Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

BALI > KOTA DENPASAR > DENPASAR TIMUR

Pupuk Kandang vs Pupuk Kompos

Sumber Gambar: Internet

Bersama dengan kampanye pemerintah akan pentingnya pertanian berkelanjutan menuju swasembada pangan yang mengarah ke pertanian organik, maka penggunaan pupuk organik mulai digemakan kembali. Berbagai jenis pupuk organik mulai diperkenalkan kepada masyarakat oleh perusahaan kecil dan menengah hingga besar yang memproduksi pupuk organik. Jenis pupuk organik yang sering ditemui di pasar dapat dibagi dua berdasarkan asal bahan bakunya, yaitu pupuk kandang dan pupuk kompos.

Pupuk kandang dan pupuk kompos merupakan pupuk yang sekilas sama dilihat dari kenampakan fisiknya. Bahkan, masyarakat hanya menyebut keduanya sebagai pupuk organik. Namun, bila ditelusuri dari bahan bakunya, kedua pupuk tersebut berbeda. Pupuk kandang hanya berasal dari kotoran hewan, sedangkan pupuk kompos berasa dari kotoran hewan yang bercampur dengan sisa-sisa tanaman.

Pengertian pupuk kandang sendiri adalah semua   produk   buangan  dari  binatang  peliharaan  yang  dapat  digunakan  untuk  menambah  hara,  memperbaiki  sifat  fisik,  dan  biologi  tanah, setelah mengalami proses fermentasi dalam kurun waktu tertentu. Produk buangan atau kotoran hewan yang sering digunakan adalah kotoran sapi, ayam, dan kambing. Ketiga kotoran hewan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.

Kotoran sapi mengandung serat yang tinggi. Serat merupakan senyawa rantai karbon yang mengalami proses dekomposisi lanjutan yang memerlukan unsur N saat terdekomposisi. Dengan demikian, kotoran sapi tidak dianjurkan diaplikasikan pada kondisi segar, melainkan dalam keadaan sudah terfermentasi sempurna. Ciri-ciri kotoran sapi sudah terfermentasi sempurna adalah berwarna hitam gelap, teksturnya gembur, tidak lengket, suhunya dingin dan tidak berbau.

Kotoran ayam mempunyai kandungan unsur hara N yang relatif tinggi dibanding kotoran hewan lainnya. Kelebihan unsur N dalam kotoran ayam adalah bisa diserap tumbuhan secara langsung, sehingga relatif tidak perlu proses dekomposisi terlebih dahulu, walaupun lebih baik terdekomposisi dahulu sebelum diaplikasikan ke tanaman. Kandungan unsur N tinggi membuat pupuk kotoran ayam sangat diminati petani sayuran daun karena reaksinya yang cepat, cocok dengan karakter sayuran daun yang rata-rata mempunyai siklus tanam pendek. Yang harus diwaspadai jika menggunakan pupuk kandang dari kotoran ayam adalah keberadaan bakteri jenis salmonella dan penggunaan obat-obatan serta hormon sehingga hasil panen tidak dapat disebut produk organik.

Kotoran kambing teksturnya berbentuk butiran bulat yang sukar dipecah secara fisik. Kotoran kambing dianjurkan dikomposkan dahulu sebelum digunakan hingga pupuk menjadi matang. Ciri-ciri kotoran kambing yang telah matang suhunya dingin, kering dan relatif sudah tidak bau. Kotoran kambing memiliki kandungan K yang lebih tinggi dibanding jenis pupuk kandang lain. Pupuk ini sangat cocok diterapkan pada paruh pemupukan kedua untuk merangsang tumbuhnya bunga dan buah.

Setelah memahami tentang pupuk kandang, berikutnya akan dibahas tentang pupuk kompos. Pupuk kompos merupakan bahan-bahan organik yang telah mengalami pelapukan antara lain seperti: jerami, alang-alang, sekam padi, dan lain-lain, termasuk kotoran hewan. Bahan-bahan organik tersebut terurai dengan bantan mikroorganisme (bakteri, jamur, ragi) dan satwa tanah lainnya. Proses penguraiannya berjalan dengan reaksi aerob dan anaerob silih berganti. Kompos matang memiliki kandungan hara berupa: 1.69% N, 0.34% P2O5, dan 2.81% K, sehingga dalam 100 kg kompos setara dengan 1.69 kg Urea, 0.34 kg SP 36, dan 2.18 kg KCl.

  Dari penjelasan di atas, dapat diketahui perbedaan mendasar antara pupuk kandang dan pupuk kompos, yaitu pupuk kompos tergolong komponen material dalam pupuk organik, sedangkan pupuk kandang bahan pembangun pupuk kompos. Dalam hal pengaplikasian antara pupuk kandang dan pupuk kompos, sama-sama dapat diaplikasikan saat olah tanah dengan dosis 1-2 ton/ha, tergantung dari tingkat kesuburan tanah masing-masing lahan. Dengan penggunaan pupuk kandang maupun kompos, diharapkan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah dapat diperbaiki.

 

Pustaka :

https://sinauternak.com/pupuk-kandang/

https://alamtani.com/pupuk-kandang/

http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/dokumentasi/lainnya/04pupuk%20kandang.pdf

https://alamtani.com/pupuk-kompos/

https://www.pioneer.com/web/site/indonesia/Berita-Umum/Jenis-Pupuk-Kompos-yang-Biasa-Digunakan-Petani-Organik

https://foresteract.com/kompos/

 

Ditulis oleh : Marcella Wayan Kartika Rini, SP (PP Muda) dan Wayan Renes (PP Penyelia)

Tanggal Artikel Diupload : Jum'at, 27 Mar 2020
Tanggal Cetak : Rabu, 28 Okt 2020

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386