Gerbang Nasional

PERTANIAN DAN PERUBAHAN IKLIM

Jum'at, 24 Des 2021
Sumber Gambar : tanihub.com

[JAKARTA] Sektor pertanian merupakan salah satu sektor pembangkit ekonomi sekaligus pilar penyangga ketahanan pangan dan ketahanan sosial politik dan keamanan nasional. Sektor pertanian salah satu sektor yang sangat rentan (vulnerable) terhadap perubahan iklim. Dampak perubahan iklim terus mendapat perhatian masyarakat dunia. Indonesia pun siap mengambil peran dalam upaya dunia beradaptasi dengan perubahan iklim. 

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi pada agenda kegiatan Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) volume 48 yang bertemakan Pertanian dan Perubahan Iklim yang diselenggarakan Jumat (24/12/2021) di AOR BPPSDMP secara virtual, Dedi mengatakan perubahan iklim merupakan perubahan pola dan intensitas unsur iklim dalam periode waktu yang sangat panjang yang ditandai global warning.

 “Perubahan iklim berdampak pada distribusi dan produktivitas pertanian, petani dan penyuluh harus mampu dan mau mengatasi dampak perubahan iklim” jelas Dedi.

Lebih lanjut Dedi mengatakan bahwa perubahah iklim akan berdampak pada variabel pertanian seperti perubahan suhu dan kelembaban air, air yang ideal adalah air yang cukup tidak kurang dan tidak berlebih.

Narasumber MSPP Fahmuddin Agus, Peneliti utama bidang hidrologi dan konservasi tanah pada paparan materinya menjelaskan gejala perubahan iklim yang kesemuanya berpengaruh terhadap sektor pertanian yaitu peningkatan suhu global, kekeringan semakin sering, iklim ekstrem semakin ganas dan sering,perubahan pola hujan dan salju, mencairnya gletser dan permafrost (es abadi) di kutub yang selanjutnya menyebabkan meningkatnya permukaan air laut kadar garam di areal pantai.

“Gejala utama perubahan iklim adalah pemanasan global dan pemanasan global berhubungan dengan peningkatan Konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer”. jelas fahmuddin agus.

Selanjutnya Fahmuddin agus menjelaskan sejalan dengan hasil COP 26 di Glasgow, strategi pembangunan pertanian Indonesia adalah adaptasi merupakan prioritas, dengan beradaptasi diharapkan terjadi pula penurunan emisi (mitigasi) GRK sebagai co-benefit dari adaptasi.

Perlunya penguatan aksi-aksi adaptasi yang sudah ada, dan menjadikan aksi adaptasi tersebut sebagai bagian dari perencanaan dan strategi pembangunan pertanian nasional.

“Kegiatan mitigasi seperti penggunaan varietas padi rendah emisi metana dapat dilakukan, selama kegiatan tersebut tidak mengurangi produksi”. pungkas Fahmuddin Agus. -hvy-

PENGUNJUNG

56476

HARI INI

73870

KEMARIN

50762108

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook