Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

PENYAKIT DAN PENGENDALIANNYA UNTUK MENJAGA MUTU MELON

Sumber Gambar: Direktorat Perlindungan Hortikultura

Tanaman melon salah satu tanaman yang dapat ditanam pada musim kemarau.  Buah melon banyak diminatioleh masyarakat, sehingga harganya relative agak mahal di pasaran dalam negeri maupun untuk ekspor. Hal ini menjadi peluang bagi petani, namun harus menyesuaikan permintaaan masyarakat modern, yakni mutunya yang bagus. Untuk mendapatkan mutu buah melon dan jaminan keamanan pangan dapat diupayakan mulai dari budidaya tanaman, termasuk pengendalian penyakit tanaman. Berikut gejala dan pengendalian penyakit yang sering menyerang tanaman melon.

 

Penyakit Virus Kuning

Penyebab penyakit  ini virus Gemini dan gejala yang terlihat adanya bercak kuning pada daun dan beberapa daun menjadi keriting. Virus dapat ditularkan melalui benih, alat pertanian dan kupu-kupu merupakan serangga vector bagi virus. Pada serangan berat, perkembangan buah akan lambat, sehingga buah yang dihasilkan tidak sempurna, terutama pada bentuk buah dan rasanya.

Pengendaliannya dapat dilakukan 3 (tiga) cara, yaitu cara kultur teknis, cara fisik/mekanis, dan cara kimiawi. Cara kultur teknis, dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Sedangkan pengendalian cara fisik/mekanis dapat dilakukan sanitasi lingkungan dengan membersihkan gulma di sekitar tanaman dan tanaman terserang dimusnahkan. Kemudian pengendalian cara kimiawi, dengan menggunakan insektisida kimia yang efektif berbahan aktif tiametoksan 25%.

 

Penyakit Layu Bakteri

Penyakit iini penyebabnya Pseudomonas sp dan gejalanya perubahan warna pada daun muda menjadi coklat tua dan akhirnya mongering. Pada serangan lebih lanjut dapat menurunkan produksi atau gagal panen.

Pengendalian dengan 2 (dua) cara, yaitu cara fisik/mekanis dan cara kimiawi. Cara fisik/mekanis, dengan melakukan sanitasi dan kebersihan kebun serta tanaman yang terserang dimusnahkan atau dibakar. Sedangkan cara kimiawi, dilakukan dengan merendam benih dalam larutan Agrymicin 1-2 gram per liter air selama 6-8 jam atau pada pertanaman dengan fungisida berbahan aktif mancozep 80%.

 

Penyakit Layu Fusarium

Penyakit yang disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum ini menunjukkan gejala pada tanaman muda/pesemaian dapat menyebabkan tanaman busuk atau tumbuh kerdil. Pada tanaman dewasa daun menjadi pucat, bagian atas tanaman layu dan sedikit demi sedikit menjadi layu keseluruhan dan mati. Batang menjadi nekrotik/retak dan mengeluarkan cairan berwarna coklat.

Pengendalian bisa dilakukan 4 (empat) cara, yaitu cara kultur teknis, cara fisik/mekanis, cara biologis, dan cara kimiawi. Pengendalian cara kultur teknis dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman yang tidak rentan atau tanam pada lahan baru. Selain itu dapat juga dilakukan dengan pengaturan jarak tanam yang tepat, yaitu 50 x 50 cm atau 60 x 60 cm. Pengendalian cara fisik/mekanis dilakukan dengan pembersihan eradikasi tanaman sakit dan dimusnahkan. Pengendalian cara biologis adalah pengendalian secara preventif dan berkala dengan agensia hayati cendawan antagonis Trichoderma sp. atau Gliocladium sp. Pengendalian cara kimiawi dapat dilakukan dengan fungisida berbahan aktif Mancozep 80 % dan Klorotalonil 75 %.

 

Penyakit Antraknosa

Penyakit ini disebabkan oleh Collectotrichum lagenarium (Pass) Ell. Et Halst dan gejalanya terlihat pada daun, batang muda, bunga dan buah terdapat bercak-bercak berwarna coklat kelabu sampai kehitaman yang sedikit demi sedikit melekuk dan bersatu. Jaringan tanaman yang terdapat di bawahnya juga membusuk.

Pengendalian dapat dilakukan sebagai berikut: (1) Pengaturan jarak tanam yang tepat (45 x 60 cm, 50 x 60 cm atau 60 x 70 cm); (2) Perendaman benih dengan fungisida berbahan aktif azoksisitrobin 250 gram per liter atau propineb 70 %; (3) Pembersihan bagian-bagian tanaman yang mati; dan (4) Tidak semua orang diijinkan masuk ke kebun untuk antisipasi penularan jamur.

 

Penyakit Busuk Buah

Penyebabnya Phytophthora nicotianae B. de haan var parastica (Dast) dan gejala serangan pada batang ditandai dengan bercak coklat kebasahan yang memanjang. Serangan serius dapat menyebabkan tanaman mati layu. Daun yang terserang seperti tersiram air panas kemudian meluas. Serangan pada buah ditandai dengan bercak kebasah-basahan yang menjadi coklat kehitaman dan lunak. Makin lama bercak menjadi berkerut dan mengendap. Pada bagian buah yang busuk diselimuti kumpulan cendawan putih.

Pengendaliannya sebagai berikut: (1) Pemangkasan daun atau cabang yang berlebihan untuk mengurangi kelembaban di sekitar tanah; (2) Rotasi tanaman dengan tanaman yang bukab sefamili dengan melon; (3) Mencabut tanaman yang terserang dan dibakar; dan (4) Tidak semua orang diijinkan masuk ke kebun untuk antisipasi penularan jamur.

 

Penyakit Embun Bulu (downy mildew)

Penyakit tanaman ini disebabkan Pseudoperenospora cubensis Barkely et Curtis dan gejala serangan dimulai dengan adanya bercak-bercak  berwarna kuning muda yang dibatasi oleh urat-urat daun sehingga terkesan menjadi bercak bersudut. Semakin lama bercak berubah warna menjadi kecoklatan. Apabila daun dibalik maka akan terlihat kumpulan konidia dan kondiofor cendawan berwarna kelabu.

Beberapa cara pengendaliannya, yakni: pemilihan lokasi penanaman yang jauh dari tanaman yang sefamili, daun yang terserang segera dipotong atau dipangkas lalu dibakar; penyemprotan fungisida berbahan aktif Simoksanil atau mancozeb; dan tidak semua orang diijinkan masuk ke kebun untuk antisipasi penularan jamur.

 

Penyakit Busuk Pangkal Batang (gummy stem blight)

Mycosphaerella melonis Passerini menjadi penyebab penyakit tanaman melon, dengan melihatkan gejala pada pangkal batang yang terserang mula-mula seperti tercelup minyak kemudian keluar lender berwarna merah coklat. Tahap berikutnya tanaman layu dan mati. Daun yang terserang akan mongering, apabila diremas seperti kerupuk dan berbunyi kresek-kresek bila ditempa angin.

Pengendaliannya dapat dilakukan sebagai berikut: sanitasi dengan membersihkan kebun, tanaman yang terserang dimusnahkan dengan cara dibakar, penyemprotan fungisida berbahan aktif Cu, thiram atau mancozeb, dan tidak semua orang diijinkan masuk ke kebun untuk antisipasi penularan jamur.

 

Penulis: Susilo Astuti H. (Penyuluh Pertanian Pusluhtan)

 

Daftar Pustaka:

  1. Pengelolaan Organisme Pengganggu Tumbuhan Secara Ramah Lingkungan Pada Tanaman Melon. Direktorat Perlindungan Hortikultura Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian. 2015.
  2. Buku Pintar Budi Daya Tanaman Buah Unggul Indonesia. Jagakarsa – Jakarta Selatan: PT Agromedia Pustaka. 2009.

Tanggal Artikel Diupload : Selasa, 14 Sep 2021
Tanggal Cetak : Rabu, 20 Okt 2021

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386