Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

Limbah Cair Ternak Sapi Sudah Tidak Mencemari Setelah Difermentasi

Sumber Gambar:

Berbicara tentang limbah ternak sapi tentu yang terpikir pertama kali adalah pencemaran udara, bau menyengat, kotor, busuk dan lain-lain. Limbah peternakan adalah salah satu limbah yang merupakan buangan dari usaha peternakan yang bersifat padat, cair dan gas. Hasil penelitian Rahayu, (2010) mengatakan bahwa, untuk satu ekor sapi dengan bobot badan 400-500 kg dapat menghasilkan limbah padat dan cair sebesar 27,5–30 kg/ekor/hari. Limbah padat merupakan semua limbah dalam bentuk padatan atau dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati atau isi perut pemotongan ternak). Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau berada dalam fase cair (urine). Potensi produksi urine yang sangat besar ini jika tidak diolah akan menyebabkan dampak negatif pada lingkungan sekitar, tetapi jika dikelola dengan baik urine sapi dapat menjadi komoditi berharga. Urine sapi dapat diolah menjadi pupuk organik cair, karena menurut penelitian Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang, kandungan nitrogen pada urine sapi potong mengandung kadar Nitrogen 36,90%, Phosfat 16,5–16,8 ppm dan kalsium 0,67–1,27%. Kandungan N pada urine sapi 36,90%  hampir menyerupai kadar N dalam pupuk urea, yakni 45%. Potensi ini bisa memutus ketergantungan petani terhadap pupuk urea atau pupuk anorganik lainnya.

Penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus dan berkelanjutan menyebabkan pengerasan tanah. Kerasnya tanah disebabkan oleh pemupukan sisa atau residu lebih sulit terurai dibandingkan dengan bahan organik. Pupuk organik saat ini masih belum banyak dimanfaatkan. Urine sapi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair selain dapat mengurangi Harga Pokok Produksi (HPP) juga sekaligus ramah lingkungan.

Urine ini diolah menjadi pupuk organik cair dengan cara sederhana, yaitu dengan amonia fermentasi dengan menggunakan mikrobia kemasan yang ada di toko pertanian. Adapun bahan dan alat yang digunakan adalah :

  1. Urine sapi dalam drum plastik ukuran kapasitas 200 liter sebanyak 150 liter
  2. Gula merah 0,5 kg larutkan dalam 1 liter air
  3. Empon-empon seperti temulawak, jahe, temu ireng, kunyit, sereh masing-masing 1 kg
  4. Mikrobia kemasan sebagai starter fermentor 250 ml.

 

Cara pembuatan :

  1. Haluskan semua empon-empon, kecuali sereh sampai halus gunakan blender.
  2. Masukkan campuran empon-empon dalam ember 10 liter lalu tambahkan air dan gula merah serta masukkan air sebanyak 10 liter lalu aduk sampai rata.
  3. Aduk selama 15 menit kemudian tutup.
  4. Lakukan pengadukan setiap hari selama 15 menit selama 2 minggu

 

Setelah 15 hari urine dipompa dengan menggunakan pompa aquarium yang dilewatkan melalui talang plastik dengan panjang 2 meter yang dibuat seperti tangga selama 3 jam. Tujuan proses ini untuk menguapkan kandungan gas amonia agar tidak berbahaya bagi tanaman.

Adapun keunggulan dari pupuk organik cair (biourine) volume penggunaan lebih hemat dibandingkan pupuk organik padat dan aplikasinya lebih mudah, karena diberikan dengan penyemprotan dan penyiraman.

 ---

Penulis: Rosdina Napitupulu, S.P dan Dr. Ludy. K Kristanto, S.Pt. MP (Penyuluh Pertanian BPTP Kaltim)

Tanggal Artikel Diupload : Jum'at, 05 Nov 2021
Tanggal Cetak : Minggu, 29 Mei 2022

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386