Materi Lokalita
KALIMANTAN SELATAN > KABUPATEN TABALONG > BANUA LAWAS

PENGENDALIAN PENYAKIT BLAST PADA TANAMAN PADI

Kamis, 02 Des 2021
Sumber Gambar : Goggle

PENDAHULUAN

Penyakit tanaman merupakan salah satu faktor yang mampu mengakibatkan penurunan hasil dan mutu hasil pada tanaman pangan di Indonesia. Sebagian besar penyakit tanaman disebabkan oleh jamur yang memproduksi mikotoksin. Secara periodik penyakit tanaman mampu menyebar ke tanaman-tanaman utama kemudian merusak, merugikan dan bahkan menjadi endemik. Identifikasi jamur penting dilakukan untuk usaha pengendalian penyakit guna menunjang peningkatan produksi tanaman. Identifikasi jamur dilakukan berdasarkan gejala penyakit pada tanaman maupun pada substrat tempat kehidupannya, pertumbuhan koloni, dan ciri morfologinya menurut taksonomi yang karakteristik secara mikroskopis.Jamur merupakan penyebab penyakit terbesar (90%) pada tanaman pangan di Indonesia,, sedang 10% sisanya disebabkan oleh bakteri, virus, dan mikoplasma / fitoplasma. (WAHYUDI,2013)

PENYEBAB PENYAKIT

Penyakit blas adalah salah satu penyakit utama yang menyerang pada tanaman padi. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi cendawan Pyricularia oryzae Cavara atau cendawan Pyricularia grisea pada seluruh bagian tanaman padi, baik itu padi sawah, maupun padi gogo. Cendawan Pyricularia oryzae penyebab penyakit blas dapat menginfeksi bagian tanaman padi pada setiap tahapan pertumbuhan dengan membentuk bercak pada daun, ruas batang, leher malai, dan malai.. (Andriansyah,2013)

Penyakit blas (Pyricularia grisea) merupakan salah satu kendala dalam usaha meningkatkan produksi pada pertanaman padi gogo dan sekarang sudah menjadi kendala serius pada padi sawah. Hal ini menjadi penting artinya, terutama dengan adanya perluasan padi gogo ataupun penggunaan padi unggul yang rentan terhadap blas. Wilayah dominan penyebaran blas yang telah dilaporkan di Indonesia meliputi provinsi Jabar (1.781 ha), Sumsel (1.084 ha), Sumut (624 ha), Kalteng (395 ha), Bali dan NTB sekitar (200 ha). (Hasanuddin, 2003). Penyakit blas akhir-akhir ini juga dilaporkan menginfeksi varietas-varietas unggul baru menjelang panen dan berpotensi secara nyata akan menurunkan hasil padi dalam skala nasional.(Arya,2012)

Jamur Pyricularia oryzae dapat menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang panen. Pada fase bibit dan pertumbuhan vegetatif tanaman padi,  Pyricularia oryzae menginfeksi bagian daun dan menimbulkan gejala penyakit yang berupa bercak coklat berbentuk belah ketupat yang disebut blas daun. Pada fase pertumbuhan generatif tanaman padi, gejala penyakit blas berkembang pada tangkai/leher malai disebut blas leher. Perkembangan parah penyakit blas leher infeksinya dapat mencapai bagian gabah dan patogennya dapat terbawa gabah sebagai patogen tular benih (seed borne).

Penyakit blas leher juga sering disebut busuk leher, patah leher, tekek (jawa Tengah), kecekik (Jawa Barat). Penyakit blas juga dapat berkembang pada tanaman selain padi seperti gandum, sorgum dan spesies rumput-rumputan. Pada lingkungan yang kondusif, blas daun berkembang pesat dan kadang-kadang dapat menyebabkan kematian tanaman. Penyakit blas leher dapat menurunkan hasil secara nyata karena menyebabkan leher malai mengalami busuk atau patah sehingga proses pengisian malai terganggu dan banyak terbentuk bulir padi hampa. Gangguan penyakit  blas leher di daerah endemis sering menyebabkan tanaman padi menjadi puso, seperti yang terjadi di Lampung dan Sumatera Selatan.

Pyricularia oryzae juga dapat menyebabkan tangkai malai membusuk dan patah, penyakit ini biasa kita sebut busuk leher. Jika infeksi terjadi sebelum pengisian bulir dapat menyebabkan kehampaan bulir padi. Tidak hanya daun dan malai batang juga dapat terinfeksi sehingga batang padi membusuk dan rebah.

GEJALA PENYAKIT BLAS

Penyakit blas menyerang tanaman padi mulai dari persemaian sampai pengisian bulir padi. Cendawan P. grisea dapat membentuk bercak pada daun padi, buku batang, leher malai, cabang malai, bulir padi, dan kolar daun Bercak pada pelepah daun padi jarang ditemukan. Ukuran bercak sebesar 1-1,5 cm X 0,3-0,5 cm. Bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dengan pinggir berwarna coklat. Ukuran dan warna bercak dapat bervariasi sesuai dengan keadaan lingkungan, kerentanan tanaman dan umur bercak. Penyakit blas menimbulkan dua gejala khas, yaitu blas daun yang menyerang tanaman padi pada fase vegetatif dan blas leher yang menyerang pada awal pembungaan (Bonman, 1992). Serangan serius pada fase vegetatif dapat menyebabkan matinya tanaman padi dan pada fase generatif dapat menyebabkan patahnya leher malai dan hampanya bulir padi. (Yuliani,2014)

Bentuk khas dari bercak blas daun adalah belah ketupat dengan dua ujungnya kurang lebih runcing. Awalnya bercak berukuran kecil berwarna hijau gelap, abu-abu sedikit kebiru-biruan. Bercak ini terus membesar pada varietas yang rentan, khususnya bila dalam keadaan lembap. Bercak yang telah berkembang terlihat pada bagian tepi berwarna coklat dan bagian tengah berwarna putih keabu-abuan. Bercak yang telah berkembang penuh mencapai panjang 1–1,5 cm dan lebar 0,3–0,5 cm dengan tepi berwarna coklat

Bercak pada daun yang rentan tidak membentuk tepi yang jelas. Bercak tersebut dikelilingi oleh warna kuning pucat (halo area), terutama pada lingkungan yang kondusif seperti keadaan lembap dan ternaungi. Selain itu, perkembangan bercak juga dipengaruhi oleh kerentanan varietas dan umur bercak itu sendiri. Bercak tidak akan berkembang dan tetap seperti titik kecil pada varietas yang tahan. Hal ini disebabkan oleh proses perkembangan konidia dari cendawan P. grisea dalam jaringan inangnya terhambat. Pada lingkungan yang kondusif, bercak-bercak tersebut dapat menyatu dan menyebabkan rusaknya sebagian besar daun. Blas daun dapat menyebabkan kematian keseluruhan tanaman pada varietas rentan yang masih muda sampai stadia anakan (Yuliani,2014)

Sedangkan blas leher berupa bercak coklat kehitaman pada pangkal leher yang dapat mengakibatkan leher malai tidak mampu menopang malai dan patah karena tangkai malai membusuk. Apabila infeksi patogen Pyricularia oryzae terjadi sebelum pengisian bulir dapat menyebabkan kehampaan bulir tanaman padi. Serangan patogen blas tidak hanya pada bagian daun dan malai, namun bagian batang juga dapat terinfeksi sehingga batang padi membusuk dan rebah (Ou, 1985). Serangan Pyricularia oryzae pada kolar daun (daerah pertemuan antara helaian daun dan pelepah) menimbulkan gejala blas kolar berwarna coklat. Blas kolar yang terj adi pada daun bendera atau pada daun kedua terakhir dapat menyebabkan pengaruh yang nyata pada produksi padi (Yuliani,2014)

PENYEBARAN DAN CARA BERTAHAN HIDUP PATOGEN

Perbedaan reaksi suatu varietas terhadap blas disebabkan oleh adanya perbedaan dan perubahan ras antar lokasi dan adanya perubahan komposisi ras yang dominan di suatu wilayah sebaran. Hingga saat ini telah terdeteksi 64 ras blas, beberapa diantaranya terdapat di Sitiung (Sumatera Barat). Ras baru ini terutama ditemukan di Karang Agung (Sumatera Selatan) dan Jawa Barat. Ras-ras blas tersebut dapat menyerang varietas Lematang, Kapuas, Krueng Aceh, IR64, Cisokan dan Cisadane. Di Sitiung, ras-ras blas dapat menyerang padi gogo varietas Sentani, Tondano, Maninjau, Ranau, Arias, Bicol, dan C-22. Sedangkan varietas Semariti dan Sirendah masih mampu bertahan (Nasution et al. 1992 dalam Yuliani,2014).

Padi merupakan inang utama sebagai tempat berkembangnya jamur Pyricularia oryzae sehingga apabila tanaman padi tumbuh serempak di suatu hamparan dan sudah pernah ada gejala serangan sebelumnya maka besar kemungkinan blas ini akan segera menyebar apabila didukung oleh kelembapan dan suhu optimum yaitu antara 24º C – 28º C. (wordpess,2013)

Pyricularia oryzae  menyerap  nutrisi tanaman padi untuk memperbanyak diri dan mempertahankan hidup. Bila menyerang pada daun muda, menyebabkan proses pertumbuhan tidak normal, beberapa daun menjadi kering dan mati.  Blas pada daun banyak menyebabkan kerusakan antara fase pertumbuhan hingga fase anakan maksimum. Infeksi pada daun setelah fase anakan maksimum biasanya tidak menyebabkan kehilangan hasil yang terlalu besar, namun infeksi pada awal pertumbuhan sering menyebabkan puso terutama varietas yang rentan. Penggunaan fungisida pada fase vegetatif sangat dianjurkan apabila guna menekan tingkat intensitas serangan blas daun dan juga dapat mengurangi infeksi pada tangkai malai (blas leher).

Jamur ini berkembangbiak cepat pada tanaman padi yang berjarak tanam rapat sehingga mempunyai kelembaban yang tinggi. Kecepatan pertumbuhan jamur tersebut juga akan semakin tinggi jika pemupukan tanaman padi menggunakan urea secara berlebihan. Pemupukan unsur Nitrogen dimusim penghujan yang tinggi juga akan memicu pertumbuhan Pyricularia oryzae. Pemupukan nitrogen yang tinggi menyebabkan ketersediaan nutrisi yang ideal dan lemahnya jaringan daun, sehingga spora blas pada awal pertumbuhan dapat menginfeksi optimal dan menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi.

Penanaman padi terutama pada musim tanam rendengan/hujan haruslah ekstra hati-hati. Dengan curah hujan yang tinggi serta adanya faktor angin memicu perkembangan blas dapat meluas dengan cepat. Pengelolaan jarak tanam yang terlalu rapat juga akan mempengaruhi kecepatan perluasan penyakit ini.

Penyebaran penyakit bisa melalui benih, angin sisa tanaman padi dilapangan dan inang lainnya terutaman tanaman dari golongan graminae/ rerumputan.

PENGENDALIAN PENYAKIT

Keberhasilan pengendalian penyakit blas sangat dipengaruhi oleh kemampuan faktor lingkungan terutama iklim mikro tanaman, keseimbangan penyerapan hara dan tingkat kesuburan tanah. Kondisi lingkungan berpengaruh kepada laju perubahan ras patogen meliputi varietas tahan, musim tanam yang tepat, pemakaian pupuk seimbang dan penggunaan fungisida secara tepat. Berikut adalah beberapa cara pencegahan dan Pengendalian:

Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) pada tanaman padi .

Salah satu tujuan PTT adalah mampu menekan penurunan hasil akibat OPT(Organisme penggangu Tumbuhan) antara lain dengan jalan sebagai berikut :

  1. Penggunaan varietas tahan & pembenaman jerami

Penggunaan varietas baru yang tahan terhadap blas sangat dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas antara lain : Inpari 13, Luk ulo, Silugonggo, Batang Piaman, Inpago dll. Proses dekomposisasi jerami selain dapat berfungsi sebagai pupuk organik juga dapat membunuh miselia blas dan tidak berpotensi untuk berkembang.

Penyakit blas berupa miselia yang dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman padi, yaitu jerami dan biji sehingga sumber inokulum selalu tersedia dari satu musim ke musim tanam berikutnya. Proses dekomposisasi dapat berfungsi ganda yaitu dapat memanfaatkan jerami sebagai pupuk dan sumber inokulum di lapangan dapat berkurang. Hal lain yang dapat dilakukan yaitu dengan cara membenamkan jerami sisa panen dalam tanah, sehingga miselia dapat terbunuh dan tidak berpotensi untuk berkembang. Pembentukan jerami mengurangi sumber inakulasi awal sehingga intensitas pada fase vegetatif dan generatif dapat berkurang. Penggunaan varietas tahan dapat mengurangi peluang infeksi awal atau penghambatan penetrasi awal sehingga cenderung patogen blas tidak dapat berkembang maksimal pada tanaman. (arya,2012)

  1. Pemupukan berimbang

Penggunaan pupuk sesuai anjuran terutama pada daerah-daerah endemi penyakit blas terutama dengan penggunaan Nitrogen yang tidak berlebihan dan dengan penggunaan kalium dan phosfat, dianjurkan agar dapat mengurangi infeksi blas di lapangan. Penggunaan kalium mempertebal lapisan epidermis pada daun sehingga penetrasi spora akan terhambat dan tidak akan berkembang di lapangan.

  1. Waktu tanam yang tepat

Pengaturan waktu tanam pada saat yang bertepatan banyak embun perlu dihindari agar pertanaman terhindar dari serangan penyakit blas yang berat. Keadaan ini memerlukan data iklim spesifik dari wilayah-wilayah pertanaman padi setiap lokasi.

Perbedaan keadaan iklim dalam skala besar maupun skala kecil pada setiap wilayah, menyebabkan perlunya pengelolaan penyakit blas yang berbeda pula dalam pengendaliannya. Khusus untuk blas leher ( neck blast), kurun waktu pada saat fase padi mulai berbunga bersamaan dan terdapat banyak embun, baik pada malam, pagi dan sore hari memberi peluang berkembangnya penyakit blas leher. Pada kondisi demikian, terdapat banyak embun pada pagi dan sore hari, faktor suhu seperti 30 - 32 °C tidak berpengaruh, sehingga infeksi selalu ditemukan dengan intensitas berat. Pengaturan waktu tanam pada saat yang bertepatan banyak embun perlu dihindari agar pertanaman terhindar dari serangan penyakit blas yang berat. Keadaan ini memerlukan data iklim spesifik dari wilayah-wilayah pertanaman padi setiap lokasi.

Penggunaan Fungisida Kimia & Nabati

Fungisida Kimia

Perlakuan benih dengan fungisida sistemik mampu melindungi bibit dari serangan penyakit blas sampai pada umur 30 hari setelah tanam. Penyemprotan fungisida pada fase akhir bunting dan awal berbunga dapat menekan penyakit blas leher. Penggunaan fungisida kimia juga dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas  dengan ketentuan menggunakan Pengendalian Hama secara Terpadu dan tepat guna. Ada beberapa fungisida kimia yang bekerja secara sistemik di pasaran contoh :mikocide 70,Trycyclazole, Amistartop, Score, Delsen MX, Kuproxat, Sorento,Dense dll

Fungisida Nabati

Penggunaan bahan ekstrak nabati sebagai fungisida telah dianjurkan untuk pengendalian penyakit blas leher yaitu daun, bawang putih, daun sirih, bengkoang, kayu putih dan diyakini episien dan tidak akan mempengaruhi kestabilan lingkungan Fungisida lain yang dianjurkan berupa produk langsung jadi yang dijual dipasaran  adalah yang berbahan aktif tiofanat, fosdifen, dan kasugamisin seperti Inokulan/starter Trichoderma sp dan Gliocladium sp yang digunakan sebagai tindakan preventif pada masa vegetatif padi. 

Kiat-Kiat Pengendalian Penyakit Blas.

  1. Gunakan varietas tahan sesuai dengan sebaran ras yang ada di daerah setempat.
  2. Gunakan benih sehat.
  3. Hidarkan penggunaan pupuk nitrogen diatas dosis anjuran.
  4. Hindarkan tanam padi dengan varietas yang sama terus menerus sepanjang tahun.
  5. Sanitasi lingkungan harus intensif karena inang alternatif patogen dapat berupa rerumputan.
  6. Hindari tanam padi terlambat dari tanaman petani di sekitarnya.
  7. Pengendalian secara dini dengan perlakuan benih sangat dianjurkan untuk menyelamatkan persemaian sampai umur 30 hari setelah sebar.
  8. Penyemprotan fungisida sistemik sebaiknya 2 kali pada saat stadia tanaman anakan maksimum dan awal berbunga untuk mencegah penyakit blas daun dan blas leher terutama di daerah endemik.
  9. Hindarkan jarak tanam rapat (sebar langsung).
  10. Pemakaian kompos sebagai sumber bahan organik.

DAFTAR PUSTAKA

Andriansyah.2013. penyakit blas tanaman padi. Di unduh dari http://detiktani.blogspot.co.id/2013/06/penyakit-blas-tanaman-padi_883.html(Diakses pada 11 mei 2016)

Arya.2012. penyakit blas dan strategi pengendalian pada tanaman padi . di unduh dari http://aryasudiadnyana.blogspot.co.id/2012/06/penyakit-blas-pyricularia-grisea-dan.html (Diakses pada 11 mei 2016)

Wahyudi,R.2013. Penyaki Yang disebangkan Oleh Jamur pada padi. Di unduh dari http://www.mentari-dunia.com/2013/06/makalah-penyakit-yang-disebabkan-oleh.html (Diakses pada 11 mei 2016)

wordpress.2015. penyakit blas pada tanaman padi. Di unduh dari http://batmandeso.blogspot.co.id/2015/06/penyakit-blas-pyricularia-oryzae-cav.html (Diakses pada 11 mei 2016)

 

Penulis : Ermayasari,SP - Penyuluh WKPP Hapalah

PENGUNJUNG

47741

HARI INI

58280

KEMARIN

43278118

TOTAL
Copyright © cybext.pertanian.go.id
rss twitter facebook