Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

MENGENAL HAMA TIKUS DAN PENGENDALIANNYA

Sumber Gambar: Koleksi Pribadi, Juni 2021

Keberhasilan budidaya padi perlu kerja keras dan dukungan dari semua pihak, khususnya dalam upaya pengamanan produksi padi dari ancaman serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), salah satunya adalah tikus. Karena tikus merupakan salah satu hama utama padi yang sangat mengancam keberhasilan, bahkan dapat menggagalkan produksi tanaman padi.

Permasalahan di tingkat petani

Perilaku reproduksi

Perkembangbiakan tikus sawah sangat tergantung keberadaan tanaman padi. Kondisi aktif reproduksi hanya terjadi pada padi stadia generatif. Selama bera panjang hingga padi vegetatif, tikus sawah dewasa tidak aktif reproduksi. Pada saat tidak aktif, testis tikus sawah kembali masuk dalam rongga perut (testis abdominal), dan akan kembali ke scrotum pada saat musim kawin (testis scrotal). Akses kawin terhadap sejumlah betina dikuasai oleh jantan dominan yang menguasai teritorial tertentu.

Perilaku bersarang

Merupakan hewan terrestrial yang membuat lubang di dalam tanah sebagai tempat tinggal. Lubang yang dihuni tikus disebut “lubang aktif”. Pada saat bera panjang, tikus sawah lebih banyak tinggal di habitat pelarian (refuge area) seperti semak, pekarangan, atau migrasi ke gudang padi. Pada stadia vegetatif padi, lubang aktif berbentuk sederhana dan dangkal, tetapi menjadi komplek dan bercabang pada stadia generatif padi yang juga merupakan saat berkembang biak tikus sawah. Pada umumnya, lubang aktif berisi tikus betina beserta anak-anak pradewasa. Selama aktif reproduksi, tikus jantan tinggal dalam petak lahan menunggu malam hari untuk kawin dengan betina dalam kelompoknya.

Habitat Tikus

Asli tikus sawah adalah lahan berrumput (grassland) atau lahan yang bersemak. Pada lahan padi sawah, habitat tepi kampung dan tanggul irigasi merupakan tempat yang paling banyak dihuni tikus. Ketika periode bera panjang, habitat kampung merupakan tujuan migrasi tikus sawah untuk berlindung (resting site) dan mendapatkan pakan. Ketika padi stadia vegetatif, semak-semak di sekitar sawah dan lubang di tanggul irigasi dan pematang (besar) digunakan tikus sebagai tempat bernaung sementara (shelter). Tanggul irigasi & pematang besar merupakan habitat yang dipilih tikus untuk membuat lubang sarangnya pada periode aktif reproduksi (nesting site). Bagi usaha pengendalian, habitat tikus sawah merupakan lokasi utama tindakan pemantauan (monitoring) dan pengendalian.

Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

PHT merupakan sistem pengendalian hama, yang dihubungkan dengan dinamika populasi & lingkunganspesies hama, memanfaatkan perpaduan semua teknik & metode yang memungkinkan secara kompatibel untuk menekan populasi hama agar selalu di bawah tingkat yang menyebabkan kerugian ekonomi (FAO-PBB 1967).

 Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT)

Konsep PHTT dicetuskan dalam International Conference on Ecologically-Based Rodent Management di Beijing China (1998) dan Canberra Australia (2002) Strategi PHTT.

  1. PHTT didasarkan pada pemahaman biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif, dan berkelanjutan (rutin & terus menerus) dengan memanfaatkan kombinasi teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu
  2. Kegiatan pengendalian diprioritaskan pada awal tanam untuk menurunkan populasi tikus serendah mungkin sebelum terjadi perkembangbiakan tikus yang cepat pada stadia generatif padi
  3. Pelaksanaan pengendalian dilakukan oleh petani secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinasi dengan cakupan sasaran pengendalian dalam skala luas

Pengendalian hama tikus dilakukan secara berkelanjutan, karena keberadaan hama tikus terkait dengan tempat tinggal (tempat berkembang biak) dan sumber makanan. Dari sudut pandang ilmu engineering (keteknikan) terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk pengendalian hama tikus yaitu manual, mekanis, dan elektrik.

Pengendalian hama tikus dapat dilakukan dengan membersihkan saluran-saluran air, menghilangkan penumpukan jerami di lahan sawah, penggunaaan musuh alami seperti burung hantu, menggunakan orang-orangan, dan lain sebagainya. Selain untuk mengusir tikus, orang-orangan sawah memiliki fungsi untuk mengusir berbagai hama burung yang memakan tanaman padi saat fase pematangan bulir.

  1. Mekanis

Pengendalian secara mekanis yaitu dengan menggunakan alat semprot api, dengan menyasar lubang-lubang tikus. Kegiatan ini tentu membutuhkan kerjasama antar pemilik lahan (kelompok tani). Disamping itu, menggunakan perangkap dan racun tikus pada sudut-sudut yang dianggap potensial yaitu sarang, tempat sering dilewati, dan tempat berkumpulnya hama tikus.

  1. Elektrik

Pengendalian secara elektrik yaitu dapat dilakukan dengan sengatan listrik, pengusir tikus menggunakan suara ultrasonic, dan cahaya yang dapat digunakan untuk menyinari lahan secara periodik. Salah satu pengusir tikus yang telah dirancang oleh Fakultas Pertanian Universitas Lampung adalah pengusir tikus berbasis Ultrasonik.

Pemilihan kombinasi teknologi pengendalian disesuaikan dengan kondisi agroekosistem budidaya padi di lokasi sasaran pengendalian dan stadia tumbuh tanaman padi. Kegiatan pengendalian tikus ditekankan pada awal musim tanam untuk menekan populasi awal tikus sejak awal pertanaman sebelum tikus memasuki masa reproduksi.

Sumber Bacaan:

  1. Berbagai sumber
  2. https://fp.unila.ac.id/?p=29155
  3. https://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/images/panduan-teknis/pengendalian-hama-tikus-terpadu

Penyusun Materi Oleh : Robinson Putra, SP., M.Si (Penyuluh BPTP Lampung)

Tanggal Artikel Diupload : Sabtu, 26 Jun 2021
Tanggal Cetak : Minggu, 29 Mei 2022

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386