air, sawah tadah hujan mengandalkan air dari hujan. Produksi padi saat itu berkisar antara 3 ton sampai 4 ton per bau dan dalam satu tahun hanya dapat tanam satu kali. Dipicu lagi saat itu budidaya udang sedang booming, Harga udang mencapai diatas Rp. 125.000,- /kg, maka banyak lahan sawah yang beralih fungsi menjadi empang/tambak udang. Pada Tahun 2001 tidak kurang dari 964 hektar sawah menjadi tambak udang. Selain itu distribusi tenaga kerja di budidaya udang relatif ringandibandingkan mengelola sawah. Sejalan dengan perkembangan budidaya udang yang selalu gagal panen dan infrastruktur irigasi semakin baik serta adanya jasa pompanisasi, maka petani yang dahulunya budidaya udang sekarang beralih kembali ke sawah. Seperti dituturkan oleh Bapak Haryono kami dulu mengelola sawah selalu gagal karena irigasi yang tidak kebagian. Kemudian setelah dijadikan tambak alhamdulillah berhasil, bahkan pernah menghasilkan menghasilkan Rp. 37.500.000,- dalam luasan 0,5 hektar. Namun setelah beberapa tahun terakhir budidaya udang ini selalu gagal, akhirnya pada Tahun 2007 kami memutuskan untuk kembali ke sawah. Ini pun dipicu dengan adanya jasa pompanisasi. Alhamdulillah pada saat awal dijadikan sawah hasilnya baru 4 ton per bau, namun musim tanam 2016/2017 sekarang telah menghasilkan 8 ton per baunya.
Keinginan petani tambak beralih lagi ke sawah semakin meningkat sejalan dengan adanya perbaikan irigasi dan selalu gagalnya budidaya udang, namun petani terbentur dengan biaya rehab tambak yang cukup besar. Untuk merubah tambak menjadi sawah perlu alat berat seperti beko dan memerlukan biaya yang cukup tinggi.
Berdasarkan catatan yang ada di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Pasekan luas tambak yang telah beralih fungsi menjadi sawah pada Tahun 2014 mencapai 651 hektar dan sampai akhir Tahun 2016 telah mencapai 871 hektar. Bila melihat perkembangan budidaya udang yang selalu gagal, maka kemungkinan alih fungsi dari tambak ke sawah akan semakin meningkat dan ini harus diwaspadai juga dengan masalah pupuk, khususnya pupuk bersubsidi. Jangan sampai petani tidak mendapatkan alokasi pupuk untuk sawahnya.
Untuk keberhasilan petani tambak beralih ke sawah tentunya peran penyuluh sangat penting untuk membimbing varietas padi yang harus ditanam dilahan bekas tambak, agar petani tetapmenghasilkan produksi padi yang optimal.

Penyusun :
DIAH ASIAWATI, SP – Penyuluh Pertanian Madya
BPP Kecamatan Pasekan Kabupaten Indramayu

 

Tanggal Artikel: 09-08-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Sekolah Lapang Jagung (zea Mays Sp) Bagi Kelompoktani Se Bpp Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu
  2. Upaya Menghasilkan Bibit Karet Yang Baik
  3. Asuransi Usahaku...........
  4. Workshop Pembebasan Rabies Di Pulau Rupat Tahun 2017