Published on Cyber Extension - Pusluhtan Kementan
(http://cybex.pertanian.go.id)
email sekretariat : cyberextension@gmail.com

Kolaborasi Apik Ponpes dan Penyuluh Cetak Santri Millenial

Sumber Gambar: doc.pusluh

Bicara tentang “generasi millenial”, identik dengan penggunaan teknologi, semua serba cepat dan update. Generasi millenial lebih menyukai gedget ketimbang televisi, bahkan mereka berfikir bisa mati bila tidak dapat mengakses internet. Media sosial menjadi sesuatu yang wajib sebagai penunjuk eksistensi diri.
Lalu apa yang dimaksud dengan Santri Tani Millenial??? Kita sering membayangkan menjadi santri di pondok pesantren (ponpes) hanya berkutat dengan ilmu agama dan kegiatan mengaji Al Quran dari pagi hingga malam hari. Namun kini di beberapa ponpes, para santri tidak hanya diajari mengaji ataupun ilmu agama semata, sebaliknya mereka dibina dengan kemampuan usaha terutama di sektor pertanian atau agribisnis. Bahkan, saat ini dari usaha agribisnis yang dilakukan para santri tersebut mampu memasok produk sayur-mayur ke pasar-pasar modern.


Ponpes Al Uzlah, merupakan salah satu ponpes yang akrab dengan dunia pertanian. Berlokasi di desa Ciherang kecamatan Pacet kabupaten Cianjur menjadi salah satu alasan yang mendorong ponpes ini untuk mengembangkan usaha agribisnis. Al Uzlah memandang perlu memadukan ilmu amaliah dan amal ilmiah, yakni memadukan pendidikan kepesantrenan (salafi) dengan pendidikan nasional serta yang tidak kalah penting adalah life skill (keterampilan wirausaha). Dari perpaduan antara pendidikan agama dan agribisnis, banyak alumni santri yang berhasil mengembangkan usaha agribisnis selepas pendidikannya di ponpes.
“Santri millenial adalah generasi yang tidak hanya mengaji tetapi juga bisa berwirausaha sehingga mampu menciptakan lapangan kerja”, ungkap Andri, salah seorang pengurus ponpes Ponpes Al Uzlah. Andri menjelaskan di era yang serba maju dan canggih ini ponpes memiliki tantangan dimana harus mencetak santri yang mampu menguasai dan bersaing namun tetap di koridornya. Adanya larangan penggunaan gedget dan media elektronik tidak membuat para sentri menjadi mati informasi. Ponpes menyediakan fasilitas internet selain majalah dan koran.


Khusus untuk meningkatkan minat pertanian kepada para santri, dilakukan disela-sela waktu dengan pengenalan terori dan praktek. “Dari luasan lahan pertanian 1000 m2, ponpes yang memiliki santri sebanyak 800 ini mampu memproduksi komoditas hortikultura seperti tomat, cabe, wortel, pokcay,seledri, bawang daun, brokoli, selada sekitar 1 ton dalam satu kali panen. Untuk meningkatkan kualitas, seluruh hasil produksi harus melalui tahapan sortasi, grading, packing dan labeling. Setelah melalui berbagai proses tersebut, hasil produksi di pasarkan ke Super Indo, jelas Andri.


Untuk menumbuhkan jiwa wirausaha khususnya di bidang pertanian, Al Uzlah bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. Pendampingan dari penyuluh pertanian pun dilakukan kepada santri di ponpes pada umunya dan santri SMK pada khususnya. Hal ini dibenarkan oleh Ilyas Munawir, penyuluh pendamping Desa Ciherang “Kami melakukan kolaborasi apik untuk meningkatkan minat kewirausahaan kepada para santri. Pendampingan bagaimana cara berbudi daya, cara memanen hingga cara memasarkan baik ke pasar lokal dan modern pun tak luput kami lakukan”. Ilyas menambahkan, selain komoditas hortikultura, Al uzlah telah mencoba penggemukan sapi untuk sektor peternakan. Bukti nyata dari pendampingan penyuluh dalam peningkatkan minat kewirausahaan, adalah terbentuknya kelompok tani Al Uzlah pada tahun 2010. Tidak hanya santri, masyarakat sekitar yang memiliki usaha tani pun bergabung dalam kelompok tani ini. Kedepan ia yakin dengan tingginya minat santri pada dunia pertanian akan melahirkan banyak santri tani millenial yang menjadi enterpreneur.(NL).

Tanggal Artikel Diupload : Kamis, 31 Jan 2019
Tanggal Cetak : Minggu, 21 Apr 2019

Kementerian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Telp/Fax. 021-7804386