Gerbang Daerah >> JAWA BARAT >> KABUPATEN INDRAMAYU

JANGAN SEPELEKAN KECIPIR (Psophocarpus tetragonolubus)

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Sayuran Kecipir termasuk golongan Leguminose dan sudah lama dikenal di Kecamatan Haurgeulis dan di Jawa Barat pada umumnya, tanaman ini setiap daerah mempunyai nama masing-masing. Di Jawa Barat tanaman ini dikenal dengan nama Jaat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan nama Kecipir, di Bali Kalongkang, dan Sumatera Barat dikenal sebagai Kacang Belimbing.

Kecipir sebagai bahan pangan mengandung 5 – 15 persen zat protein ( dalam kondisi basah ) dan 25,6 persen dalam kondisi kering. Daun kecipir dapat dimakan dalam bentuk sayuran matang yang memiliki kadar gizi tinggi, begitu juga untuk pakan ternak sapi perah sangat baik dalam meningkatkan produksi susunya. Biasanya daun kecipir disayur dengan daun kacang panjang yang sama-sama mempunyai nilai gizi tinggi.
Disamping buah dan daun, biji kecipir dapat dimakan dalam bentuk disangray (digoreng kering ). Jenis makanan ini sangat disukai karena rasanya yang enak dan kadar gizinya yang baik. Makanan ini tergolong makanan ringan bukan sebagai makanan pokok masyarakat.
Hasil dari balai penelitian biji kecipir mengandung protein 33,6 persen, kadar lemak 17,5 persen dan zat karbohidrat 30 persen. Kecipir juga mempunyai kadar zat asam lemak jenuh sekitar 29 persen dibandingkan kedelai yang hanya 18 persen. Bila dibandingkan dengan bahan pangan lainnya, maka kadar gizi kecipir termasuk unggul. Bahkan komoditas ini termasuk komoditas yang mampu mempertahankan kesehatan manusia dan tidak mudah mengakibatkan penyakit jantung pada manusia. Sebagai perbandingan dalam kecipir 100 gr mengandung gizi : 405 kal, 32,6 gr protein, 17 gr lemak dan 36, 5 gr karbohidrat. Daging sapi 100 gr mengandung 190 kal, 27 gr protein, 10 gr lemak dan 0 gr karbohidrat. Sedangkan daging domba dalam setaip 100 gr mengandung 206 kal, 17,1 gr protein, 14,8 gr lemak dan 0 gr karbohidrat.
Kadar gizi pada bahan pangan ini secara umum belum banyak dikenal oleh masyarakat, sehingga wajar kalau bahan pangan yang berkadar gizi tinggi ini belum tersebar luas seperti kacang-kacangan lainnya.
Berbeda dengan tanaman kedelai, tanaman kecipir dapat tumbuh di semua tempat baik daerah kering, lembab, pantai dan pegunungan. Tanaman kecipir termasuk tanaman yang berbunga terus menerus dan tidak sekaligus, sehingga hasil buah muda

dapat berlangsung dalam jangka waktu lama. Pada umur 2 sampai 2,5 bulan tanaman kecipir sudah dapat menghasilkan buah muda dan siap untuk dipanen. Bila buah dipanen lebih dari 3 bulan maka buah tersebut sudah tidak enak untuk dikonsumsi lagi karena sudah seperti kayu. Buah berumur 3 sampai 4 bulan sudah mengering dan dipanen dalam bentuk biji kering. Buah yang muda untuk disayur sedangkan buah yang tua ditinggalkan untuk dipanen bijinya. Setiap batang tanaman dapat menghasilkan antara 15 sampai 20 buah kecipir yang tua dengan rata-rata tiap buah menghasilkan 13 butir biji dengan berat 100 butir sekitar 35 gram. Seperti halnya biji kedelai, biji kecipir dapat dibuat bahan tahu tempe, susu dan kecap. Pembuatan kecap dan tahu tempe dari biji kecipir tidak berbeda dengan bahan kedelai.
Sumber protein untuk membangun tubuh manusia berasal dari protein hewani dan nabati. Protein nabati lebih dominan berasal dari kacang-kacangan, termasuk kecipir. Oleh karena itu bila kita merasa kekurangan protein nabati jangan lupa makan kecipir setiap hari apalagi ada sambalnya dapat membuat kita ketagihan.

Penyusun :
DIAH ASIAWATI, SP – Penyuluh Pertanian Madya
BPP Kecamatan Pasekan Kabupaten Indramayu

Tanggal Artikel: 09-08-2017

Dibaca: x

Printer-friendly Version

Artikel Terkait
  1. Dari Udang Kembali Ke Padi
  2. Sekolah Lapang Jagung (zea Mays Sp) Bagi Kelompoktani Se Bpp Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu
  3. Upaya Menghasilkan Bibit Karet Yang Baik
  4. Asuransi Usahaku...........