Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

SDM Pertanian Harus Berkolaborasi untuk TIngkatkan Produktivitas

Sumber Gambar: Pusat Penyuluhan Pertanian

Kolaborasi antara peneliti, penyuluh, serta petani, dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Dengan kolaborasi tersebut, produktivitas pertanian dapat ditingkatkan.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan Indonesia diberikan banyak kelebihan dalam mendukung pertanian antara lain memiliki matahari yang cerah, lahan yang luas, perairan yang banyak.

“Berikan pupuk yang baik, bibit yang bagus dan lakukan manajemen dengan baik maka kita tidak mungkin susah,” ujarnya.

Mentan SYL sangat berharap produktivitas pertanian di masing-masing daerah yang mempunyai potensi luas lahan yang ada dapat dimaksimalkan.

“Diantaranya melalui peningkatan Indeks Pertanaman dengan cara percepatan pengolahan lahan sehingga dapat segera melakukan tanam padi, pemanfaatan jaringan irigasi yang telah dibangun, dan perluasan di areal baru pada lahan kering, lahan rawa-lebak, dan hasil cetak sawah,” katanya.

Terpisah Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, dalam Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 19, Jumat (11/06/2021), melalui virtual dari BPP Bangodua Indramayu, mengatakan bahwa tugas pokok penyuluh pertanian adalah meningkatkan produktivitas produk pertanian.

“Peningkatan produktivitas utamanya berasal dari petani dan penyuluh pertanian,” katanya.

Dedi menambahkan, kebutuhan pembangunan pertanian harus diawali dari SDM pertanian yaitu petani, praktisi pertanian dan penyuluh, bukan pupuk atau irigasi dan lain sebagainya.

“Saat ini selama kurang lebih 10 tahun produktivitas padi stagnan di 2,5 ton/ha (range 5,1 – 5,2 ton/ha produktivitas padi). Untuk itu kita harus introspeksi, evaluasi diri sendiri, apa penyebab stagnan tersebut, apakah inovasi teknologi yang kurang, atau petani dan penyuluh kemampuannya kurang oleh karena itu diperlukan optimalisasi sinergitas antara peneliti, penyuluh dan petani,” ujarnya.

Peneliti Padi yang menjadi narasumber MSPP, Zuziana Susanti, mengatakan diperlukan persiapan Lahan Olah Tanah Basah (existing olah tanah), Olah Tanah Kering dan Tanpa Olah Tanah.

“Selain itu diperlukan juga bibit unggul yang bermutu, hal tersebut dapat dilihat dari Genetik yaitu murni dari satu varietas. Secara fisik yaitu tidak tercampur dengan biji gulma atau biji tanaman lain serta hama dan penyakit berukuran penuh/bernas dan seragam serta secara fisiologi yaitu daya kecambah di atas 80% tumbuh normal,” jelas Zuziana.

Produktivitas tanaman dapat dilakukan dengan pemberian pupuk ke dalam tanah dengan jumlah dan jenis hara sesuai dengan tingkat kesuburan tanah dan kebutuhan tanaman untuk mencapai hasil yang optimal kombinasi pupuk anorganik dengan bahan atau pupuk organik dan pupuk hayati untuk mendapatkan produksi optimal.

Terdapat beberapa sumber unsur hara diantaranya alami dari udara, alami dari tanah dan bahan organik, air hujan, air irigasi, pupuk kimia an-organik, pupuk organik, pupuk hayati.

“Diperlukan pemberian pupuk ke dalam tanah dengan jumlah dan jenis hara sesuai dengan tingkat kesuburan tanah dan kebutuhan tanaman untuk mencapai hasil yang optimal. Kombinasi pupuk anorganik dengan bahan atau pupuk organik dan pupuk hayati untuk mendapatkan produksi optimal,” tutup Zuziana. (HVY/NF)

 

Tanggal Artikel Diupload : Senin, 14 Jun 2021
Tanggal Cetak : Kamis, 23 Sep 2021

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386