Materi Penyuluhan

TAHAP PENGEMBANGAN KEMITRAAN CLOSED LOOP

Senin, 21 Nov 2022
Sumber Gambar :

Closed Loop adalah model kemitraan agribisnis hulu sampai hilir yang melibatkan multistakeholder dan dikembangkan dalam ekosistem yang berbasis digital, teknisk budidaya GAP, system distribusi yang baik serta jaminan pasar/harga yang bersaing oleh offtaker .Faktor kunci keberhasilan Closed Loop terletak pada sistem budidaya yang baik, pendampingan dari berbagai pihak secara intensif, kelancaran akses pembiayaan, serta adanya kepastian pasar

Untuk memulai kemitraan closed-loop di suatu daerah, diperlukan beberapa tahapan dalam memastikan terlaksananya sinergi sesuai dengan program yang telah disepakati bersama oleh para pihak, adapun tahapannya adalah sebagai berikut :

  1. Pemetaan Lahan dan Potensi Wilayah Berdasarkan Permintaan Pasar

Pada tahap pertama, dilakukan asesmen terhadap calon petani yang bersedia ikut dalam kemitraan Closed Loop. Petani yang dipilih adalah mereka yang memiliki keinginan untuk melakukan perbaikan mulai dari sistem budidaya sampai pemasaran produk panen. Selanjutnya, dilakukan registrasi lahan dari petani yang sudah diseleksi sebagai syarat awal penerapan Good Agricultural Practices (GAP).

Setelah komoditas yang akan dikembangkan ditentukan, luas wilayah proyek rintisan Closed Loop ditetapkan. Luas ini menentukan berapa jumlah produksi yang akan masuk ke off taker, sebagai pengepul produk petani. Proyek rintisan tentu tidak langsung meningkatkan skala ekonomi. Misalnya, terkait ketercapaian pengangkutan. Dalam jangka pendek, proyek rintisan perlu dikembangkan dengan menyinergikan petani di luar kemitraan Closed Loop. Pada kasus Kabupaten Garut dan Kabupaten Sukabumi, proyek rintisan kemitraan Closed Loop dimulai dengan luasan sekitar 3-5 hektare, yang melibatkan 6-12 petani. Kecilnya pengusaaan lahan untuk cabai di wilayah ini menjadi penyebab. Pemetaan lahan dan potensi wilayah berdasarkan permintaan pasar ditujukan untuk menetapkan lokasi proyek rintisan Closed Loop dan calon petani peserta.

Ada empat indikator capaian, yaitu 1) Terpilihnya komoditas dalam kemitraan closed-loop; 2) Daftar nama petani peserta kemitraan closed-loop; 3) Luas wilayah dan potensi produksi; dan 4) Registrasi lahan.

  1. Pemetaan Pemangku Kepentingan Hulu-Hilir

Langkah berikutnya untuk pengembangan kemitraan closedloop adalah menentukan para pihak yang akan berkontribusi sesuai peran masing-masing. Para stakeholders dipilih terkait dengan aspek-aspek yang menjadi bagian pengembangan komoditas hortikultura, baik di sisi on-farm maupun off-farm. Dari sisi budidaya penyedia input produksi seperti benih, pupuk, serta obat-obatan merupakan komponen dari sektor swasta yang terlibat dalam kemitraan Closed Loop

Indikator capaian: (1) Terpilihnya pihakpihak yang dapat berkontribusi dalam kemitraan closedloop. (2) Ditetapkannya komitmen dari para stakeholders dalam bentuk nota kesepahaman (MoU)

  1. Peningkatan Akses Pembiayaan dan Asuransi Pertanian

Model Closed Loop mendorong upaya penerapan teknik budidaya sesuai dengan Standard Operational Procedure (SOP) yang berlaku untuk mengimplementasikan berbagai panduan sesuai yang ditetapkan. Ketersediaan input secara tepat waktu yang dapat diakses petani menjadi titik kunci keberhasilan. Umumnya, petani hortikultura selama ini bergantung kepada para bandar (tengkulak) yang memberikan modal awal untuk dapat melakukan pengolahan lahan dan membeli input produksi. Keterbatasan modal yang dimiliki petani tersebut dapat diatasi dengan menghubungkan mereka kepada penyedia jasa keuangan, seperti bank umum (Bank Rakyat Indonesia/BRI, Bank Negara Indonesia/BNI) ataupun institusi keuangan lainnya. Berbagai program peningkatan keuangan inklusif dapat dimanfaatkan dalam pengembangan kemitraan Closed Loop, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Keterlibatan perbankan dalam kemitraan Closed Loop dapat memberikan informasi kredibilitas petani untuk memperoleh kredit.

Indikator capaian: (1) Informasi kelayakan petani mendapatkan kredit perbankan; serta (2) Komitmen dari perbankan dan pihak asuransi untuk mendukung kemitraan closedloop.

  1. Pengaturan Pola dan Diversifikasi Tanam

Pada saat melakukan identifikasi komoditas yang dikembangkan dalam kemitraan Closed Loop, pola tanam harus disusun dengan baik, menyesuaikan permintaan pasar. Penanaman komoditas harus dilakukan tidak secara bersamaan. Antar petani dalam kemitraan Closed Loop harus menyepakati pola tanam yang dimaksudkan agar panen dalam wilayah Closed Loop dapat dilakukan secara terus menerus. Salah satu persoalan kunci sektor hortikultura di Indonesia adalah panen yang terjadi secara bersamaan sehingga harga jatuh. Sebaliknya, harga naik secara signifikan pada saat produk mulai susah ditemukan di pasar. Pengaturan pola tanam harus memperhitungkan skala ekonomi dari jumlah yang diangkut ke pasar atau off taker.

Indikator capaian: (1) Identifikasi waktu dan jenis komoditas yang akan ditanam oleh petani. (2) Penentuan tanaman pendamping dalam usaha tani tumpangsari.

  1. Penerapan GAP melalui Smart Farming

Kunci dari program Closed Loop adalah peningkatan produktivitas melalui GAP serta jaminan pasar untuk produk yang dihasilkan petani. Pada lokasi kegiatan, dapat dibuat lahan percontohan (learning center), yang akan menjadi tempat para petani belajar bersama.

Pada lokasi demplot tersebut dilakukan penerapan smart farming yang akan direplikasi pada lahanlahan lain milik seluruh petani. Kegiatan ini merupakan upaya menciptakan ekosistem digital untuk meningkatkan produktivitas hortikultura.

Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan antara lain: registrasi lahan, pengujian tanah untuk mengetahui kandungan unsur hara; penyemaian benih secara tepat; pengolahan lahan dan penanaman sesuai dengan rekomendasi teknis. Untuk meminimalisir tingkat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), rekomendasi dari para penyedia input harus sudah diintegrasikan karena dapat berbeda satu sama lain.

Dalam hal ini, perguruan tinggi dan pelaku digital berperan sebagai penyedia teknologi yang akan diterapkan oleh petani dan pelaku logistik. Penerapan GAP dan smart farming bertujuan menginventarisir langkah GAP yang akan diterapkan petani.

Indikator capaian: (1) Integrasi rekomendasi teknis dari para penyedia input produksi (2) Disusunnya dasbor monitoring perkembangan tanaman dan aktivitas petani.

  1. Penguatan Kelembagaan Petani

Keberhasilan pengembangan kemitraan Closed Loop ditentukan oleh kapasitas petani sebagai pelaku utama. Untuk dapat memenuhi permintaan pasar/off taker dalam skala ekonomi tertentu, produksi harus dihasilkan dalam skala ekonomi yang cukup. Hal ini membutuhkan keseragaman dalam penerapan teknologi mulai dari penyiapan benih sampai pengangkutan hasil.

Pada tahap ini, kelembagaan yang sudah ada dapat diekskalasi ke tingkat yang lebih tinggi, sampai menjadi berbadan hukum. Sebagai contoh, jika masih dalam bentuk kelompok tani, dapat menjadi Gapoktan atau langsung menjadi Koperasi. Hasilnya, lembaga dapat melakukan kontrak formal dengan off taker. Penguatan kelembagaan petani bertujuan meningkatkan kapasitas kelompok tani.

Indikator capaian: (1) Identifikasi potensi pengembangan anggota kelembagaan. (2) Pembentukan lembaga petani yang berbadan hukum.

  1. Pengembangan Kemitraan dengan Off taker

Sebagai kunci dari keberhasilan kemitraan Closed Loop, produksi petani dapat masuk ke pasar sesuai keinginan dari off taker. Dengan terbentuknya kelembagaan petani yang berbadan hukum, maka kontrak jual-beli yang dirancang sejak awal untuk pemasaran produk dari wilayah lokasi kemitraan Closed Loop dapat dilakukan.

Pada tahap ini dilakukan persiapan dokumen yang diperlukan oleh off taker. Berbagai persyaratan mulai dari administrasi sampai ke prasarana dan sarana fisik perlu diidentifikasi dan dicarikan jalan keluarnya. Persyaratan ini berbeda untuk off taker yang berbeda.

Untuk dapat bermitra dengan off taker, petani harus memahami berbagai spesifkasi produk yang diinginkan. Petani dapat difasilitasi oleh stakeholders untuk belajar langsung dengan berkunjung ke lokasi transaksi barang milik off taker.

Tahap pengembangan kemitraan dengan off taker bertujuan mengidentifikasi berbagai persyaratan yang diperlukan agar dapat dilakukan kontrak jual-beli.

Indikator capaian: (1) Daftar dokumen yang perlu disertakan (2) Rancangan kontrak jual-beli.

  1. Pengembangan Logistik Berbasis Digital

Komoditas hortikultura sebagian besar merupakan produk perishable (mudah rusak). Untuk itu, memerlukan proses pengangkutan dari lokasi petani ke tempat off taker secara aman dan efisien. Logistik juga mencakup sarana pergudangan yang harus memenuhi standar. Proses sortasi dan grading dapat dilakukan di lokasi tersebut. Beberapa off taker juga mempersyaratkan pelaksanaan kontrak jual-beli. Lembaga petani harus memiliki fasilitas gudang yang memenuhi standar tertentu. Sistem distribusi mulai dari gudang ke lokasi off taker dapat dirancang dan diawasi melalui teknologi digital. Antara lain mencakup informasi volume, jenis, jadwal dan tujuan pengangkutan.

Dalam transportasi tersebut, berbagai moda dapat dimanfaaatkan. Salah satu pelaku yang berpotensi untuk menekan biaya pengangkutan, selain menggunakan angkutan beroda empat adalah kereta api. Untuk daerah-daerah yang sudah memiliki jalur kereta api dapat dilakukan kerjasama dengan PT Kereta Api Logistik (Kalog) Indonesia, sehingga proses transportasi barang dapat dilakukan secara lebih efisien dan tepat waktu.

Tahap pengembangan logistik berbasis digital bertujuan merancang sistem pergudangan dan transportasi yang efisien.

Indikator capaian: (1) Rancangan gudang yang memenuhi standar dari off-taker. (2) Identifikasi mitra untuk transportasi. (3) Membangun sistem informasi logistik untuk pergudangan dan pengangkutan (dHa)

 

Sumber : buku pintar kemitraan closed loop agribisnis hortikultura, kementerian coordinator bidang perekonomian

PENGUNJUNG

25766

HARI INI

105217

KEMARIN

51370790

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook