Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

MUTU DAN STANDAR MUTU JAGUNG

Sumber Gambar: https://jagungbisi.com/mengenal-si-jagung-super-bisi-18/

Jagung merupakan komoditi penting bagi perekonomian masyarakat Indonesia setelah padi. Kebutuhan jagung sepanjang tahun cukup besar, yaitu sebagai bahan pangan, dan bahan pokok bagi industri pakan ternak.

Kandungan jagung dalam pakan ternak mencapai lebih dari 50%, dengan demikian kebutuhan akan jagung semakin meningkat  seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan protein hewani yang berasal dari ternak. 

Jagung sebagai bahan pangan, dan bahan pokok bagi industri pakan ternak membutuhkan jaminan ketersediaan jagung dengan mutu yang baik.

Jagung merupakan produk musiman yang mudah rusak, untuk itu perlu diterapkan teknologi pasca panen yang tepat agar komoditi jagung tetap tersedia sepanjang tahun, dengan mutu yang baik dalam arti  memenuhi persyaratan kualitatif maupun persyaratan kuantitatif yang sudah ditetapkan berdasarkan Standar Mutu Jagung menurut SNI No. 01-3920-1995

Mutu adalah sejumlah sifat karakteristik dari suatu komoditi yang membedakan suatu produk dan mempunyai nilai pasti dan mencerminkan tingkat penerimaan konsumen. Tidak semua sifat-sifat yang dimililiki suatu produk digunakan sebagai komponen mutu dalam standar mutu, hanya yang berkaitan dengan tingkat penerimaan konsumen dan untuk menentukan harga dalam perdagangan.

Pada prinsipnya ada dua persyaratan faktor-faktor penentu mutu yaitu:

  1. Persyaratan Kualitatif
  2. Biji jagung harus bebas dari hama dan penyakit.
  3. Biji jagung harus bebas dari bau busuk, masam, apek, atau bau asing lainnya.
  4. Biji jagung harus bebas dari tanda-tanda adanya bahan kimia yang membahayakan, baik secara visual maupun secara organoleptik.
  5. Persyaratan Kuantitatif

Pada umumnya meliputi komponen-komponen mutu sebagai berikut:

  1. Kadar air : Jumlah kandungan air didalam butiran jagung dan dinyatakan dalam persentase bobot basah
  2. Butir rusak : Biji jagung yang dinyatakan rusak karena biologis, khemis, mekanis, fisis, maupun enzimatis seperti berkecambah, busuk, berbau tidak disukai, berubah bentuk maupun berubah warna karena sebab-sebab diatas.
  3. Butir warna lain : Biji-biji jagung yang berwarna lain seperti tercampur dengan varietas lain.
  4. Butir pecah : Butir jagung sehat yang pecah selama pengolahan yang mempunyai ukuran yang sama atau lebih kecil dari 6/10 bagian butir utuh.
  5. Kotoran : Benda-benda yang terdapat dalam contoh yang diperiksa seperti batu, tanah, biji-bijian lain, sisa tanaman lainya, termasuk butir pecah, atau termasuk butir retak.

Standar Mutu Jagung menurut SNI No. 01-3920-1995

  1. Persyaratan kualitatif adalah bebas hama dan penyakit, bebas bau busuk, asam atau bau asing lainnya dan bebas dari bahan kimia seperti insektisida dan fungisida
  2. Persyaratan Kuantitatif adalah kelas mutu biji jagung dapat dikatagorikan dalam kelas Mutu biji jagung Mutu I; Mutu II dan Mutu III dengan persyaratan sebagai berikut :

Mutu I ;

Komponen Kadar air maksimal 14% ; Butir rusak maksimal 2%; Butir warna lain maksimal 1 %; Butir pecah maksimal 1 % dan Kotoran maksimal 1%.

Mutu II;

Komponen Kadar air maksimal 14% ; Butir rusak maksimal 4%; Butir warna lain maksimal 3 %; Butir pecah maksimal 2 % dan Kotoran maksimal 1%.

Mutu III;

Komponen Kadar air maksimal 15% ; Butir rusak maksimal 6%; Butir warna lain maksimal 7 %; Butir pecah maksimal 3 % dan Kotoran maksimal 2%.

Demikian informasi yang dapat disampaikan semoga bermanfaat.

Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.com

Sumber :

Tanggal Artikel Diupload : Jum'at, 23 Jul 2021
Tanggal Cetak : Rabu, 20 Okt 2021

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386